Monday, 11 February 2008

matinya perempuan dalam sebuah bus, sebuah kereta diesel dan listrik, dan revolusi yang belum selesai

ada yang mengatakan banyak lelaki di jakarta yang gentlemen
namun belum satupun yang rela memberikan tempat duduknya untuk perempuan

perempuan mati di dalam angkutan publik
juga anaknya

jepang, meksiko, kolumbia, arab saudi berusaha  menghidupkan perempuan dan anak-anak. dengan alasan yang berbeda. kebanyakan karena  perempuan merasa terteror dengan kekerasan seksual yang dialami selama perjalanan di dalam angkutan publik. ada juga dengan alasan agama, laki-laki dan perempuan sebaiknya dipisahkan, karena berkecenderungan saling tersentuh, tergesek, terpegang, teremas. atau dengan sengaja disentuh, digesek, dipegang, diremas.

suatu hari di krl jabotabek. setiap hari di krl jabotabek. setiap waktu di dalam bus kota. wangi sampoo harus ditimpali dengan gurauan tentang hubungan seks. rok pendek ditimpali dengan mata yang tidak berkedip. pinggul dan dada satu-satunya tujuan untuk memulai hari bagi sebagian laki-laki. yang berjilbab juga  tak luput.  seks. seks. seks.

represi seks pada laki-laki menyebabkan kekerasan dan agresi. laki-laki yang berwajah birokrasi dan konvensi adalah mahluk lemah, rawan, dan manipulatif. hadir dan ada dalam angkutan umum.

revolusi yang belum selesai. karena kreativitas tumpul. karena laki-laki terlalu lemah untuk melakukan revolusi dan perempuan terlalu tabah. sedangkan anak-anak cuma punya dua pilihan, menjadi laki-laki atau perempuan.

widhy |sinau

launching antologi sajak: SINAU




bertempat di warung buku Pustaka Rakyat, Dinoyo-Malang
8 Februari 2008
buku antologi sajak berjudul SINAU dilaunching

buku bisa didapatkan di kedai sinau jakarta | malang | bogor

mimpi-mimpi yang kemudian disebut rumah yang tidak pernah tidur




# bulan sepotong semangka

udara menggigil. ketika
bulan tepat di seberang kedai tak berpengunjung
karena sudah setengah gaji. setengah
hidup. menahan setengah bulan
untuk setengah mati. berusaha tidak beku rasa panas mata
cukup nasi di lemari pendingin. biar tidak basi
lauk yang bisa dipanaskan besok pagi
atau matikan saja selera

seperti pertama kali bulan menggetarkan udara. dengan
lingkaran pelangi di sekitarnya. bagai
santa. bercengkerama di kebun yang penuh pohon buah
pikirannya memenuhi udara. tidak cukup
untuk dimengerti. saat udara
sesak. seperti masa kanak-kanak yang kembali. mengangguk
terpesona kepada bayangan

tajuk dibuat untuk memantulkan cahayanya
setelah setengah bulan menunggu
disaat udara masih leluasa. menggeser
angin ke arah barat atau timur
dengan upacara sederhana
yang disajikan oleh kekerasan waktu. fiksi
dan ode yang diceritakan kembali. dianiaya
tak terduga. tak dipercaya walau darah mengalir nyata
di lembaran-lembaran laporan. cerita mulut ke mulut.
pelataran kebun buah tempat pesta. dan
cermin kamar mandi kusam penuh goresan

luka yang tidak membuat jera
sepotong demi sepotong bulan dimakan
udara tidak pernah tersia-sia. dibagi
berbagi perasaan. bukan
untuk sekarang. genderang ditabuh cepat
dan nyaring dengan sesuatu yang dipercaya. cuma
dirasakan. seperti kematian
bahkan seperti kehidupan sebenarnya. bukan
tentang pelajaran kehidupan
yang cuma sepenggal kebajikan tertunda pelaksanaannya
sepenggal lagi disisakan waktu
untuk masa depan
jika pengorbanan sampai pada bentuk yang sempurna

namun bulan masih setengah semangka
sebelumnya sabit. berteman
dengan rumput, bintang, atau atap masjid
setengah lagi terlempar. di depan
kedai. sekarang
tepat di seberang
telah menjadi pucat
udara kembali menggigil
mengingat masa lalu. kemudian
waktu menghitung mundur
sampai setengah mendekati nol

membeku udara di pesta Bulan Sepotong Semangka

# namun hidup terlanjur berarti

1.
waktuku tak banyak
aku menyerah
bukan berarti kalah
pisaumu dedahkan mimpi dan surat cinta
dari sahabat yang membabi saja
butaku belum apa-apa
belum amien

