Wednesday, 12 March 2008

Skenario Film Yang Insyaallah Ditolak oleh BSF

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense

"di Indonesia terdapat 75 ribu titik PSK, baik legal ataupun illegal"

more vivid than 8mm
knock 'human trafficking' out of bussiness
based on true story

Rabu, 12 Maret 2008 | 11:46 WIB

PEKANBARU, RABU- Kepolisian Resort (Polres) Pelelawan, Riau, kini sedang mengembangkan kasus perdagangan manusia dan anak di bawah umur yang diduga turut menyeret anggota DPRD pada salah satu kabupaten di Riau sebagai salah satu pengguna.

"Kami sedang mengembangkan kasus tersebut yang diduga melibatkan oknum anggota Dewan(DPRD, red) sebagai pengguna," kata Kapolres Pelelawan AKBP Gusti K Gunawa, Rabu.

Gusti Gunawa menjelaskan, Polres Pelelawan mendapat pelimpahan berkas perkara dari Polres Indragiri Hilir (Inhil) yakni satu orang tersangka yang terlibat dalam kasus perdagangan manusia dan anak di bawah umur di wilayah Tembilahan, ibukota Kabupaten Inhil, Riau karena tempat kejadian perkaranya di Pelelawan.

Berdasarkan berkas pelimpahan perkara tersebut Polres Pelelawan baru menahan satu orang tersangka yakni Nanik, pemilik kafe di di wilayah Simpang Karet, Sorek, Kabupaten Pelalawan, tempat korban dijual.

Sedangkan dua tersangka lainnya yakni Syafrizal Lubis dan Ujang masih ditahan di Polres Inhil. Kapolres menjelaskan, tersangka Nanik yang diduga menjadi mucikari akan dijerat dengan pasal 506 KUHP mengenai Menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita dan menjadikannya sebagai mata pencaharian serta dilapisi pasal perdagangan anak dalam undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Dari hasil pemeriksaan terhadap Nanik diketahui bahwa dirinya menyuruh korban melayani dua laki-laki, kami sedang mengembangkan kemungkinan apakah dari dua laki-laki tersebut salah satunya merupakan pria yang disebut-sebut anggota(DPRD, red) tersebut," kata Kapolres.

Ia menambahkan, polisi terus mencari saksi dan bukti tambahan mengenai keterlibatan anggota Dewan sebagai pengguna, karena pihaknya tidak bisa mengandalkan pengakuan sepihak dari korban.

"Kita perlu pemeriksaan saksi lainnya yang memang melihat orang yang disebut-sebut anggota Dewan itu datang ke kafe dan tidur satu kamar dengan anak itu," katanya.

Menurut dia, apabila memang ada saksi yang melihat dan bukti-bukti mengarah kesana maka akan dilakukan prosedur lanjutan yakni melapor pada Kepolisian Daerah (Polda) Riau, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, hingga akhirnya meminta izin Gubernur Rusli Zainal untuk memeriksa anggota Dewan tersebut.

"Prosedur pemanggilan anggota Dewan tersebut akan dilakukan apabila memang ada saksi dan bukti kuat. Karena itu kami akan terus mengembangkan dan tidak akan tebang pilih dalam kasus ini," katanya.

Sebelumnya, Polres Inhil berhasil menemukan Upik, nama samaran (11) siswa kelas V SD, Tembilahan yang menghilang selama sembilan hari karena menjadi korban perdagangan manusia.

Ia dijual untuk menjadi pelayan di sebuah kafe di wilayah Simpang Karet, Sorek, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Selain itu, Eka mengaku sempat melayani tamu yang datang ke kafe itu dengan menyuguhkan minuman yang dipesan oleh tamu dan menemani mereka ngobrol seraya minum bersama. Tamu anggota Dewan itu berinisial US.

Saat menemani tamu tersebut minum, Eka tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri hingga ia dibopong ke kamar oleh oknum anggota dewan itu dan baru keesokan paginya bocah perempuan itu sadar.

Saat terbangun di pagi hari, rekan kerja Eka yang usianya hampir sebaya dengannya, memberi informasi bahwa dirinya melihat US membopong Eka dan tidur di dekatnya saat pingsan.

sumber: http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.03.12.11461227&channel=&mn=2&idx=3

Fakta:
Indonesia :
• Di Indonesia sekalipun banyak gadis yang memalsukan umurnya, diperkirakan 30 persen pekerja seks komersil wanita berumur kurang dari 18 tahun. Bahkan ada beberapa yang masih berumur 10 tahun. Diperkirakan pula ada 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seks dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan tiap tahun.
• Sebagian besar dari mereka telah dipaksa masuk dalam perdagangan seks.
• Sebagai pelaku perdagangan ke luar negeri, lintas batas atau domestik dan Negara asal
• Perdagangan anak baik di lingkup domestik maupun luar negeri meningkat
• Tujuan utama anak yang diperdagangkan ke luar negeri adalah Malaysia,
Singapura, Brunei, Taiwan, Jepang dan Arab Saudi
• Pariwisata seks menjadi isu menarik di daerah tujuan wisata seperti di Bali dan
Lombok
• Terdapat banyak pelacuran di lokalisasi pelacur, karaoke, panti pijat, mal, dan
sebagainya.
• Mayoritas pelanggan adalah orang local

• Tren :
• Jumlah anak-anak yang dieksploitasi secara seksual bertambah
• Melibatkan anak-anak berumur belia
• Ada kelompok baru yang rentan (anak-anak yang tak punya tempat tinggal.
• Increase in numbers of children sexually exploited

Para pendukung peran yang bukan 'cameo'

