Showing posts with label ayatayatstasiun. Show all posts
Showing posts with label ayatayatstasiun. Show all posts

Tuesday, 12 June 2012

bung!

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:widhyanto muttaqien ahmad
ATAS NAMA HATI NURANI
(SAJAK-SAJAK PERLAWANAN, PERGULATAN, KESAKSIAN, DAN CINTA)

Halimi Zuhdy*)

Membaca Sajak-sajak W. Muttaqien Ahmad
Selanjutnya sampaikan simpatiku pada pra pendosa, para pemain gagah-penantang para tuannya, dan selalu bertanya apa ini semua. Apakah aku menggenapkan atau mengganjilkan, atau di sini aku Cuma untuk berkeringat, lain tidak. Setan, you aturlah! (W. Muttaqien).
Sampai pada sebuah dunia yang teramat maya, aku berani untuk percaya, yang kekal hanya cita-cita (W. Muttaqien)

Dalam kehidupan sehari-hari pengalaman-pengalaman kita memasuki atau menciptakan berbagai peristiwa tidak pernah jelas. Artinya, pengalaman-pengalaman itu tidak pernah mencapai bentuknya secara kongkret : pengalaman hampir selalu dalam kondisnya yang in abstrcto. Bagai seorang novelis atau cerpenis, membangun struktur naratif sebuah novel atau cerpen hampir sama dengan memberi bentuk pada pengalaman yang dimilikinya itu. Demikian juga penyair, menulis puisi pada hakekatnya merupakan suatu proses pemberian bentuk pengalaman itu lewat bahasa pilihannya (A. Suyuti). Oleh karena itu, mungkin ada benarnya tatkala Altenbernd mengatakan bahwa poetry as the interpretative dramatization of experience; atau Shelly yang mengatakan bahwa puisi merupakan rekaman detik-detik paling indah dalam hidup; atau Supardi Djoko Damono yang beranggapan bahwa puisi merupakan unikum atau hasil pengamatan unik seorang penyair .

Puisi-puisi W. Muttaqin Ahmad (selanjutnya WMA) menggambarkan sebuah peristiwa yang sangat kompleks, baik peristiwa batin atau peristiwa dahir, peristiwa batin yang saya maksud; adalah perenungan, releguitas, pergolakan hati dan pemikirannya. Sedangkan peristiwa dahir , seperti ketimpangan sosial, ketidakadilan, kebobrokan pemerintah dan lainnya.

Antologi puisi yang berjudul : bung! Ini adalah rekaman peristiwa yang baik oleh WMA. Bagaimana ia berkelindan dengan kata, memilih diksi yang sangat apik dalam setiap peristiwa tersebut, kata-kata biasa menjadi bermagis, sehingga membuncahkan makna yang begitu dalam, dan menghipnotis pembacanya. Seperti puisi : 2 Baris Tentang Struktur Dan Progres Atau Cuma Sebuah Kemungkinan Yang Tersisa Adalah Kerja, Suatu Terjadi Padaku Kemarin Terjadi Padamu Esok di Tempat Yang Sama, Sajak Perjalanan, Hari Besar, Kisah Nun, Jarusalem, Membaca Perang, Blues Ramadhan, Jakarta 27, Yang Mati Begitu Saja, Terlalu Tua Untuk Puisi.

“pada mulanya kata-kata dipekerjakan
kemudian ia berubah menjadi tuan”

puisi di atas, yang berjudul 2 Baris Tentang Struktur dan Progres Atau Cuma Sebuah Kemungkinan Yang Tersisa Adalah Kerja puisi yang tidak begitu panjang tapi memiliki makna yang cukup dalam, bagaimana WMA mengulahnya, menyerapnya, kemudian ia melontarkannya menjadi kekuatan tersendiri /pada mulanya kata-kata dipekerjakan/ ia mengaggap kata-kata pada awalnya sebuah kata biasa, yang diolah, kemudian disebar untuk memberikan manfaat kepada halayak, atau bagaimana kata-kata itu hanya sebagai sebuah wasilah untuk menuangkan hasrat, dan dapat memberikan konstribusi perubahan. Tapi/ kemudian ia berubah menjadi tuan/ di sinilah kekuatan puisi ini, bagaimana kata itu dituankan, bahkan di Tuhankan, kata-kata tidak lagi diperintah tapi memerintah, bahkan ia mempermudak penulisnya, bukan lagi tunduk terhadap semua misi yag ia bawa, tapi menjadi neraka dari kata-katanya, ia menuliskan kata-katanya untuk sebuah konspirasi kehinaan, ia rela melepas kehormatan demi sebuah kata-kata yang dituangkan, ia ridha menjual agamanya hanya dengan kata-kata murahan, ia menjadi binal dengan kata-kata yang tak pernah memberikan manfaat pada dirinya, kata-kata bukan lagi menuntun, tapi menjerumuskan, bukan lagi sinar tapi kegelapan.

Saya membaca, bahwa WMA memandang kata-kata sebagai alat yang memberikan kemanfaatan, bukan kata-kata yang kemudia di Tuhankan, yang pada akhirnya kata-kata menjadi sebuah musibah. Saya mengaitkan puisi WMA tadi dengan tugas puisi, puisi bukan hanya untuk puisi, tapi puisi adalah untuk perubahan. Karena Puisi tak ubahnya makhluq hidup yang kekal. Dia memiliki roh dan taqdir sendiri, kalau penyair suatu waktu meninggalkan dunia. Maka puisinya akan hidup terus sampai sejarah mengubur, dan nasib penyair menjadi tragis ketika tak sempat tahu bagaimana nasib puisinya, karena puisi belum tentu menjadi bagian dari darah dagingnya. Para penyair boleh mati, akan tetapi puisi melampaui usia penyair itu sendiri.

