Film pertama wadyabala Akademi Sinau, digunakan sebagai profil penyelenggaraan FPII di Kota Malang, tunggu Live at UIN! Film berformat DVD, behind the scene dan penampilan keseluruhan di kampus UIN Malang.
Friday, 27 April 2012
UIN Malang & Forum Penyair Internasional Indonesia: What's Poetry?
Film pertama wadyabala Akademi Sinau, digunakan sebagai profil penyelenggaraan FPII di Kota Malang, tunggu Live at UIN! Film berformat DVD, behind the scene dan penampilan keseluruhan di kampus UIN Malang.
Thursday, 5 April 2012
Puisi-Lingkungan Hidup
| Start: | Apr 9, '12 09:00a |
| Location: | kedai sinau, jalan simpang wilis, ruko retawu B6, malang 65115 |
Mbali Bloom - Cape Town
Hagar Peeters - Belanda
Bisa dibaca sebagai penyair dan kritik mereka terhadap perlakuan manusia terhadap alam.
Metode Diskusi: Berbagi tentang pengalaman merawat lingkungan binaan dan mengkonservasi alam
4 Buku 2 Hari
| Start: | Apr 8, '12 09:00a |
| End: | Apr 9, '12 10:00p |
| Location: | kedai sinau |
Wildan, dilahirkan di Kendari (Sulawesi Tenggara) 1977. Karya sajak-sajaknya sempat dimuat di majalah sastra Horison, Kumpulan puisi bersama Sinau (Komunitas Sinau), Kata diatas Roda (DKJ 2009), Empat Amanat Hujan (DKJ 2011), Kumpulan sajak Jurus Melawan Tuhan (2006, stensilan). Sekarang tinggal di Pondok Gede.
Didedah Minggu, 8 April 2012
Pukul 10.00 WIB di kedai sinau
oleh: Yusri Fajar
AKAR RIMBA
geliat tengkar rimba
akar rumput-akar rumput tantang gembala asing
gerhana atas savana
atas suasa arwah hitam
ngilu
utus siasat tarung
guguran risau
nyaring gaungnya akar rimba-akar rimba
akar rumput tebus seluruh hidup
perigi itikad doa
arti imlakan nafas segala
asam musim memerah hitam
memuncak kepundan nanah
hitungan nista
atas selaksa akbar rimba
atas sedalam marwah hitam
menebas sejak kelu usir rahasia
aksara alam makna
ambil langkah hening
2008
MAWAR
nafas sekuntum mawar resah hadapi isyarat tuanku
udara ajak kuntum meriam
mereka angkat tiarap
pilu usia anak kumbang gelisah harumnya
isyarat tentu ulurkan nadi
irama arwah hanya ada akan nafas
sebuah hari ingin ngecup putikmu
untailah halimun
naiklah harum
meski isyarat tuanku ucap petuah hantu
untuk kanak kumbang guna anakku
untuk kesekian nada abad datang
gembirakan nafas segala alam
memetik kuntum mawar reguk kata ajaib bianglala
atas seikat tangkai isyarat tuhan
naikkan nadi insan
2007
Ratna kumala, kelahiran Jakarta. Lulusan Psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang ini, senang menulis sejak sekolah dasar,
bermula dari kegemarannya membaca majalah Bobo. Belum
pernah mengirimkan tulisannya ke media cetak manapun, namun
salah satu puisinya ikut dalam kumpulan puisi Beranda Rumah
Cinta, Senja di Batas Kata (BPSM 2011). Di waktu luang senang
menulis apa saja, baginya menulis adalah ungkapan pembebebasan.
Kini tinggal di Semarang, dan aktif sebagai penulis lepas di
beberapa media on line
Didedah, Senin 9 April 2012
Pukul 15.00 WIB
Oleh Wildan Musa
SAMSARA
Menggelinjangi hari
meraba tubuh dan pangkal pahaku sendiri
melenturkan isi kepala
menopang ragu
menautkan isi lembah
Angin membuai meronce palung
menyentuh embun yang bergelayut menggantung
memburai ruang kosong dalam diri
memupuk pagi
tuk memanennya di kala senja nanti
Duhai Engkau Sang Maha Teduh
jangan biarkan aku terus rapuh
ijinkan pikiran menganyam cahayaMu
Kuatkan aku
melaju bersama gemericik waktu
untuk terlahir kembali,
menelusup ke palung bumi
sekedar mengabarkan tanah, bahwa aku ada
Nganjuk, 2012
SONETA LAUT
Jika ikhwal adalah eja
simbol itu makna
karang adalah kuasa
kata di dalam samudera
disiram dan disapu
pada laut nan membadai
Bayang tertutup kabut laut
menggelagah menjawab segala entah
mencemooh tangisan kisah
hati terturah
tumpah di sela-sela iga
O, gamang terbawa layar
seirama soneta-soneta rindu
tercarut siluet kalbu
rintih memekik luruh
bersemi di palung hatiMu
Tandus-tanduslah cinta
untuk kembali kutanami setiap aksara eja
bermekar, berpetang di sayap langit surgawi
memilin gemiricih sunyi
untuk membiru
di lautMu
Nganjuk, 2011
Widhyanto Muttaqien Ahmad, lahir dan besar
di Jakarta. Kini berdagang buku, menyeduh
kopi, dan bekerja sebagai peneliti lepas.