Perdagangan anak (trafficking) kurang lebih dapat diartikan sebagai “segala bentuk tindakan dan percobaan tindakan yang melibatkan rekruitmen, transportasi, baik di dalam maupun antar negara, pembelian, penjualan, pengiriman, dan penerimaan orang (dalam hal ini anak) dengan menggunakan tipu daya, kekerasan, atau pelibatan hutang, untuk tujuan pemaksaan pekerjaan domestik, pelayanan seksual, perbudakan, buruh ijon, atau segala kondisi perbudakan lain, baik anak tersebut mendapat bayaran atau tidak, di dalam sebuah komunitas yang berbeda dengan komunitas dimana anak tersebut tinggal ketika penipuan, kekerasan, atau pelibatan hutang itu pertama kali terjadi”. Melihat besaran masalah yang sedemikian luas, bahkan nyaris tidak terukur, tentunya langkah perlindungannya pun meliputi segala bentuk pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi bagi mereka yang menjadi korban. Yang kesemuanya dapat dilakukan dengan tepat jika kita tahu persis akar permasalahannya, baik dari sisi supply maupun dari sisi demand.

Persoalan perdagangan anak, atau lebih luasnya persoalan perdagangan anak dan perempuan, di Indonesia sedang mendapat banyak sorotan akhir-akhir ini. Terutama setelah Indonesia dinyatakan menempati urutan terburuk di dunia bersama dengan beberapa negara lain di Asia dalam hal perdagangan anak dan perempuan. Bahkan beberapa lembaga donor telah memberi pernyataan akan menghentikan bantuannya jika Indonesia tidak dapat segera memperbaiki kondisi tersebut. Beberapa langkah kemudian diambil oleh Pemerintah kita, diantaranya yang saat ini tengah gencar dilakukan adalah melakukan kerjasama lintas sektor dengan LSM-LSM yang peduli terhadap masalah tersebut. Selain itu beberapa kemajuan ‘legal’ pun telah terlihat, seperti yang terakhir ini adalah disahkannya Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang di dalamnya mengatur dengan jelas tentang hak anak untuk dilindungi dari segala bentuk eksploitasi dan perdagangan, serta sanksi pidana bagi pelanggaran terhadap hak tersebut. Rencana Strategis Nasional pun telah disusun dengan Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan sebagai focal point-nya.

Bila dilihat secara aturan legal, terdapat banyak ‘jaminan’ perlindungan bagi anak dari perdagangan. Selain dalam Konvensi Hak Anak (CRC) yang telah diratifikasi oleh Indonesia, terdapat sedikitnya 4 instrumen internasional lain yang mengatur tentang trafficking atau perdagangan anak (dan perempuan), dan 4 instrumen nasional yaitu UU Kesejahteraan Anak, UU Hak Asasi Manusia, UU Perlindungan Anak, dan UU Hukum Pidana. Tetapi sekali lagi, terutama menyangkut instrumen nasional, persoalannya adalah seputar substansi, interpretasi, dan implementasi. Ditambah, hambatan yang dihadapi dalam menangani trafficking bukan hanya budaya hukum kita yang sangat tidak mendukung, tetapi juga sistem sosial dan sistem kultur kita yang masih sangat diskriminatif terhadap anak (dan perempuan).

Adopsi merupakan salah satu alternatif perlindungan bagi anak. Menyangkut adopsi terhadap anak korban perdagangan dapat dilakukan sesuai dengan mekanisme pengangkatan anak dan pengasuhan anak yang selama ini berlaku, karena prinsip dasar dari perlindungan anak adalah non-diskriminasi.

Santi Kusumaningrum, Salah seorang Pengajar pada Jurusan Kriminologi FISIP UI, Depok, Indonesia.

Tuesday, 11 March 2008

PEREMPUAN MENUNTUT MAKAN, NARASI DATAR YANG MENJEMUKAN DALAM PANGGUNG YANG BERISI LEBIH DARI SEPULUH MIKROFON MENGGANTUNG*

Membaca ‘Perempuan Menuntut Malam’ pada poster promo pentas monolog garapan Rieke Diah Pitaloka dan Faiza Mardzoeki, benak saya melayang pada kata ‘menyebalkan’. Tak perlu naskah tekstual yang saya perbuat ini dipahami dalam kerangka feminisme atau jendernitas yang berujung pada silang sengkarut opini perangkap. Sebab, kosa kata ‘tanggung jawab’ masih ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang lalu, kini, dan mudah-mudahan di masa datang.

‘menyebalkan’, menurut saya, karena ‘Malam’ yang tak bermakna. ‘Malam’ hambar tanpa garam pula. Saya tak bisa memahami ‘Malam’ bagaimanakah yang hendak diusung pentas teater monolog. Apakah ‘Malam’ burung hantu, atau ‘Malam’ rusa-rusa, atau ‘Malam’ ala herman—tak malam di bulan—Sutardji Calzoum Bahri, atau ‘Malam’ macam kondisi sosiologis masyarakat agraris, sub-urban, atau malah urban, mungkin pula post-urban?

‘menyebalkan’, menurut saya, karena ‘Menuntut’ pada malam. Apa yang bisa dituntut pada malam? Bila saya ucapkan ‘Menuntut’ malam adalah irasional, tentu saya mengambil posisi merendahkan naskah datar yang menjemukan. Riskan, tapi harus saya akui ‘Menuntut’ malam adalah irasional—bukan absurd; maka ‘Menuntut Malam’ adalah naskah datar yang menjemukan. Hambar.

‘menyebalkan’, menurut saya, karena ‘Perempuan’ bersanding dengan ‘Menuntut Malam’. ‘Perempuan’ apakah yang berlaku demikian? Apakah memang ‘Perempuan’ berlaku demikian? Sekali lagi, saya tidak mau masuk ke ranah teritorial kaidah feminisme atawa jendernitas yang berujung, lagi-lagi, pada silang sengkarut polemik anti atau pro yang mematikan kreatifitas.