Muhammad Sobary, seorang kolumnis pernah meneriakkan dalam kolomnya “Sastra, Ideologi, dan Dunia Nilai”, puisi membikin lembut cita rasa hidup kita. Puisi menawarkan pilihan dan membuka peluang memperbesar watak humanis kita, dan menghargai manusia dengan harga kemanusiaannya. Saya kira puisi membantu manusia menjadi manusia.
Tapi mengapa puisi dijauhkan dari hidup kita, seolah puisi penyakit menular dalam sekali sentuh “kusta”? siapa yang menjauhkan kita dari puisi? Mengapa Menteri Pendidikan membiarkan pendidikan buruk ini berlangsung di depan kita, dan tak ada yang berteriak mengenai perlunya pendidikan kesusastraan yang memadai agar anak-anak mengerti puisi.
Mengapa penerbit-penerbit tak mau menyumbang bangsanya dengan menerbitkan puisi gratis, atau menjualnya dengan harga murah supaya warga Negara menjadi lebih pintar, lebih sensitive, lebih manusiawi?. Mengapa para banker kikirnya luar biasa terhadap warga negara baik-baik, tapi luar biasa pemurah hatinya kepada pembobol bank dan para penipu yang biasa mereka bangkrut.

Ini kemudian yang saya pahami dari Puisi WMA/“pada mulanya kata-kata dipekerjakan/kemudian ia berubah menjadi tuan” kata bukan hanya untuk memuaskan nafsu, menikmati kata, bernostalgia dengan paragraf-paragraf, menentramkan hati dan pikiran, namun lebih dari itu puisi dipergunakan sebagai alat revolusi, kemerdekaan dan perubahan. Puisi sebagai ekspresi kemerdekaan, tidak hanya cuma buat hal-hal yang menentramkan, sebab ia juga bisa muncul menggelisahkan. Gunawa Muhamamd pernah berkata, Saya tidak bisa cuma memilih hidup kreatif, tapi sementara itu tidak bersedia untuk, seperti Adam, dilemparkan dari sorga yang menentramkan ke dunia penciptaan yang resah”.
Dalam puisi yang lain :

puisi yang kau bilang omong kosong itu
campuran hati, jali, lemak usia, batuk, 40 helai uban
suatu saat, mungkin-kau baru bisa mengerti
usia puisi bergantung pada kefasihan bunyi
yang lindap diantara isi dan imaji

puisi yang kau kutuk itu
melulu Aku, masa lalu, dan sekaum asing
kata yang memang setengah mampus
untuk hidup di belantara dusta
yang samar makna dan mulanya

puisi yang kau harapkan itu
enggan datang di belukar nalar
yang alpa merasai katakata seperti
dingin garpu di piring kosongmu
yang gemetar menantang lapar

Puisi akan selalu menyisakan seribu pemaknaan dan penafsiran, ia tidak akan pernah utuh ditafsirkan karena pesona yang selalu melekat dalam kata-katanya. larik-lariknya tak tersekat oleh kebakuan bahasa, dia bebas menerbangkan sayap-sayap maknanya.

Percy Bysche Shelly seorang penyair berkata, puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling menyenangkan dari pikiran-pikiran yang paling baik dan paling menyenangkan. Rekaman perasaan dan peristiwa menjadi indah, jika untaian kata tertata menjadi rangkaian puisi, membaca puisi WMA, seperti membaca peristiwa diri dan kedirian seseorang, bahkan merekam percikan-percikan paling istimewa yang terjadi dalam diri.
sebuah pengungkapan yang tulus, memancarkan cahaya kesetiaan yang tinggi, setiap kata serasa ada kedekatan dengan pribadi-pribadi yang dituju, ia tidak hanya mengungkapkan kata, tapi mampu merahasiakannya, dan kemudian ia belai dengan kalimat-kalimat cinta yang begitu indah. Walau tak mengandung intuisi yang melejit, ia mampu memberikan tetesan-tetesan inspirasi dan evaluasi dari diri bagi pembacanya.

****
Puisi dilahirkan untuk melawan kemungkaran, kerakusan, kebobrokan, ia bukan hanya sebuah pemanis dunia, penghilang rasa penat, atau hanya sebuah sabu-sabu yang membuat pembacanya sakau, atau penulis itu sendiri terjebak dengan kata-kata yang dituliskan.

Puisi adalah kelahiran yang sempurna dari hati, pikiran dan khayal. Meskipun selalu tampak keanihan-keanihan dan penyimpangan (distorting) dari bahasa yang lazim dipergunakan, namun dengan keanihan itulah, puisi dapat membebaskan dirinya dari keakraban dan kungkungan, sehingga ia mampu menunjukkan realitas yang sebenarnya. Kelahirnya membuat rongsokan baru, suasana baru, penciptaan baru (creating) pencerahan, dan revolusi pikiran, batin dan diri.

saya sangat terkesan dengan puisi WMA yang berjudul : TERLALU TUA UNTUK PUISI
ia menggambar noda. di geligi dan sepatunya. noda yang sudah
berumur. menutupnya di bawah daun pepaya. kemudian memasaknya
bersama telur-telur berisi puisi. sebuah puisi yang cuma berisi gambar-gambar
yang mirip kepala. tubuhnya terlalu sepuh untuk melakukan perjalanan
yang mulai kadaluarsa. ia memilih bertelur saja. telurnya disiapkan untuk
sarapan. ia memasak dengan sangat lama. membumbuinya dengan uap
keringat yang telah menjadi noda di sela ketiak seorang presiden yang
selalu bangun kesiangan. waktu makan presiden sering bernyanyi.
ia menyanyi mentah saja sejak telurtelurnya lebih dulu mendalu. ia
memasak sendiri telur di wajahnya. orangorang memandangnya sampai
jatuh waktu. telurtelur gugur satusatu membatalkan diri.

ia menggendong noda di klise dan warna petang. mencari penginapan.