Didedah, Senin 9 April 2012
Pukul 19.30 WIB
Oleh Wirastho
33
hutan luka
luka sepi
di hutan gugur daun
bunyi angin jadi sajak cinta
di telinga kijang dan bunga rumput
luka sembuh
di hutan embun lumut
gerak angin jadi lukisan
pada batu dan pasir
luka buka
di kedalaman kawah
kata hati
jadi cuka
di gigir dan dasarnya
meninggi luka
jauh berjarak
di gelap hutan
dari keramaian peradaban
kuburan dosa
jadi lumpur mendera desa
kalut hutan
di keramaian
bergegas
sempoyongan bergelondong
jadi luka
yang hilang dari peta
2006
sang pen yair
Ia mati. Dan menjadi laut.
Aku berenang di kedalamannya
Menyusur ombak kata-kata dan pulau amsalnya
Ia mati. Dan menjadi kota.
Aku klayapan di jalan gelap dan terang
Dengan kakitangan yang lapar dan penyakit menular
Ia mati. Dan menjadi tanah.
Orang-orang menanamnya dan menulisi nisannya:
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(dan ia benar hidup, melampaui kematiannya tanpa menolak mati)
Ia kembali. Mempekerjakan sajak
Di negeri yang kehilangan harga diri
Aku laki-laki akan menjadi ibu yang melahirkan diri
Ia lakilaki pecinta yang tidak bisa menolak Ida
Perempuan menciptakan sajaknya yang lakilaki
Ia kembali berdiri. Dan tumpas segala luka
Bung ayo bung! Rebut kembali segala yang kita punya
Aku ingin kembali ke kuburnya. Menulis
: Dusta tidak bisa dibiarkan sehidupmati dengan kita
2011
Buku Prosa
Yusri Fajar lahir di Banyuwangi tahun 1977. Kini Menetap di Malang Jawa Timur. Pernah aktif di Dewan Kesenian Kampus Fakultas Sastra Unej sebagai pengurus harian bidang puisi. Menjadi pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2001-2003. Mulai tahun 2004 menjadi pengajar tetap di Jurusan Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang. Tahun 2003 membidani kelahiran Teater O (kini bernama Teater Lingkar) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya dan pada tahun 2007 membentuk Komunitas Mata Pena Sastra. Tahun 2007 berkesempatan mengikuti short course di Leeds. Tahun 2009 berkelana di Praha Republik Ceko dan mengikuti baca sastra di James Joyce Foundation Zurich Swiss. 2008-2010 menyelesaikan studi sastra di Universitas Bayreuth Bayern Jerman.
Didedah, Minggu, 8 April 2012
Pukul 15.00 WIB
Oleh Widhyanto Muttaqien
Friday, 16 March 2012
Thursday, 2 February 2012
Resep #29 Kopi Psychedelic
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
kampak itu menetak batubatu di kepala
ada satudua katakata terjebak dalam waktu
kita menghirup gema yang sama
terengah juga memaki sambil menghirup kopi
yang kau buatkan pahit saja
seperti hidup katamu, nyalakanlah
dan kaupun dengan ganja amat bergetah
memandang dunia begitu membosankan
aku bermimpi membuat rumah katamu
sebuah keluarga, mungkin
yang tidak terbuat dari batubatu
aku ingat malam itu
perempuanmu pergi
ia membaca tubuh lain, mungkin cuaca
dalam malam waktu berhenti
kita seperti tidak sempat bertemu pagi
mimpi berikan saja pada pendusta
Kafka, Kundera, dan Bumi Manusia, mungkin lebih
semesta kita cuma sekamar studio
sempat pula kita berutang
pada warung yang susah payah
menjual makna statiska dan hitung dagang
lupakan saja, kita mungkin tetap miskin
kau, bahagiakah
seperti ketika waktu kita tangkap
kau suka sekali bermain kampak
memotong logika yang kadung mapan
dunia lebih indah mungkin tanpa kehadiran tuhan
itukah abadimu
cinta yang tetap menjadi luka
dalam tubuhmu ada matahari
yang terus senja dan keletihan
berwarna ungu psychedelic di arah Barat
ada rahasia disana
sebuah sumber, di langit yang tidak berbatas
dan kampakmu sekali lagi menebas
satudua logika pecah
untukmu, hanya motif tersisa
mungkin ini percakapan terakhir kita
mungkin aku tidak merasa kehilangan
mungkin kau juga tidak pernah mengingatku
mungkin aku abai pada setiap batukmu
mungkin kau memang menginginkan waktu meringkusmu
mungkin sahabatmu cuma malam
ketika kampak yang kau gunakan dapat jelas terlihat
bening, dingin, dan cukup mahir mengiris prasangka
dari keyakinan tentang Us and Them, dan Neraka
mungkin aku hanya ingin menyeka sedikit debu
dari setiap sisa pertemuan kita
mungkin itu dapat menjadi kebaikan
setidaknya, aku berusaha mendapatkan gema
dari taksu yang kau punya
waktu yang kita tangkap telah lepas
aku tidak bisa menahannya lebih lama, kau juga
mungkin inilah salah satu hari yang kau tunggu
di antara harihari di Gunung Elba
kemenangan atas rasa takut
menjadi unggun perdebatan
di setiap sisigelap bulan
ada manusia cuma bicara kemanusiaan
agama, letakkan dalam lembar logika
jadi peta yang paling hening
'rest in philosophy' aku bersepakat dengan itu
sungguh, disini akupun menyerap ketenangan yang sama
meneruskan membaca, La Divina Comedia
*(di ambil dari lagu Pink Floyd, Careful with That Axe, Eugene)
Sunday, 29 January 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)