Saya kembali membaca ‘Perempuan Menuntut Malam’. Karena ada ‘menyebalkan’ dalam batin saya, benak saya mengalirkan jawaban penyegar ibarat sekantong oksigen bagi paru-paru pasien yang bakal meninggalkan dunia rumah sakit. “Pe-rem-pu-an.” Saya suka, bahagia, bila ‘Perempuan Menuntut Malam’ diganti menjadi ‘Perempuan’. Sebab, ‘Perempuan’ itu sendiri belumlah habis makna, sekalipun Simone de Beauvoir sudah merumuskan risalah Second Sex. ‘Perempuan’, menurut saya, sudah melampaui ‘Menuntut Malam’. Kiranya, pertimbangan emosional yang saya ajukan bisa menjadi dasar bagi argumentasi alam rasional yang hendak saya majukan dalam dunia maya, dunia ide dan gagasan yang saling berinteraksi dengan polah yang ajaib.

Tak pula saya pungkiri suatu testimoni yang melegalkan judul tersebut. Reclaim the Night. 1976. 10 ribu perempuan dan anak di Roma menuntut dimusnahkan kekerasan biadab lelaki Roma kepada perempuan dan anak. Bila hendak itu yang diusung, mengapa pula tak memajukan tajuk ‘Perempuan Menolak Malam’. Bukankah ‘reclaim’ yang dimaksud berujung pada pengambilalihan otoritas? Saya tidak tahu, apakah masih ada kedangkalan di suatu negara yang sudah lebih dari 50 tahun merdeka dan sudah lebih dari 350 abad dijajah. Sebab, menuntut saya berujung pada bersuara belaka tanpa menghasilkan kesimpulan yang nyata; sedang menolak adalah pilihan politik yang harus mengalir menjadi sederetan aksi personal. Menolak, lebih tinggi dari menuntut. Adakah perempuan masih berada dalam kedudukan yang rendah, inferior, atau hina? Saya kira tidak. Di Inggris, pada abad 15 Masehi misalnya, ada Elizabeth. Di Argentina, ada Evita Peron. Di Indonesia, ada Cut Nyak Dhien, Martha Tiahahu, Butet Manurung, dan masih banyak sederet barisan perempuan yang bernaung dalam ode ‘God Save The Queen’ atau dalam bahasa populer-metaforis-mistik masyarakat jawa Ratu Adil. Saya mungkin benar, mungkin pula salah. Yang pasti, saya punya potensi keliru.  

 

Membaca ‘Perempuan Menuntut Malam’ di dalam Grha Bakti Budaya pada 8 Februari 2008, saya bertemu dengan ‘menyebalkan’. Saya tak hendak bilang, memuakkan. Dalam ucapan yang lebih santun lagi sopan—sebab, dengan kekuatan tirani yang sangat-sangat tak terpermanai suatu bangsa dari rumpun bahasa Austronesia meneriakkan klaim sebagai bangsa yang ramah-tamah lagi sopan-santun, budaya timur—saya mengucap: kecewa.

Kecewa. Dari tiga naskah yang saya baca pada panggung minimalis dengan ‘beribu’ mikrofon yang bergelantung, satu naskah saja yang memincut hati saya. Sepiring Nasi Goreng. Lainnya, politikus perempuan dan lonte adalah naskah di bawah standar yang datar, hambar, dan memalukan mengingat sejarah panjang sastra Indonesia yang saya ketahui, setidaknya berpangkal pada Armijn Pane dengan Belenggu dan Oka Rusmini dengan Tarian Bumi.

Kecewa. Dua naskah yang berkisah tentang politikus perempuan dan lonte cuma terjerembab, dan anehnya berasyik-masyuk dalam keterjerembaban. Perempuan yang menghabiskan waktu untuk menuntut dan menuntut dan menuntut. Membaca naskah yang dipentaskan pada latar belakang lima layar dengan ‘beribu’ mikrofon yang menggantung dari atap panggung yang tak kelihatan, saya merasa sedang berada di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta, atau di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, atau malah di depan Istana Negara, Jakarta. Penuh suara-suara, penuh orasi, penuh aroma penentangan, penuh nada kritik. Berganti-ganti TOA berpindah tangan, topik masih saja sama. Lantang bunyi suara yang gahar, punya kesan menuntut kemutlakan, bagi saya pribadi berujung pada keluhan emosional dari seorang yang tak bisa berbuat apa-apa. Kelantangan, hanyalah keluhan. Dan keluhan, menurut saya, bentuk paling muda dari depresi sebelum berpuncak pada kematangan ekspresi dari depresi, yakni bunuh diri.

Kecewa. Dua naskah, berkisah politikus perempuan dan lonte, cuma berkutat pada perspektif korban. Begitukah perempuan menuntut malam? Penggaungan jerit hati korban, hingga muncul sekerat belas kasihan untuk mengulurkan tangan, membantu memanggul beban. Saya pikir, ketika korban melakukan reclaim, korban mengambilalih otoritas. Korban berdiri dan bersuara sendiri. Korban tak bisa berhenti pada menuntut belaka. Menuntut bukanlah pilihan korban. Tapi sayang nian, dua naskah, berkisah politikus perempuan dan lonte, hanya mengalir menuju kubangan keluh. Tak ada sikap! Apa artinya simbolisasi Rieke Diah Pitaloka yang sedang memerankan tokoh politikus perempuan dengan tubuh terikat tambang? Meski berhasil melepaskan diri dari jeratan tambang, tetap saja tokoh politikus perempuan tak bisa ‘menghantam’ lelaki biadab yang ‘berbelas kasihan’ melepas penutup mata di awal adegan babak ke-dua. Atau lonte yang berkisah tentang legalisasi sejarah-struktural mengapa dirinya menjadi lonte. Latar biografi kehidupan lonte yang berada dibawah bayang-bayang masa lalu, masa ketika ibunya menolak pinangan orang lelaki; dan orang lelaki itu memperkosa anak ‘ibunya’. Anak ‘ibunya’ inilah yang menjadi lonte. Lonte adalah korban sejarah-struktural. Lonte bukan pilihan. Tentu naskah beda bakal maju, ketika lonte adalah pilihan. Tapi, saya pikir kisah lonte adalah pilihan hanya bisa dirasionalisasikan dengan beban ekonomi. Artinya, terjerumus pada penceritaan klasik, yang bermuara pada negara adalah pelaku kejahatan.