Ini sebuah keritik cerdas, dengan pemilihan diksi yang sangat baik, dengan andding yang baik pula. ia menggendong noda di klise dan warna petang. mencari penginapan.

Puisi sebenarnya bukan merupakan karya yang sederhana, melainkan organisme yang sangat kompleks. Puisi diciptakan dengan berbagai unsur bahasa dan estetika yang saling melengkapi, sehingga puisi terbentuk dari berbagai makna yang saling bertautan. Dengan demikian, pada hakekatnya puisi merupakan gagasan yang dibentuk dengan susunan, penegasan dan gambaran semua materi dan bagian-bagian yang menjadi komponennya dan merupakan kesatuan yang indah (Abrams). Itulah yang dilakukan oleh WMA dalam beberapa puisinya, walau dalam beberapa puisinya yang lain keterpautannya masih belum jelas, seperti puisi Peringatan, Hening, dan Permainan.

****

Membaca puisi WMA seperti berlabuh dalam samudera makna, ia tak hanya melipstik kata dengan perasaannya, bermain dengan sampul yang jelimet, berbunga-bunga pada setiap kalimatnya, tapi ia mampu memberikan kejutan, kecupan, pesona realitas kehidupan, dan tidak sulit mencuri makna dalam setiap kecupannya. seperti puisinya yang berjudul “PADAMU”
doaku sampaikah padamu
yang kupetik dari pagi
dan kudatangi lewat laku
sayangku, semakin ajal
segala terjal segala kental
kubawa padamu

ia memilih kata-kata begitu cermat, ada masa yang ia lipatkan, bagaimana ia mencintai seseorang dengan sepenuh hati, mendoakan dalam setiap seloroh, ia rela berkorban hanya atas nama kasih sayang. Dalam sajak ini, WMA lebih memadatkan makna, dari pada bermain-main dengan kata-kata, walau puisi tidak lepas dari pemilihan diksi yang lebih fantastis dan memiliki ambiguitas yang tinggi, karena semakin ambigu suatu puisi, ia semakin indah. Pemahaman keindahan sering kali, haya dilihat dari diksi saja, tanpa melihat makna yang termaktup di dalamnya, kadang kata-katanya bermutiara namun tak memiliki makna, tidak ada pesan yang disampaikan, kata-kata langit atau dandan dijadikan tujuan, bukan dijadikan alat untuk menuju pesan yang sebenarnya, sehingga menjadi puisi kosong, atau sebaliknya makna yang jelas dan benar-benar jelas, namun tidak menghiraukan diksi.

Saya tidak bisa menghakimi mana yang disebut puisi indah, puisi yang baik dan benar, tapi secara garis besar puisi itu benar-benar bisa disebut puisi kalau ia mampu memberikan makna dengan ukiran kata-kata yang indah. Kemudian apakah kata-kata yang tidak indah tidak bisa disebut puisi, belum tentu, karena ada yang mementingkan makna tanpa menghiraukan diksi, tapi ini juga bisa disebut puisi, indah dan tidak kembali pada penilaan pembaca. Biarkan puisi yang terpampang dinilai dan dihukumi oleh pembaca. Karena setiap orang memiliki alasan tersendiri untuk menyebut itu puisi. ini yang pernah saya singgung dalam tulisan Penyair Salon, sebuah judul puisi yang saya ambil dari sajak Rendra.

****
Puisi lebih dari pada karya tulis lain merupakan sebuah otentik yang mencakup banyak nilai di antara yang pokok nilai estetik dan etis. Puisi itu milik nurani manusia, maka siapapun berhak menulisnya. Tiada batas dan sekat bagi orang-orang yang ingin menuliskannya, tidak pernah pandang bulu, pandang suku dan pandang latar belakang, mereka berhak menuliskan, mengalirkan rangkaian kata-kata dengan seluruh semangat jiwa, hati dan pikiran mereka. Tukang becak, guru, siswa, buruh bahkan kyiai pun berhak mengungkapkan deraian kata dengan tetesan-tetesan tinta pada dalam lembaran-lembaran kertas. Ini yang dilakukan WMA dalam puisi-puisinya nya, ia benar-benar memainkan hati nuraninya untuk menulis kata perkata.

Seperti : 99 Sajadah, Rambut Takdirku, Sang Penyair, Dunia Itu Tuna, Dusta Dalam Kaca, Suatu Pagi Bersama Satir, Masih Ada tapi, Suatu pagi Sebuah Kerinduan, Careful With That Axe Agung, dan Hari Besar. Bukan hanya judul-judul tadi yang begitu menggoda, tapi masih banyak puisi-puisi yang lainnya, menggoda untuk semakin memperdalam maknanya.

Puisi yang ditulis dengan hati nurani, akan memancarkan seribu cahaya, memiliki arti keagungan dan dapat menyejukkan, ia akan selalu berbingkai kebenaran dalam larik-lariknya. Hati nurani adalah berita kebenaran yang kadang tidak terungkap dalam realitas, puisi, ladang mengungkapkannya, ia mampu menyiratkan makna, membersitkan makna, sehingga pembaca mampu mengambil hikmah dari kata-katanya. Islah Gusmian, mengatakan “ adakah yang lebih bening dari mata hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menegur kita tanpa kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata-hati, ketika ia menghentak kita dari ragam kesalahan dan alpa. Barangkali kata itu yang pantas untuk mewakili puisi-puisi WMA.