2.
namun hidup terlanjur berarti
adakah pesona lain kecuali musim yang tunduk
tengadah menatap kemungkinan pada mata langit
mungkin sesekali liar tak terkejar
tapi tak mengapa
kita masih punya lupa
hidup ini terlanjur berarti
walau hanya mengembara tangan kita kuasa memberi

# yang membuat seisi pertemuan cemburu

yang membuat seisi pertemuan cemburu
penanda tidak pernah salah
waktu menjadikannya lambang
yang berawal di keinginan aksara
untuk memulai percakapan
buat ramai bikin megah

yang membuat seisi pertemuan cemburu
percakapan soliter
ketika bebas dan jauh
mencari titik beku perasaan
sebelum dan sesudahnya arah sudah ditetapkan
seperti mencari bagian yang hilang dalam sebuah lukisan
padahal hanya keanehan yang belum bisa dimengerti
sebuah penanda
selalu berakhir seru

yang membuat seisi pertemuan cemburu
rendez vous bunga
merah berbunga
semua tanda lebur didalamnya
pengetahuan
perguruan
gincu

kaukah itu
akhir riwayatku

# setiap yang datang adalah orang yang tepat

terima kasih #1
untuk tidak merasa iba
bersikap sesuai dengan apa yang dipercaya ada
walau hati berdentam berbunyi gentar
warnanya sepucat buku putih itu

malam nanti
mari pergi
mencari tempat lain untuk bercakap-cakap
disini kita seperti orang gila
berteman suara ketikan

mulai pagi
ingatlah di dingin dinding ada mata
di cangkir kopi ada telinga
membaca kata-kata yang pingsan
ketika berbaris di kuning kertas pesan
(siang ini ada kemeriahan di kamar besuk)

terima kasih #2

untuk kepercayaan yang diberikan
kita telah bertukar darah bertukar catatan
bukanlah sebuah kejahatan memiliki ketakutan
untuk hidup dalam gelap

ketakutan jenis itu adalah kekuatan yang membuat iri ilmuwan
api dimatamu menebas gelap
menghidupkan mahluk rekaan yang menghuni otak
jika berkenan ajaklah aku berpetualang

jadi pencuri atau penyelundup
karena masih banyak yang tidak mampu
masuk ke dalam kelas seperti kita
karena salah asuhan atau salah baca
(ada yang mangkir namun tetap tersenyum)


terima kasih #3

saatnya main di kebun belakang
kita tanam rumput
ia hidup paling awal dan mati paling akhir
cocok untuk menyemai kata-kata yang akan kita jadikan cerita

ketika hari itu datang
sungguh aku senang
sebab bukan kekalahan seperti yang diberitakan
aku cuma berpindah ruangan

jika kau bersetia
lunasi utangku
bukan karena bangkrut tapi karena terlanjur berjanji
buku kita nanti bersampul oranye saja
(sebab senja adalah niscaya)

2006



# jalan, warna, dan gairah kota yang pasang surut

1.
pada sebuah pagi. berkaca kecemasan
dusta persetubuhan. dalam kota terlampau kasar
kelopakmu kubakar pelan-pelan. tertunduk lesu
sampai isyarat. gairah menguncup

2.
percakapan seperti kemarin. terlampau jenuh
penuh keinginan. sementara setiap orang
mengejar kesepian. mencabuti bunga-bunga
di puncak. jerit-menjerit
bahagia. karena kau terus asing

3.
di bibir selalu sungging. merah dingin
setiap kali seringai. kelabu sepi
mengadu gaduh. kuning rock n roll
kehilangan. warna yang diinginkan
setiap keharuan. seperti salah perlakuan
cinta yang berbeda. kembali tak jadi datang
kota seperti bingung. kehilangan ramuan