Sedikit kecewa. Sepiring Nasi Goreng. Naskah yang gagah meski hambar mengingat angkatan pendahulu, Armijn Pane, sudah berkisah lebih lugas dan luas dari sekadar nasi goreng. Tini, Tono, dan Rohayah. Atau, yang lebih modern sekarang (meski, sayangnya tidak menjadi tren yang perlu, menurut saya, perlu mendapat penelitian khusus:) Tarian Bumi gubahan Oka Rusmini. Satu cerita inilah yang menempati posisi kuat dalam benak saya. Ratna tidak hanya menuntut, tapi sudah menolak! Ini menjadi prestise tersendiri bagi perempuan, dan sebenarnya bukan hanya perempuan saja menurut saya. Penolakan adalah prestise tersendiri bagi individu-personal, bisa perempuan, bisa juga laki-laki. Jika menuntut adalah sikap, maka menolak adalah melampaui-sikap. Tapi, saya memilih jawaban: menuntut adalah bukan-sikap, menolak adalah sikap! Feminisme bisa jaya bila feminisme melakukan reclaim alias pengambilalihan otoritas, bukan sekadar menuntut. Patriarkhi tetap mapan selamanya bila tak ada reclaim. Reclaim bukan dengan belas kasihan, tapi dengan sikap. Sepiring Nasi Goreng menuntaskan jawaban melampaui konteks ‘Perempuan Menuntut Malam’. Sepiring Nasi Goreng sudah sampai pada judul baru ‘Perempuan Menolak Malam’.

 

Panggung yang minimalis. Panggung sederhana yang tak ada guna. Lima layar bersusun dalam pola simetris tak berperan mengunjukkan simbol yang dalam. Asimetris penataan layar, menurut saya, pilihan terbaik untuk membangun suasana penolakan. Adakah gejolak dalam simetrisitas? Yin-Yang sekalipun, menurut saya, berada pada tata kesetimbangan, keseimbangan, poise**.

Videografis yang monoton. Monotone. Mono adalah satu. Tone adalah nada. Videografis yang satu nada. Harmoni yang hilang.

Pertunjukkan yang, maaf bila saya harus mengucapkan: Gagal! Dan menurut saya, apa yang disebut minimalis bukanlah legalitas-formal bagi keberadaan estetika yang mandul. Minimalis harus mampu menawarkan kelegaan bagi mereka yang sudah mengeluarkan harga, entah berupa uang atau waktu! Minimalis yang sekadar mengusung minimalis bukanlah minimalis, melainkan penipuan. Minimalis harus menghadirkan minimalis yang punya tanda-tanya. Mungkin, karena kebodohan saya masih terlampau menumpuk dalam benak, saya tak menemukan tanda tanya dalam tata panggung minimalis ‘Perempuan Menuntut Malam’. Ataukah memang, mikrofon yang lebih dari sepuluh, yang bergelantungan di atas panggung, adalah ekspresi minimalis? Saya pikir, di dalam Grha Bakti Budaya pada 8 Maret 2008, tidak sedang menggarap sinetron dengan boomer yang tak kelihatan. Ini adalah pertaruhan saya, sebab seni tidak butuh pemakluman. Seni yang butuh pemakluman, jelas bukan seni! Seni adalah perhitungan, bagai hukum Newton yang mengoncang dunia selama berabad-abad hingga menelurkan Bernoulli dan Einstein dan Stephen Hawking.

 

Bicara akhir saya, saya tutup dengan defenisi yang berasal dari ‘LEKSIKON KRITIS DI MASA KRISIS’. Ini penting saya majukan, agar dikotomi feminisme atau patriarkhi tidak melekat pada diri saya.

Perempuan: mahluk yang setia pada kegemulaian sambil tetap menyimpan keperkasaan.

Laki-laki: mahluk yang paling tragis, cuma punya dua pilihan, 1) kalah lalu mati, atau 2) menang, dan sialnya mati pula.

Manusia: mahluk yang seharusnya berhadapan pada satu pilihan, yakni Cinta-dan-kejeniusan.

 

 

Maret 2008

 

dvd.tbg

 

 

*: Risalah ini untuk menjawab ekspresi kerendahan-hati sekaligus harapan dalam ‘Catatan Sutradara’. Karena itu, apa yang saya tuliskan dalam risalah ini adalah buah dari ketakutan saya setelah menyelami ‘Catatan Sutradara’. Dan, saya tidak meminta pemakluman dari pembaca.