***
Setelah saya menulusuri lebih dalam puisi-puisi WMA kutemuai musik-musik kata, ia tidak hanya memanjakan makna, tapi mampu mengurainya dalam ritme-ritem cantik. Ada keserasian dalam kalimat, membacanya seperti mendendangkan lagu, tapi ia tidak tenggelam dengan pemujaan ritme, ia memberikan kandungan kata-kata demikian baik, sehingga kata-kata itu terbungkus rapi. Suatu ketika Gunawan Muhammad “adalah terlampau sederhana jika masalah yang dihadapi penyair hanya sebatas pada anasir penciptaan. Juga terlampau sederhana jika masalahnya sebatas pada sekedar pencarian dan penemuan sebentuk nilai artistik yang selanjutnya diekspresikan dalam verbalisasi sebuah sajak keseluruhan proses pencarian yang dilakukannya di setiap kemungkinan penciptaan”. Demikian Jassin seorang kritikus sastra Indonesia mengatakan bahwa puisi ialah pengucapan dengan perasaan…dalam puisi itu pikiran dan perasaan seolah-olah bersayap, ditambah lagi oleh syarat-syarat keindahan bahasa tinggi rendah tekanan suara (ritme). Bunyi dan lagu.
Puisi ialah pelahiran manusia seluruhnya, manusia, agung dengan pikiran dan perasaannya. Tapi, puisi menjadi hambar dan tak pernah punya taring, jika ia hanya mengungkapkan dengan kata-kata klise, berbunga-bunga, namun tak ada rasa yang kuat dalam setiap kata, puisi menjadi. Hampa!

Puisi “Purnama” dan “Membaca Perang” mungkin menjadi contoh bagaimana WMA mempermainkan perasaannya dengan untaian kata indah.
Purnama pecah
Malam terbelah
Orang-orang punah wajah

Puisi pendek ini yang paling saya suka dari puisi-puisi WMA , walau tidak panjang, saya mampu menemukan perasaannya yang menngelanyut dalam dirinya. Sedangkan puisi Membaca Perang :
yang bertempur tidak bertafakur. ia memandang padamu yang
sedarah semerah amarah. /tidak mungkin perang disebabkan cinta lalu
menghadirkannya/

semesta perang bukan semesta kerinduan. ia memandang ke
bukan cahaya. kubaca pelan-pelan dendam yang mengular/. kesumat
bersambat/
menusuk pengertian/

yang membaca cinta tidak perlu curiga./ menahan lapar mata
mencemburui si buta. hakikat cinta adalah cahaya
berpinak di hati
huruf-huruf yang saya garis bawahi, adalah permainan kata yang cantik. Dalam struktur fisik puisi kita temui istilah bunyi. Dan peranan bunyi mendapat perhatian penting dalam menentukan makna yang dihasilkan puisi, jika puisi dibaca. Ia menyangkut rima, ritma dan metrum. Walau puisi WMA tidak semuanya mengandung bunyi yang serasi, tapi sudah cukup untuk melihat bagaimana ia memainkan bunyi.
***
A Suyuti pernah berkata bahwa kreativitas seorang penyair sesungguhnya tidak terletak pada kemampuannya dalam menciptakan nilai-nilai, tetapi lebih ditentukan oleh kapasitas kemampuannya dalam menangkap berbagai gelagat dan isyarat yang terjadi di sekelilingnya sebagai peristiwa budaya; menyeleksi dan menafsirkan sesuai dnegan visinya untuk kemudian dan mengukuhkan dan mengutuhkannya dalam bentuk keindahan bahasa yang disebut sajak. Melalui karya sajaknya itulah seorang penyair mencoba berbagi nilai dengan para pembacanya, bisa kita lihat bagaimana WMA menangkap gelagat itu, dalam puisinya “Pada Sebuah Esai”, “Kita Bermusuhan Saja”, “Welly pada Suatu malam” dan puisi panjang yang merekap segala dekap adalah puisinya “Hari Besar”. Abdul Wahib, menjelaskan bagaimana puisi itu dapat dilahirkan dengan baik dan hasil yang memuaskan, menurutnya dalam proses melahirkan sebuah puisi, ada tiga faktor yang harus digaris bawahi, yakni; pikiran, perasaan dan khayal. Ketiga faktor ini bekerja sama di bawah disiplin keselarasan. Sehingga membenihkan sebuah hasil karya yang berhasil dan dapat dinikmati. Saya mendapati puisi-puisi WMA sangat disiplin dalam keselarannya, walau kadang ditemukan beberapa puisinya ketergesa-gesaan, sehingga terkesan kurang kuat dalam nada dalam hal ini feeling dan tone.

Puisi yang terangkai dari kata, kemudian kalimat, dan menjadi bait, diselingi koma dan titik agar tidak tidak terjatuh, walau kadang titik dan koma hanya sebagai pembatas, bukan sebagai tujuan. Setiap kata-kata dipilih bukan hanya untuk kata dan keindahan, tapi memiliki kekuatan yang mampu memberikan pesan, pesan yang bukan hanya pesan, tapi pesan yang sangat dalam dan bahkan menghujam. Dan setiap penyair memulai dengan tahapan-tahapan yang tidak mudah, dimulai dari tahapan preparasi, kemudian inkubasi, dan diteruskan dengan iliminasi, dan diakhiri dnegan verifikasi. Para penyair boleh mati, akan tetapi puisi melampaui usia penyair itu sendiri, ia akan menjadi sejarah keabadian, yang tidak akan lekang oleh hempasan waktu.[ ].

malam bulan/gelap memunggungimu/mencatat yang paling telanjang (WMA)



bung! oleh Wirashto
Sekumpulan sajak
Widhyanto Muttaqien Ahmad

Tak banyak yang kami kenal dari sosok Widhyanto Muttaqien Ahmad, hanya beberapa kata - kata per-telephone dan 2 – 3 pesan pendek.
Bung Widhy, sosok yang akrab dengan tulisan dan kata ilmiah maupun puitik, hal ini dapat di lihat dari sajak – sajak yang dikemasnya dalam buku kumpulan sajak – sajaknya dengan judul; Bung!