4.
di sebuah kedai yang sama sekali tidak seperti bar. sayup-sayup penonton tak beranjak
menanti kematian. dirinya sendiri sebagai aktor
dari panggung yang hilang berahi. berhenti bertualang

5.
sebuah kota selalu muda. lebih baik demikian
cuma keteguhan bunyi. mencari sudut tampil
seperti syair rolling stone. dimana-mana cinta
untuk mengingatmu. yang kehilangan objeknya
melahirkan kembali. akal sehat dan asesorisnya
metamorfosa sunyi. serta kebaikan tertentu
yang lepas kendali. kota terlampau dibakar cemburu


2006-2007


Friday, 8 February 2008

bedah buku puisi antologi sajak

Start:     Feb 8, '08 8:00p
End:     Feb 8, '08 11:00p
Location:     Pustaka Rakyat, jl. MT Haryono, depan FIA Univ. Brawijaya
antologi sajak dari penerbit sinau

Sunday, 3 February 2008

tas belanja

Rating:★★★★
Category:Other
tas belanja bisa didapatkan gratis dengan pembelian diatas Rp. 200.000,- saja
atau dengan hanya Rp. 10.000,-

material:
bahan kerah, warna dasar putih

kaos edisi personal




cek di kedai sinau
malang | jakarta | bogor

harga satuan Rp. 60.000

pemesanan: echa 08561153835

Friday, 1 February 2008

sensor

oleh: GM

Kami, sejumlah juru sensor, duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang waswas.

Kami tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Tuhan, (meskipun kami tak tahu ke arah mana semestinya), dengan mata gundah: tidakkah Ia terlampau optimistis tentang manusia ketika Ia memutuskan untuk menciptakan makhluk yang merepotkan ini? Tidakkah Tuhan lalai menduga bahwa manusia akan menyebarkan kejorokan di muka bumi?

Kami, para juru sensor, sungguh khawatir. Memang Tuhan pernah mengatakan kekhawatiran itu tak berdasar. ”Aku tahu apa yang kalian tak tahu”, kata-Nya. Tapi kami tetap tak percaya manusia akan berfiil baik, berakhlak tinggi, dan berjiwa kuat. Bagi kami, manusia pasti akan mudah tergoda syahwat dan kemudian mencandu seks. Manusia, terutama yang muda-muda, pasti akan terhanyut tenggelam oleh arus hal ihwal yang erotis. Tentu, ini baru dugaan, tapi lebih baik kami siaga.

Sebab kami, para juru sensor, sebenarnya tak ikhlas ketika Tuhan memberi begitu besar kemerdekaan kepada Adam + Hawa beserta keturunannya. Kami mendengarkan baik-baik kata Allah, tapi kami tersenyum kecut ketika mendengar beberapa kalimat dalam Al-Baqarah bahwa Ia mengangkat manusia sebagai ”khalifah”-Nya di bumi.

Sebab, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin makhluk yang lemah ini—yang kadang-kadang memandang dengan berahi sebuah foto Happy Salma atau berpikir cabul tentang Tom Cruise—bisa diandalkan sebagai wakil-Nya? Bagaimana mungkin kita harus merayakan kedaulatan manusia?

Hati kami menampik. Manusia tak bisa dipercaya. Tentu, kami, para juru sensor, para alim ulama dan pengkhotbah moral, juga manusia. Tapi rasanya kami lain: bahan kami mungkin lempung yang lebih unggul. Jangan-jangan malah kami diciptakan dengan campuran api. Kami memang oknum luar biasa. Buktinya: kami telah dipilih Pemerintah Republik Indonesia sebagai sekelompok kecil yang tentu tak akan tergoda bila menonton, misalnya, adegan malam pengantin baru dalam film Berbagi Suami.

Sebab kami tak sembarangan. Kami yakin bahwa orang yang bukan kami, mereka yang bukan juru sensor, akan rusak bila melihatnya. Kalau tidak rusak, pasti bingung, atau salah paham. Kasihan, ’kan? Karena orang-orang di luar gedung lembaga yang luhur ini belum sematang kami. Mereka belum terdidik. Mereka lemah iman, suka melamun, bolos ibadah, penuh dosa, dan, maaf, bodoh-bodoh. Mereka harus dilindungi.