 

**: poise: v.t. to balance to hold or carry in equilibrium. Also v.i., n. Word History: 14-15 C. Old French pois-, stem of peser, from Latin pensare, freq. of pandere to weigh. The original sense (to the 19C) was to wieh, both literally and in the mind. The current sense dates from the 17C -CASSEL’S DICTIONARY OF wordhistories, adrian room-

Monday, 10 March 2008

hal-hal yang saya kagumi dan kenangan masa kecil serta kecemasan tentang masa depan anak saya: buat Aji, kawan saya yang masih lajang dan meninggal mendadak dalam usia 27 tahun, tanpa sakit dan keluhan.

yang sepele itu indah.

anak saya berumur 6 bulan. dan dia bersemangat sekali memainkan kancing baju, gordyn, sendok, kerincingan, bantal, jarinya sendiri dan mulutnya yang mungil. ia tertawa dan bicara bersama kawan imajinernya.

ia eksplorasi suara. suara dari tubuhnya tat tat tat ta kalau dia senang. ca ca ca ca kalau dia marah dan ngambek karena kurang perhatian.

ia eksplorasi gerak. dan sebabnya ia senang dengan benda bergerak. seperti motor bising yang lewat depan rumah kontrakan kami.

saya lupa bagaimana saya mulai menyukai benda-benda. tapi pengalaman bersama anak saya mengingatkan saya pada kenangan masa kecil.

tentang benda-benda. bergerak dan tidak bergerak. saya ingat semua benda seolah-olah bicara dengan saya. dot, lampu, bola, boneka. saya belum paham apa itu merah, biru, ungu atau hijau. semua yang bicara membuat saya gembira.

tentang manusia. saya belum paham apa itu manusia ketika itu. yang saya kenal cuma sosok ibu.  apakah ia manusia saya tidak tahu. waktu itu seorang ibu  adalah sumber kehidupan. saya juga tidak tahu  makna sumber kehidupan, dalam bahasa bayi saya ingin mengatakan ibu sebagai tat tat tat ta. hal yang menyenangkan.

tentang ayah. saya tidak ingat sosok ayah. bahkan tidak bisa membedakannya dengan sosok ibu.  mungkin sekarang saya dapat jawabnya, puting ayah tidak ada gunanya. secara biologis saya tidak pernah membaca: apa fungsi puting bagi laki-laki seperti saya. keindahankah, masih diragukan. jika ada lelaki tanpa puting bukannya dia tidak indah, hanya berbeda, dan kita jarang sekali melihatnya.

tentang alam. yang ada disekitar saya membuat hidup bahagia. seluruhnya. yang potensial mengancam dan menyelamatkan. membuat saya bahagia.

tentang tuhan. entah kapan saya kenal tuhan. dan pekerjaan rumah sampai sekarang adalah menelusuri jejak ikatan primodial: antara saya dan tuhan. sederhananya adalah ketika saya menciptakan 'anak' dengan suka cita. menunggunya. dan ternyata, kenyataannya  dia  dipertemukan  dengan saya, saya tidak pernah menciptakannya.  tapi saya bersuka cita. dalam proses dan  hasilnya.

ketika saya mencari tuhan. adalah kebalikan dari proses 'penciptaan' anak. saya berharap saya akan bersuka cita. dikenalkan dengan benda-benda yang sepele kembali. di dunia yang baru. mencari dan bertemu adalah urusan proses dan hasil. tidak mencari dan ketemu adalah kebetulan.

kebetulan bertemu tuhan. kemarin ada beberapa kematian. ada yang bersukacita. ada yang berduka cita. mendadak mati adalah sebuah kebetulan. dirasakan mendalam bagi yang ditinggalkan. dalam setiap peristiwa kematian, saya bertemu tuhan di wajah-wajah para pelayat. sayangnya, mereka cemas. seperti menunggu giliran. menurut saya wajah tuhan itu ada karena sedih dan senang. tapi kecemasan? bukan bagian darinya. dia sama sekali tidak mirip dengan kesedihan. senang dan sedih adalah penggiliran. kecemasan diluar keduanya. bahkan dalam peristiwa pernikahan sekalipun, suasana senang terselip kecemasan. di kedua mempelai. kecemasan tidak terkatakan, dia terberitakan dalam wajah. dia tidak berbunyi. karena bunyi yang saya kenal cuma dua tat tat tat ta dan ca ca ca ca. kecemasan menyembul dari hati. dan urusan saya dengan jejak ikatan primodial saya pikir berasal dari sini. hati.

kebetulan saya bertemu kematian. saya tidak mencarinya. tapi ketemu, atau dia yang mencari saya. dan ketemu. haruskah saya cemas. tidak. karena kebetulan begitu sepele. saya ingin meyakininya seperti itu. siapa yang bisa menampik kebetulan. jika kebetulan itu sepele maka dia indah. kematian itu indah.

yang saya cemaskan. adalah tidak bertemu tuhan dengan wajahnya yang senang. tat tat tat ta. yang saya cemaskan adalah masa depan anak saya. masa depan anak saya di dunia yang dirundung kecemasan berkepanjangan. wajah dunia yang cemas terhadap kematian. wajah dunia yang mempersoalkan hal-hal yang terlalu rumit, tepatnya memperumit persoalan, menyepelekan kebetulan atau hal-hal yang tidak pernah dia ketahui tentangnya dan dia tidak pernah cari muasalnya. yang saya cemaskan adalah keindahan.

anak saya dan keindahan. yang indah adalah menjelaskan setiap hal yang indah, pada awalnya  kepada anak saya.  setiap awal adalah indah. setiap hal adalah indah.  dan  sekeliling  kita  dipenuhi keindahan yang tak terkatakan. mengapa keindahan dapat menjadi mencemaskan, apakah karena ia dekat dengan kematian karena dia berawal. atau karena dia dicari tapi tak ketemu.

pagi. kenangan masa kecil. anak saya dan masa depannya.  kesamaannya adalah kami dipertemukan. bukan karena kebetulan. tapi karena dicari dan diketemukan.

Aji, kematian dan tuhan. kesamaannya adalah kebetulan. Saya dipertemukan oleh kebetulan.
ketiganya memiliki chemistry yang sama. kimia yang begitu saja hadir, bergolak dan berkembang di diri saya, kebetulan tak tertolak. Persamaan yang mungkin sepele (belum tentu mudah).