Bung!
Hanya kata, jika hanya dibaca atau di ucap
Hanya pangggilan jika didengar khususnya kaum lelaki
Sebuah kata yang mengingatkan semangat juang menuju pembebasan
Serta semangat juang yang dituliskan dengan tegas sang pujangga,….
Dan terserah penafsiran pembaca,….jika kita menerapkan prinsip permisif.

Widhyanto Muttaqien Ahmad, (WMA), selalu cerdas merefleksikan apa – apa yang disaksikan, dibaca dan disantapnya dalam kehidupan sehari – hari baik sebagai pedagang buku, peneliti lepas, sebagai seorang bapak, sebagai warga Negara, atau sebagai sebagai masyarakat yang meminggirkan diri.
Awal membaca kumpulan sajak ini saya sedikit menilai berbeda, sempat saya bertanya kenapa kok tidak diurutkan saja angka Tahunnya agar pembaca lebih mudah menikmati ritme ceritera perjalanan, lebih nyaman menikmati lompatan imajinasi dan puitika yang dibawakan, dan itu adalah normal kemauan, selera sebagai pembaca. Dan dengan santai Bung Widhy menjawab; “Tdk ada editornya, mas. He he he,….

Namun disisi yang berbeda saya melihat kejelian bawaan mungkin semacam insting seorang yang akrab dengan metodologi penulisan atau lebih tepat teknik penyajian pemikiran agar lebih mengajak pembaca memahami permasalah per pokok pemikiran tidak digiring pada berjibun pemikiran dan konsep yang nantinya membingungkan.


Sebagaimana yang kita lihat dalam buku ini mayoritas karya tahun 2011, mungkin saja, ia memiliki kelebihan energi dan emosi kreatif yang tak tertampung dalam wilayah kajian ilmiah, sehingga tertuang dengan sendirinya dalam bahasa puitik. Mungkin juga ia sengaja menampilkan demikian dan hanya memunculkan sedikit karya karyanya di tahun yang berbeda.
Keakrabannya dengan dunia sosial dan ekonomi tampak jelas kita baca dalam karya – karyanya tak sedikit wacana teori bahkan guyonan yang menggunakan diksi sosial – ekonomi.

Tak hanya wilayah social ekonomi yang ia jabarkan, ia juga berceritera nilai nilai tradisi, etik, agama bahakan cenderung pada wilayah tauhid yang masih saja diungkapkan dalam bahasa satir, lihat pada sajak;
“BLUES RAMADHAN,” 2011; diceritakannya tradisi ramadhan dan penyambutan lebaran unik, ia munculkan kebiasaaan dan berperan aktifnya aktor orang – orang miskin, ia tampilkan pencari surga yang entah keblinger atau hanya musiman kata orang jawa rog – rog asem mumpung bulan suci mumpung bulan istimewa. Ia berceritera tentang kekufuran dan dengan samar ia telanjangi kita. Ia paparkan kehidupan sehari – hari terkait ritus dan tradisi serta pelaku hanya berperan tanpa memahami makna.

“JERUSALEM,” 2006; ia tak sekedar berceritera tentang kelebihan sekelompok keturunan yang diistimewakan sekaligus mendapat sumpah yang berbeda, tak juga sekedar berceritera kisah ISA dan penyaliban, namun ia mengajak kita untuk semakin mendalam memahami nilai – nilai ke Tauhidan yang terselip atau sengaja dihadirkan Tuhan pada kisah dan peristiwa “Jerusalem”.

“99 SAJADAH,” 2009; dijabarkannya kebesaran Tuhan dan posisi diri sesungguhnya sebagai ciptaan, pelenyapan eksistensi ego, yang ada hanya pergerakan pengabdian dan penyadaran keteledoran proposal dalam format do’a yang sering kali kita lupa untuk apa dan bagimana dampak kesemrawutan jika proposal itu disetujui dan diwujudkan oleh Tuhan.


“PADAMU,” 2011, DUSTA DALAM KACA, 2006, dan sajak – sajaknya yang lain ia sampaikan dengan begitu samar.

Ia memilah kata, bahkan dengan sangat benar ia menunjukan peminjaman kata/kalimat dari pendahulu, sebagimana tradisi perujukan dalam penelitian ilmiah. Atau dengan cantik ia mempermainkan kata, kalimat ataupun teori, ia begitu lincah bermain kata dengan kode bahasa estetik postmodern, ia berparodi_ ia mereduksi ciri khas seorang pengarang atau gaya tertentu dengan maksud menyelipkan sifat homoristik bahkan absurditas. Efek humor dan absurd ini ditampilkan dengan cara mendistorsi atau membuat plesetan dari yang asli. Peniruan gaya/ciri khas seseorang ini dengan maksud mengetengahkan sifat ironis, kritis, bahkan menciptakan muatan politis serta ideologis.

Ia juga kerap memunculkan Pastiche, dalam rangka mengimitasi teks-teks masa lalu, mengangkat dan mengapresiasinya. Pastiche mengambil bentuk-bentuk teks atau bahasa estetik dari ‘semangat jamannya’.
Hal diatas dapat kita lihat dalam sajaknya;

1. “SYMPATHY FOR THE DEVIL”(tanpa tahun); begitu jujur ia mengungkap peminjaman begitu vulgar ia meminjam dan memunculkan absurditas, humor, ironi, kritik, dan menciptakan muatan politis serta ideologis.