Lagi pula mereka tak butuh kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka tonton, tak perlu kemerdekaan untuk berpikir sendiri dan mengutarakan pendapat. Kebebasan itu kemewahan. Atau dikatakan secara lain: kemerdekaan itu harus ada batasnya.

Kami tahu, mereka tak tahu mana batasnya. Sebab itulah kami yang akan bikin rambu-rambu. Bagaimana cara kami membikin, dan apakah rambu-rambu itu adil dan dapat dipertanggungjawabkan—ah, sudahlah, tak perlu dibicarakan. Pokoknya, inilah tugas kami.

Ini tugas yang mulia, sebagaimana mutu diri kami yang mulia. Kami menjaga manusia Indonesia dari pelbagai bahaya yang mengancam mereka—dari bahaya masturbasi sampai dengan bahaya aborsi, dari bahaya film biru sampai dengan koran kuning. Bukankah ada seorang tua yang mengatakan, (dan seperti lazimnya orang tua, mengatakannya berkali-kali), kita sekarang sedang diserbu ”gerakan syahwat merdeka”?

Tentu, sinyalemen itu menggelikan. Sebab sebenarnya tak ada ”gerakan”, tak ada aktivitas yang terarah dan terorganisir. Yang terjadi adalah dinamika kapitalisme: ketika ekonomi pasar mulai bangkit, tampak celah-celah untuk memasarkan hal-hal yang terkait ”syahwat”. Tapi jika kata ”gerakan” dipakai, itu cuma bagian dari sebuah bualan—sebuah siasat retorika untuk membuat orang dag-dig-dug. Sedikit menyesatkan tak apa-apa, asal tujuan tercapai.

Namun ada ”gerakan” atau tidak, lebih baik kami mendahului: kami harus tegakkan benteng. Lebih baik kami awas, sejak awal.

Sebab manusia terlampau lembek. Harus kami katakan, Tuhan salah. Tuhan terlalu optimistis. Itu juga yang diutarakan Sang Pengusut Agung dalam satu bagian novel Dostoyewski yang termasyhur itu, Karamazov Bersaudara.

Dalam cerita ini, kardinal di Sevilla, Spanyol, yang berusia 90 tahun, dengan bengis dan yakin menangkap orang yang dituduh murtad, mengusut imannya sampai sejauh-jauhnya, dan membakarnya hidup-hidup. Tiap hari, api unggun tampak di mana-mana. Orang ketakutan, sampai akhirnya Yesus sendiri turun kembali ke bumi untuk membebaskan mereka.

Tapi sang Kardinal tak gentar. Ia juga tak menyesal. Malah ia berani bicara agresif kepada Tuhan: ”Apa yang Paduka telah tawarkan kepada manusia? Apa yang dapat Paduka tawarkan? Kebebasan? Manusia tak dapat menerimanya. Manusia butuh hukum-hukum, sebuah tata yang mapan yang terperi untuk seterusnya, yang akan menolongnya membedakan yang sejati dan yang palsu….”

Membangkangkah dia? Bukankah Sang Pengusut melakukan semuanya untuk menyelamatkan dunia? Jawabnya ”ya” dan ”tidak”.

Dalam Kitab Suci, ada cerita bahwa Iblis, yang merasa tak terbuat dari lempung, melainkan dari api, menampik untuk mengikuti Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia. Dengan demikian bisa dikatakan, sang Pengusut Agung tak tampak berbeda dari Iblis. Tapi apa salahnya? Kami bukan Iblis, namun kami juga sepakat dengan sikapnya yang memandang manusia sebagai makhluk yang tak dapat diandalkan. Sebab itulah kami ada: manusia harus dijaga, dilindungi, diawasi, diatur, dikekang….

Dunia mencemaskan. Dunia dan manusia gampang berdosa dan najis. Mencatat semua itu memang bisa sama dengan meragukan, layakkah Tuhan diberi ucapan terima kasih dan kita bersyukur. Para juru sensor, yang duduk di ruangan gelap seperti seregu malaikat yang berwajah suram, tahu apa jawabnya.

Majalah Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari - 03 Februari 2008

sumber: http://caping.wordpress.com