Mungkin saya akan bertemu Anda tanpa rencana apapun (dicari dan ketemu). Dan saya tidak sedang dalam suasana senang untuk mencari pertidaksamaan/perbedaan. Jadi jangan cemas, saya tidak mengusung kematian.

widhy | sinau

Saturday, 8 March 2008

WELCOME TO INTERSEKSI.ORG

http://interseksi.org
for knowledge ang humanity

STUDI DAN AGENDA REFORMA AGRARIA ABAD 21. .. HOME

http://kursusagraria.blogspot.com

NATURE DAN CULTURE, YANG ALAMIAH DAN YANG ILMIAH

Ada yang menyebut: Transisi. Ada pula yang menyebut: Tradisi. Tapi, selalu ada kematian. Katakanlah, dua macam. Kematian Nature, yang dengan cara yang entah bagaimana--namun saya suka—saya mentransliterasikan 'nature' ke bahasa indonesia menjadi 'natur', dan Kematian Culture, masih dengan cara yang entah bagaimana, tetapi saya suka, saya mentransliterasikan 'culture' ke bahasa indonesia menjadi 'kultur'.

Katakanlah, Anda mengetahui bahwa saya punya teman. Dan, mari kita andaikan teman saya punya nama yang aneh, Tak Bernama. Teman saya, yang Anda ketahui bernama: Tak Bernama. Masih dalam terminologi 'katakanlah', suatu ketika Tak Bernama pergi ke suatu kota, kota yang ada unggulnya bila diberi nama Lahan Sementara. Sewaktu dalam perjalanan menuju Lahan Sementara, Tak Bernama singgah di sebuah rumah makan, saya menamainya: Rumah Makan K. Di Rumah Makan K, Tak Bernama singgah, bukan untuk mengunyah, melainkan sekedar melepas lelah, melemaskan paha.

Tiba-tiba, ada satu orang, lalu dua orang datang mendekati Tak Bernama. Mungkin, satu dan dua orang itu punya nama satu: Identitas. Identitas duduk di dekat Tak Bernama. Dan(!) mereka bercakap. Mereka itu, Tak Bernama dengan Identitas. Percakapan yang aneh. Percakapan yang saya tak ketahui, juga Anda ketahui. Tak Bernama berdialog dengan Identitas.

Lemas di paha Tak Bernama sudah hilang. Tak Bernama pun pergi melanjutkan perjalanan ke Lahan Sementara meninggalkan Identitas di Rumah Makan K. Uniknya, baru berapa jenak Tak Bernama melangkahkan kaki dari Rumah Makan K, Tak Bernama sudah berganti nama menjadi Tak Bernyawa. Tak Bernama tak sempat singgah di kota Lahan Sementara. Tak Bernama entah di kota mana. Saya tidak tahu. Mungkin, Anda tahu sudah dimanakah Tak Bernama, teman saya yang sudah berganti nama menjadi Tak Bernyawa ketika baru berapa jenak melangkahkan kaki dari Rumah Makan K.

Ketika Tak Bernama sudah menjadi Tak Bernyawa, Para Bukti datang bertanya pada Tak Bernama. Para Bukti, ahli sekali bertanya pada Tak Bernama yang sudah Tak Bernyawa. Para Bukti menemukan abjad-abjad di pakaian Tak Bernama. Abjad kepunyaan Identitas. Para Bukti memanggil Identitas, lalu bertanya tentang abjad-abjad kepunyaan Identitas yang ditemukan di pakaian Tak Bernama. Saya pernah mendengar ada Anda yang berkata, Identitas itu tak satu. Karena itu, Para Bukti bertemu jalan buntu. Abjad-abjad kepunyaan Identitas merupakan abjad-abjad kepunyaan Identitas yang tak satu. Para Bukti bertanya, masih kepada teman saya sekaligus teman Anda, yang bernama Ilmiah. Ilmiah hanya bisa menulis: Tidak Alamiah. Semua tersimpan dalam 'baru berapa jenak Tak Bernama melangkahkan kaki dari Rumah Makan K'. Karena itu Para Bukti mendekati kembali Identitas yang bukan satu, kemudian menyerahkan Identitas yang bukan satu kepada Pembaca Buku. Pembaca Buku menghapus 'yang bukan satu'. Identitas pun menjadi Itu. Tapi Itu juga berarti Bukan Hanya Itu. Demikian kesimpulan akhir Pembaca Buku. Bukan Hanya Itu membuat Para Bukti kembali menggali Tidak Alamiah. Ilmiah hanya bisa menulis sepucuk surat yang berisi abjad: Mungkin, ada ruang antara Alamiah dengan Ilmiah, yang aku sebut: Tak Ilmiah. Tak Ilmiah berarti Bukan Alamiah. Yang Alamiah daYang Ilmiah selalu menakjubkan. Bukan Alamiah selalu menghadirkan pertanyaan: Kenapa. Sedang Kenapa bisa berujung pada ketakutan. Maka: Keberanian harus ada untuk menaklukkan ketakutan. Transisi harus berhenti(!) dan sebagai ganti muncul Tradisi. Alamiah dan Saya.


Maret 2008

dvd.tbg

Tuesday, 4 March 2008

PENTAS TEKSTUAL KOMA PADA PANGGUNG kenapa LEONARDO?

(Tulisan Kedua dari Dua Tulisan)


Menemukan titik adalah kerja yang sangat berat. Mencari koma, lebih mudah meski tidaklah gampang pula upaya menuju ke sana.