2. “MANA” 2011; ia meminjam begitu saja sebagai pelengkap atau mungkin ia bermain puzzle dengan meminjam serpihan milik Chairil Anwar; “Tuhanku aku masih menyebut namaMu”

3. “JAKARTA 27”, 2011, ia meminjam atau bahkan mungkin sekali kebiasaannya meneliti muncul sabagai bentuk kenakalan estetik dalam sajak ini. Diambilnya “apa yang bias kulakukan tanpa yang absurd dan yang sementara” milik Gunawan Muhamad, dipungutnya juga “kalau kau mau kuterima kau kembali/untukku sendiri/tapi sedang dengan cermin aku enggan berbagai” punya Chairil Anwar, dicuplinya pula “terbangnnya burung/hanya bisa dijelaskan/dengan bahasa batu” karya


Sapardi Joko Damono, yang entah kesemua itu sebelumnya punya siapa atau karya siapa, sebagaimana yang kita tahu tak ada sesuatu yang baru dibawah matahari. Yang jelas ia berupaya berceritera pada penggalan – penggalan kisah dinamika keseharian dan kesemrawutan kota, ke alphaan kita pada sejarah bangsa, Negara, kenegarawanan, dan pencitraan seorang pemimpin yang menyebunyikan aneka emosi pada senyum sedang dibalik punggung entah apa saja yang akan dilakukannya untuk sekedar melepas “duri” dalam daging yang ia bangun untuk Rezim atau dirinya sendiri.



Thursday, 2 February 2012

Resep #29 Kopi Psychedelic

Rating:★★★★★
Category:Other
Careful with That Axe, Agung!*




kampak itu menetak batubatu di kepala

ada satudua katakata terjebak dalam waktu

kita menghirup gema yang sama

terengah juga memaki sambil menghirup kopi

yang kau buatkan pahit saja

seperti hidup katamu, nyalakanlah

dan kaupun dengan ganja amat bergetah

memandang dunia begitu membosankan

aku bermimpi membuat rumah katamu

sebuah keluarga, mungkin

yang tidak terbuat dari batubatu



aku ingat malam itu

perempuanmu pergi

ia membaca tubuh lain, mungkin cuaca

dalam malam waktu berhenti

kita seperti tidak sempat bertemu pagi

mimpi berikan saja pada pendusta

Kafka, Kundera, dan Bumi Manusia, mungkin lebih

semesta kita cuma sekamar studio

sempat pula kita berutang

pada warung yang susah payah

menjual makna statiska dan hitung dagang

lupakan saja, kita mungkin tetap miskin

kau, bahagiakah



seperti ketika waktu kita tangkap

kau suka sekali bermain kampak

memotong logika yang kadung mapan

dunia lebih indah mungkin tanpa kehadiran tuhan

itukah abadimu

cinta yang tetap menjadi luka

dalam tubuhmu ada matahari

yang terus senja dan keletihan

berwarna ungu psychedelic di arah Barat

ada rahasia disana

sebuah sumber, di langit yang tidak berbatas

dan kampakmu sekali lagi menebas

satudua logika pecah

untukmu, hanya motif tersisa



mungkin ini percakapan terakhir kita

mungkin aku tidak merasa kehilangan

mungkin kau juga tidak pernah mengingatku

mungkin aku abai pada setiap batukmu

mungkin kau memang menginginkan waktu meringkusmu

mungkin sahabatmu cuma malam

ketika kampak yang kau gunakan dapat jelas terlihat

bening, dingin, dan cukup mahir mengiris prasangka

dari keyakinan tentang Us and Them, dan Neraka

mungkin aku hanya ingin menyeka sedikit debu

dari setiap sisa pertemuan kita

mungkin itu dapat menjadi kebaikan

setidaknya, aku berusaha mendapatkan gema

dari taksu yang kau punya



waktu yang kita tangkap telah lepas

aku tidak bisa menahannya lebih lama, kau juga

mungkin inilah salah satu hari yang kau tunggu

di antara harihari di Gunung Elba

kemenangan atas rasa takut

menjadi unggun perdebatan

di setiap sisigelap bulan

ada manusia cuma bicara kemanusiaan

agama, letakkan dalam lembar logika

jadi peta yang paling hening

'rest in philosophy' aku bersepakat dengan itu

sungguh, disini akupun menyerap ketenangan yang sama

meneruskan membaca, La Divina Comedia

*(di ambil dari lagu Pink Floyd, Careful with That Axe, Eugene)

Tuesday, 14 September 2010

kopi #20 Kopi Inlander

Rating:★★
Category:Other
Seorang pecinta blues gospel yang sangat mencintai Indonesia Raya, sangat khawatir dengan kerja segenap rakyat. Mental inlader atawa bangsa jajahan belum sirna sama sekali menurutnya. Hal itu bisa dilihat langsung lewat berjalannya hukum, bagaimana masyarakat bertetanga, menjalankan usaha, menjalankan pemerintahan, sampai mengapresiasi seni. Bangsa kita melupakan keindahan menurutnya--sehingga lupa pula dengan kasih sayang antar sesama.

Dengan penuh keyakinan ia katakan, bahwa peradaban yang dibangun (baca: sivilisasi) oleh segenap rakyat (baca: masyarakat sipil) sangat bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan (menolak penjajahan). Banyak hal yang sifatnya teror, diskriminatif. Pemerintah katanya lagi, senang memeras rakyatnya. Cita-cita kesejahteraan Hatta kandas sejak lama. Bangsa ini penuh curiga dan mudah diadu domba.

Masa depan bangsa ini, lanjutnya lagi terletak pada penjajah. Dan jika pemeritah terus menyengsarakan rakyatnya. Maka bangsa inlander ini akan rindu kembali pada induk semangnya, penjajah yang menurut dia sekarang adalah: bantuan asing yang mengikat (baca: bersyarat) dan penuh muslihat. Kita makin diikat oleh aturan yang bukan kita punya, baik bidang ekonomi maupun politik.