Bulan Januari 2008, saya menulis risalah pertama yang menyoal PENTAS TEKSTUAL KOMA PADA PANGGUNG kenapa LEONARDO?. Pada Maret 2008, saya berhasil mengurai gejolak ambiguitas yang membelenggu saya: apakah saya perlu melanjutkan tulisan kedua? Saya yakin, ada orang yang mampu membaca konteks pertanyaan gejolak ambiguitas yang membelenggu saya. Dan saya menemukan jawaban, apa yang saya tulis adalah apresiasi. Dan apresiasi, menurut saya, punya dua dimensi: penyanjungan dan pengkritisan. Dan keduanya membutuhkan keberanian. Keberanian saya lahir dari ketakutan yang dibungkus selimut gejolak ambiguitas. Selanjutnya, Sidang Pembaca saya persilahkan menilai ketakutan saya melalui risalah kedua yang menyoal PENTAS TEKSTUAL KOMA PADA PANGGUNG kenapa LEONARDO?.

Menikmati ‘kenapa LEONARDO?’ adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Perjumpaan pertama saya dengan Teater Koma terjadi pada panggung ‘Kunjungan Cinta’ Klara Zakanasian ke kota tempat tinggal, kalau saya tidak salah, Ilaq Alifredi. Dari dua perjumpaan, saya menyimpulkan Teater Koma tetap berpijak pada realisme sebagai tradisi bagi Teater Koma. Entahlah, saya tidak tahu apa sebab; dan tulisan ini pun tak bermaksud menyentuh masalah begitu. Dari dua perjumpaan, tata panggung yang disuguhkan Teater Koma selalu memukau sekaligus memaku saya. Sanjungan verbal yang, mungkin saya duga, kerap kali diterima Teater Koma usai menyajikan naskah audio-visual permanen.

Menyimak tata panggung ‘kenapa LEONARDO?’ saya terpaku pada replikasi lukisan Vincent Van Gogh. Saya lupa, apakah replikasi lukisan Bunga Matahari, atau Potret Diri, atau malah lukisan ‘yang menggambarkan hamparan kuning dan burung gagak yang terbang’, atau malah lukisan ‘malam berbintang’? Selanjutnya, mata saya terpikat pada replikasi lukisan Penjaga Malam. Judul lukisan itu saya ketahui setelah membaca tulisan Radhar Panca Dahana di suatu majalah yang tentu saja Sidang Pembaca ketahui, apabila Sidang Pembaca sudah membaca tulisan Radhar Panca Dahana yang saya maksud. Suasana magis yang cukup erotis, demikian kesimpulan saya atas tata panggung realisme Teater Koma pada naskah audio-visual permanen ‘kenapa LEONARDO?’.

Namun, tata panggung ‘magis yang cukup erotis’ menghadirkan gangguan tersendiri bagi saya ketika muncul kalimat-kalimat hasil proyeksi pada replika lukisan Penjaga Malam. Saya hanya bisa menerjemahkan proyeksi tulisan tersebut sebagai catatan kaki bagi dialog yang tengah terjadi ketika itu. Lalu, mengapa tulisan itu harus diproyeksikan pada lukisan Penjaga Malam? Saya tidak dapat menggali motif paling dalam dari ‘mengapa proyeksi tulisan hadir di lukisan Penjaga Malam’. Dari sisi ruang, menurut saya, memang hanya ruang itulah yang memungkinkan untuk diberi sinar proyeksi. Tapi, jawaban atas kememadaian ruang tersebut, menurut saya, bukanlah alasan yang kuat untuk ‘menghadirkan proyeksi tulisan di lukisan Penjaga Malam’. Karena itu, saya sampai pada kesimpulan: penghargaan atas catatan kaki. Penghargaan atas catatan kaki adalah penghargaan pada mereka-mereka yang menemukan bahasa, yang bahasa temuan mereka-mereka dipergunakan pada naskah visual ‘kenapa LEONARDO?’ terjemahan Rangga Riantiarno. Dan saya menduga ini adalah bentuk kesetiaan sutradara Nano Riantiarno pada naskah; sebab Nano Riantiarno kerap mengucap ‘setia kepada naskah’. ‘Setia kepada naskah’ sebagai isi, bisa pula disetarakan dengan motif, mengambil bentuk tampilan proyeksi tulisan pada lukisan Penjaga Malam. Namun, keliaran pikiran saya membawa saya pada pemaknaan ‘setia kepada naskah’: masih menyimpan makna lain. Sebuah—menurut saya tepatnya bukan sebuah, melainkan suatu—Suatu makna yang bersifat subjektivitas-personal dari Nano Riantiarno, bahkan Teater Koma! Maka,  dalam pengertian positif: kesengajaan adalah unsur rekayasa yang berlandaskan motifasi subjektivitas-personal.

Perkara berikut, soal pemeranan. Martin, Profesor Karuso, Bu Risah, Pak Endus, Rebeka Dokter Hopman, Dokter Da Silva dan macam lainnya, terutama lima orang berpakaian hitam (kalau saya tak salah ingat) menghadirkan keunikan tersendiri. Ada peran yang pas, dan pantas. Peran yang pas, dalam pengertian saya, ditentukan oleh kapabilitas pemain peran untuk menjadi dalang atas tokoh yang sedang diperankan. Tingkat kedalangan pemeran menjadi ukuran bagi pemeran untuk menggapai peran yang pas. Saya melihat peran yang pas hadir di tokoh Profesor Karuso, Bu Risah, sedikit Martin, Dokter Hopman. Sebagai tambahan, justifikasi saya atas peran yang pas berlandaskan kapabilitas penilaian saya pribadi yang bersifat subjektif. Pernyataan saya ini berfungsi untuk mengeliminasi pandangan bahwa saya berpendapat pemeran lain tidak punya tingkat kedalangan yang mumpuni atau apa pun. Saya tegaskan, penilaian saya murni berlandaskan subjektifitas.