Adakah jalan keluar. Baginya jalan keluar cuma satu. Menemukan kembali Indonesia Raya. Melihat lagi otentisitas budaya, zuhud dalam kebanggaan Nasionalisme. Yang luntur dan uzur menurutnya bukan nasionalisme. Tapi kebanggaan, percaya diri, dan solidaritas sebagai satu bangsa. Nasionalisme menurutnya terus ada dalam bentuk-bentuk yang berbeda, dan setiap orang berhak saja menafsirkan nasionalisme dengan syarat ia memang bermuara pada kejayaan (ia sebut Glory) Indonesia Raya.

Kita tidak punya akar blues, katanya lagi. Blues yang kita pahami adalah jiplakan dari Missisipi atau Belanda. Jika kita ingin mendapatkan filosofi blues khas Indonesia, mainkanlah musik negeri sendiri, yang begitu kaya dengan nuansa etnik, beragam. Bhineka Tunggal Ika adalah syair blues yang sangat dalam, begitu dalam sehingga separatisme sesungguhnya cuma disebabkan oleh kemurkaan daerah terhadap pemerintah pusat yang suka menganiaya, birokrasi yang bermental inlander. Kita sudah rusak, remuk, dan berkeping. Jika memang ajal (ini yang paling menyeramkan) maka goodbye Indonesia Raya.

Wednesday, 12 March 2008

Skenario Film Yang Insyaallah Ditolak oleh BSF

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense

"di Indonesia terdapat 75 ribu titik PSK, baik legal ataupun illegal"

more vivid than 8mm
knock 'human trafficking' out of bussiness
based on true story

Rabu, 12 Maret 2008 | 11:46 WIB

PEKANBARU, RABU- Kepolisian Resort (Polres) Pelelawan, Riau, kini sedang mengembangkan kasus perdagangan manusia dan anak di bawah umur yang diduga turut menyeret anggota DPRD pada salah satu kabupaten di Riau sebagai salah satu pengguna.

"Kami sedang mengembangkan kasus tersebut yang diduga melibatkan oknum anggota Dewan(DPRD, red) sebagai pengguna," kata Kapolres Pelelawan AKBP Gusti K Gunawa, Rabu.

Gusti Gunawa menjelaskan, Polres Pelelawan mendapat pelimpahan berkas perkara dari Polres Indragiri Hilir (Inhil) yakni satu orang tersangka yang terlibat dalam kasus perdagangan manusia dan anak di bawah umur di wilayah Tembilahan, ibukota Kabupaten Inhil, Riau karena tempat kejadian perkaranya di Pelelawan.

Berdasarkan berkas pelimpahan perkara tersebut Polres Pelelawan baru menahan satu orang tersangka yakni Nanik, pemilik kafe di di wilayah Simpang Karet, Sorek, Kabupaten Pelalawan, tempat korban dijual.

Sedangkan dua tersangka lainnya yakni Syafrizal Lubis dan Ujang masih ditahan di Polres Inhil. Kapolres menjelaskan, tersangka Nanik yang diduga menjadi mucikari akan dijerat dengan pasal 506 KUHP mengenai Menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita dan menjadikannya sebagai mata pencaharian serta dilapisi pasal perdagangan anak dalam undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Dari hasil pemeriksaan terhadap Nanik diketahui bahwa dirinya menyuruh korban melayani dua laki-laki, kami sedang mengembangkan kemungkinan apakah dari dua laki-laki tersebut salah satunya merupakan pria yang disebut-sebut anggota(DPRD, red) tersebut," kata Kapolres.

Ia menambahkan, polisi terus mencari saksi dan bukti tambahan mengenai keterlibatan anggota Dewan sebagai pengguna, karena pihaknya tidak bisa mengandalkan pengakuan sepihak dari korban.

"Kita perlu pemeriksaan saksi lainnya yang memang melihat orang yang disebut-sebut anggota Dewan itu datang ke kafe dan tidur satu kamar dengan anak itu," katanya.

Menurut dia, apabila memang ada saksi yang melihat dan bukti-bukti mengarah kesana maka akan dilakukan prosedur lanjutan yakni melapor pada Kepolisian Daerah (Polda) Riau, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, hingga akhirnya meminta izin Gubernur Rusli Zainal untuk memeriksa anggota Dewan tersebut.

"Prosedur pemanggilan anggota Dewan tersebut akan dilakukan apabila memang ada saksi dan bukti kuat. Karena itu kami akan terus mengembangkan dan tidak akan tebang pilih dalam kasus ini," katanya.

Sebelumnya, Polres Inhil berhasil menemukan Upik, nama samaran (11) siswa kelas V SD, Tembilahan yang menghilang selama sembilan hari karena menjadi korban perdagangan manusia.

Ia dijual untuk menjadi pelayan di sebuah kafe di wilayah Simpang Karet, Sorek, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Selain itu, Eka mengaku sempat melayani tamu yang datang ke kafe itu dengan menyuguhkan minuman yang dipesan oleh tamu dan menemani mereka ngobrol seraya minum bersama. Tamu anggota Dewan itu berinisial US.

Saat menemani tamu tersebut minum, Eka tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri hingga ia dibopong ke kamar oleh oknum anggota dewan itu dan baru keesokan paginya bocah perempuan itu sadar.

Saat terbangun di pagi hari, rekan kerja Eka yang usianya hampir sebaya dengannya, memberi informasi bahwa dirinya melihat US membopong Eka dan tidur di dekatnya saat pingsan.

sumber: http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.03.12.11461227&channel=&mn=2&idx=3

Fakta:
Indonesia :
• Di Indonesia sekalipun banyak gadis yang memalsukan umurnya, diperkirakan 30 persen pekerja seks komersil wanita berumur kurang dari 18 tahun. Bahkan ada beberapa yang masih berumur 10 tahun. Diperkirakan pula ada 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seks dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan tiap tahun.
• Sebagian besar dari mereka telah dipaksa masuk dalam perdagangan seks.
• Sebagai pelaku perdagangan ke luar negeri, lintas batas atau domestik dan Negara asal
• Perdagangan anak baik di lingkup domestik maupun luar negeri meningkat
• Tujuan utama anak yang diperdagangkan ke luar negeri adalah Malaysia,
Singapura, Brunei, Taiwan, Jepang dan Arab Saudi
• Pariwisata seks menjadi isu menarik di daerah tujuan wisata seperti di Bali dan
Lombok
• Terdapat banyak pelacuran di lokalisasi pelacur, karaoke, panti pijat, mal, dan
sebagainya.
• Mayoritas pelanggan adalah orang local

• Tren :
• Jumlah anak-anak yang dieksploitasi secara seksual bertambah
• Melibatkan anak-anak berumur belia
• Ada kelompok baru yang rentan (anak-anak yang tak punya tempat tinggal.
• Increase in numbers of children sexually exploited

Para pendukung peran yang bukan 'cameo'

Perdagangan anak (trafficking) kurang lebih dapat diartikan sebagai “segala bentuk tindakan dan percobaan tindakan yang melibatkan rekruitmen, transportasi, baik di dalam maupun antar negara, pembelian, penjualan, pengiriman, dan penerimaan orang (dalam hal ini anak) dengan menggunakan tipu daya, kekerasan, atau pelibatan hutang, untuk tujuan pemaksaan pekerjaan domestik, pelayanan seksual, perbudakan, buruh ijon, atau segala kondisi perbudakan lain, baik anak tersebut mendapat bayaran atau tidak, di dalam sebuah komunitas yang berbeda dengan komunitas dimana anak tersebut tinggal ketika penipuan, kekerasan, atau pelibatan hutang itu pertama kali terjadi”. Melihat besaran masalah yang sedemikian luas, bahkan nyaris tidak terukur, tentunya langkah perlindungannya pun meliputi segala bentuk pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi bagi mereka yang menjadi korban. Yang kesemuanya dapat dilakukan dengan tepat jika kita tahu persis akar permasalahannya, baik dari sisi supply maupun dari sisi demand.

Persoalan perdagangan anak, atau lebih luasnya persoalan perdagangan anak dan perempuan, di Indonesia sedang mendapat banyak sorotan akhir-akhir ini. Terutama setelah Indonesia dinyatakan menempati urutan terburuk di dunia bersama dengan beberapa negara lain di Asia dalam hal perdagangan anak dan perempuan. Bahkan beberapa lembaga donor telah memberi pernyataan akan menghentikan bantuannya jika Indonesia tidak dapat segera memperbaiki kondisi tersebut. Beberapa langkah kemudian diambil oleh Pemerintah kita, diantaranya yang saat ini tengah gencar dilakukan adalah melakukan kerjasama lintas sektor dengan LSM-LSM yang peduli terhadap masalah tersebut. Selain itu beberapa kemajuan ‘legal’ pun telah terlihat, seperti yang terakhir ini adalah disahkannya Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang di dalamnya mengatur dengan jelas tentang hak anak untuk dilindungi dari segala bentuk eksploitasi dan perdagangan, serta sanksi pidana bagi pelanggaran terhadap hak tersebut. Rencana Strategis Nasional pun telah disusun dengan Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan sebagai focal point-nya.

Bila dilihat secara aturan legal, terdapat banyak ‘jaminan’ perlindungan bagi anak dari perdagangan. Selain dalam Konvensi Hak Anak (CRC) yang telah diratifikasi oleh Indonesia, terdapat sedikitnya 4 instrumen internasional lain yang mengatur tentang trafficking atau perdagangan anak (dan perempuan), dan 4 instrumen nasional yaitu UU Kesejahteraan Anak, UU Hak Asasi Manusia, UU Perlindungan Anak, dan UU Hukum Pidana. Tetapi sekali lagi, terutama menyangkut instrumen nasional, persoalannya adalah seputar substansi, interpretasi, dan implementasi. Ditambah, hambatan yang dihadapi dalam menangani trafficking bukan hanya budaya hukum kita yang sangat tidak mendukung, tetapi juga sistem sosial dan sistem kultur kita yang masih sangat diskriminatif terhadap anak (dan perempuan).

Adopsi merupakan salah satu alternatif perlindungan bagi anak. Menyangkut adopsi terhadap anak korban perdagangan dapat dilakukan sesuai dengan mekanisme pengangkatan anak dan pengasuhan anak yang selama ini berlaku, karena prinsip dasar dari perlindungan anak adalah non-diskriminasi.

Santi Kusumaningrum, Salah seorang Pengajar pada Jurusan Kriminologi FISIP UI, Depok, Indonesia.

Sunday, 9 December 2007

SAA#3




Fashion Nation Artikel Tamu: F. Rahardi
Dapatkan di jalanan Jakarta dan Kedai Sinau

Wednesday, 10 October 2007

mengulang kelahiran?

Start:     Nov 1, '07 4:00p
End:     Nov 30, '07 10:00p
Location:     kedai sinau malang
kedai sinau berulang tahun ke-5
acara:
open house selama sebulan penuh: November
1. diskon buku di kedai sinau malang | jakarta | bogor
2. penerimaan naskah puisi dan novel debutan di kedai sinau malang | jakarta | bogor
3. launching stasiun ayat-ayat majalah sastra di kedai sinau jakarta

Monday, 24 September 2007

ayat-ayat stasiun

Start:     Sep 27, '07 6:00p
End:     Sep 27, '07 10:00p
Location:     kedaisinau jakarta
sekumpulan puisi jeda