Soal peran yang pantas, saya lihat hadir di dalam tokoh Dokter Da Silva, Cornelia Agatha. Saya sadar, kemampuan berperan saya pasti jauh lebih rendah dari Cornelia Agatha. Pernyataan saya bukanlah majas perendahan diri demi menaikkan mutu. Pernyataan saya murni karena saya memang tidak bisa peran. Cornelia Agatha memerankan Dokter Da Silva sebagai peran yang pantas. Peran yang pantas, menurut saya, adalah kerja pemeran yang tidak terlalu menunjukkan tingkat kedalangan pemeran. Dan saya menyimpulkan Cornelia Agatha menempati posisi peran yang pantas karena karakteristik yang sangat mungkin bagi Cornelia Agatha adalah menempati posisi antagonis; meski Dokter Da Silva tidak seutuhnya bersifat antagonis dikarenakan pada bagian menjelang akhir, anti klimaks, Dokter Da Silva mengambil tindakan mengangkat libido ala Freudian untuk mengakhiri regresi Martin, meski upaya itu akhirnya berujung pada kematian Dokter Da Silva di samurai Martin. Sebagai Dokter Da Silva yang berkarakter ketus, tegas, ambisius, jantan, menurut saya Cornelia Agatha memang patut. Melihat dan mendengar Cornelia Agatha di panggung kenapa LEONARDO? rasanya saya masih melihat dan mendengar Cornelia Agatha di keseharian. Keseharian yang saya maksud bukanlah keseharian Cornelia Agatha, sebab saya sama sekali tak pernah berkenalan dan Cornelia Agatha pun pasti, saya yakin, tidak mengetahui dan mengenal saya. Keseharian yang saya maksud adalah keseharian duplikasi dari media televisi. Karena itu, saya mengajukan maaf kepada Cornelia Agatha karena saya menilai Cornelia Agatha sebagai Cornelia Agatha yang saya kenal dari media televisi, pada acara-acara yang beraroma ruang privat. Mendengar dan melihat Cornelia Agatha memerankan Dokter Da Silva, hadir perasaan di dalam batin saya yang menyamakan apa yang saya lihat dan dengan dari Dokter Da Silva adalah Cornelia Agatha yang pernah saya kenal melalui media televisi. Ada kesamaan karakter Cornelia Agatha dengan Dokter Da Silva. Ketika sampai pada kesimpulan ‘Ada kesamaan karakter Cornelia Agatha dengan Dokter Da Silva’, saya menilai Cornelia Agatha ada pada posisi peran yang pantas. Dan, perlu saya bakukan batasan: peran yang pantas bukan harga mati bagi seorang pemeran; begitu pula dengan peran yang pas juga bukan harga mati bagi seorang pemeran. Sebab: koma selalu ‘setia kepada naskah’.

Satu hal tersisa dari seluruh persoalan PENTAS TEKSTUAL KOMA PADA PANGGUNG kenapa LEONARDO? adalah komedi. Rentang waktu pementasan yang mencapai empat jam, kalau saya tidak keliru, tentu memerlukan kelihaian mengolah komedi sebagai stabilator denyut konsentrasi penonton. ‘kenapa LEONARDO?’ pada naskah audio-visual permanen Teater Koma menurut saya, bukan gagal menyajikan komedi. Pada panggung masih hadir komedi. Namun, komedi tersebut tidaklah optimal. ‘Komedi tersebut tidak optimal’ adalah subjektifitas saya belaka. Sebab, ‘setia pada naskah’ adalah yang utama. Naskah Evald Flisar, menurut saya, memang tidak menghadirkan ekspresi komedi yang bisa saya kategorikan ‘lebih’. Dan apa yang dilakukan Evald Flisar dalam hal ini tidak salah, sebab Evald Flisar pasti punya motifasi sendiri mengapa ekspresi komedi tidak berkategori ‘lebih’. Tentu, kajian motif Evald Flisar bukanlah bertempat pada risalah ini. Sekadar mengutip, dalam esai PERKENALAN, Evald Flisar menulis: Saya dengan hormat mengemukakan bahwa bumbu utamanya adalah aliran rasa sakit yang terpendam. Rasa sakit yang pahit, menggigit, yang membikin orang tertawa. Dan kemudian, pada akhirnya, membuat orang bergidik. Sebagai peringkas makna pada alinea ini, saya menyimpulkan komedi dalam ‘Kunjungan Cinta’ lebih dari komedi dari ‘kenapa LEONARDO?’.

Penyelesai bagi risalah ini ada pada cara membaca risalah ini. Risalah ini adalah apresiasi, yang mengandung kebertautan dua unsur, sanjungan dan kritikan. Sanjungan berujung pada kegembiraan orang-orang yang terlibat pada pementasan naskah ‘kenapa LEONARDO?’ pada panggung Grha Bhakti Budaya atas apa yang saya tuliskan. ‘Orang-orang yang terlibat’ bisa juga merujuk pada orang-orang yang sudah menjadi bagian dari Teater Koma. Sedang kritikan bisa berujung pada kebencian orang-orang yang terlibat pada pementasan naskah ‘kenapa LEONARDO?’ pada panggung Grha Bhakti Budaya atas apa yang saya tuliskan. ‘Orang-orang yang terlibat’ bisa juga merujuk pada orang-orang yang sudah menjadi bagian dari Teater Koma. Jujur, saya tidak mengharapkan kebencian. Tapi, saya sadar: saya tidak bisa menghindar dari kebencian yang timbul dikarenakan kehadiran kritik yang saya tuliskan dalam risalah ini memang punya potensi menghadirkan kebencian. Pada koma yang begini, saya sajikan seutuhnya apa yang sudah saya tuliskan dalam risalah ini ke hadapan Sidang Pembaca. Dan segalanya bakal mencapai akhir yang indah ketika Sidang Pembaca menggunakan ‘cara membaca’ yang tepat atas risalah ini. Sebab, selalu ada ‘setia kepada naskah’! Dan saya berani mengucap: Salut kepada Teater Koma!


Maret 2008
dvd.tbg