Saturday, 30 December 2006

resep #2

Rating:★★★★
Category:Other
Hijrah itu seperti naik angkutan umum, kita menyetopnya dan bergerak ke tempat tujuan.
Urusan ada rintangan di jalan, adalah urusan belakangan. Yang utama adalah bergerak.

Kata-kata itu datang dari penjual kopi di sekitar stasiun Jatinegara. Betapa sulitnya untuk meninggalkan ‘kebiasaan lama’, berlaku buruk dan merugikan masyarakat. Betapa sulitnya. Di komunitas manapun baik yang kita sebut penjahat, maupun yang kita sebut orang baik, atau mediocre (yang penting hidup-makan, tidur, beranak pinak dan mati-soal prinsip tergantung selera pasar (bayangkan bahkan ada yang menghambakan dirinya pada negara) norma tetap ada. Dan norma selalu mengikat. Bahkan dalam komunitas punk yang melabelkan dirinya anarkipun ada norma-jangan membuat norma bagi orang lain- lakukan itu sebagai kewajiban bagi dirimu sendiri. Punk ternyata luar biasa, begitu penuh spritual. Entah punkers disini, itu saya dapat dari bacaan lama yang terselip di loakan yang dulu adalah bagian dari hidup saya—Haec demikian pedagang kopi itu bercerita.

Kopi bagi dia adalah melatih kesabaran dengan melayani, walaupun terkadang sulit juga melepaskan ego. Bahwa aku bukan pelayan, tapi pedagang. Ehm, tapi ternyata menjadi pedagang itu adalah pelayan. Puji Tuhan. Melayani bukan tugas ulama atau pendeta, namun juga setiap manusia.

Melepaskan diri dari norma lama yang begitu berkerak bukan main sulitnya. Dan ternyata begitu mudahnya ketika kita tidak lagi berpikir untuk takut. Takut ditinggal kawan, takut tidak dapat tempat di komunitas yang baru. Namun ternyata takut itu terbantah oleh ketentuan gerak. Bergerak adalah melawan takut. Jika ada yang bergerak menuju takut sesungguhnya ia tidak bergerak. Namun membayangkan dirinya sedang bergerak dan mengkhayalkan hal-hal yang mungkin menimpa dirinya. Sementara ketentuan bergerak adalah dunia nyata dan sekarang.

Hijrah akhirnya berurusan dengan menghilangkan takut. Rasa takut yang manusiawi itu, setelah hijrah akan ada lagi, tentu dengan bayangan takut yang lain. Tapi kita sudah naik kelas satu tingkat. Dan ternyata begitu lewat dari rasa takut pertama, kita ketagihan untuk melewati rasa takut kedua. Dulu saya menyebutnya sebagai menguji adrenalin. Sekarang saya cuma mengatakan inilah hidup-resep kopi yang bertujuan-bergerak dari rasa takut.

widhy | sinau



resep #1

Rating:★★★★
Category:Other
Sebut saja Haqi Baqi, ada yang istimewa dari kopi buatannya, kopi itu tersedia untuk siapa saja kapan saja dirumahnya. Minum kopi sambil mendengar cerita. Ya, mendengarkan. Cuma mendengarkan. Dari sumpah serapah, pinjam utang, dan bicara proyek. Di teras rumahnya, kopi dari berbagai daerah bisa terhidang. Menjamu tamu adalah mengundang rejeki, entah dibalas kapan dan oleh siapa. Kopi, biasanya jadi hidangan utama. Kopi seduh campuran keikhlasan dan rasa optimis. Sulit sekali menirukannya. Keihklasan yang tidak tangung-tanggung, jangan berprasangka terhadap siapapun. Itu senjatanya. Sekaligus doa.

Kehidupan yang diselubungi prasangka ternyata memang cuma melukai diri sendiri, sebelum ia sempat melukai orang lain. Prasangka, lebih cepat dari cahaya, lebih berbahaya dari senjata. Dalam pergaulan prasangka adalah lonceng kematian. Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan Haqi Baqi tentang resep kopinya.

Sementara optimisme bagian dari racikan rahasia, sederhana saja. Pasrah setelah optimal berusaha. Tidak ada kebaikan yang lebih baik dari usaha. Gagal dan sukses adalah hasil yang bukan cuma satu pihak penentunya. Ada banyak orang yang membantu kita secara langsung dan tak langsung. Dalam seluruh aktivitas. Sedangkan usaha dan kerja adalah latihan untuk menguji setiap kemungkinan dan meningkatkan keahlian. Kerja kelompok dan soliter sama saja. Dalam kerja soliterpun secara tak langsungpun ada yang membantu kita. Karena pada dasarnya setiap transaksi adalah menyelesaikan persoalan atau pekerjaan yang kita tidak bisa kerjakan sendiri. Transaksi adalah ruang sosial, hubungan antar manusia. Bahkan ilmu ekonomi kontemporerpun dan ahli antropologi menjelaskan kesuksesan ekonomi sebuah bangsa dengan satu kata; kepercayaan. Jika ini terbangun maka modal ekonomi lain seperti finansial akan tercapai. Bukankah kepercayaan teraduk kental dalam racikan kopi tanpa prasangka dan sikap optimis.

widhy | sinau

Monday, 18 December 2006

tiga cerita

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:wm. ahmad
tak ada yang baru!
dari buku terbitan pustaka sinau ini, uniknya semua berkenaan dengan kebetulan! Mulai dari ide penerbitan sampai waktu penerbitan. Terimakasih untuk menjadikan buku ini sebagai langkah pertama penerbitan sinau. Terimakasih untuk waktu yang belum mengizinkan naskah lain terbit, terimakasih untuk semua yang bergegas, yang pupus dan yang menjadi masa depan, semuanya seakan seperti pemula, seperti dalam sajak pemula di kumpulan puisi ini,

***
pemula

Laut menatapmu seperti dirinya tumbuh dalam dirimu
Rupamu seperti rumah
Isinya melulu kesunyian yang membuat bahagia
Lalu suara-suara asing
Seperti biola saat pertama kali diketemukan
Dan gelombang yang penasaran pecah di batu karang
Suaranya cipratan cat yang dikuas teratur
Itukah kesederhanaan perasaan
Semuanya seakan seperti pemula

***

Buku ini lebih cocok jadi suvenir perkawinan dibandingkan jika dijual bebas, norak dan narcist. Bagaimana tidak, wong yang membuat buku dan menulis resensi ini adalah penulisnya sendiri.

Btw, kalau dijual harganya cuma 12.000 rupiah saja.

Katalog Dalam Terbitan (KDT) Perpustakaan Nasional RI

w.m. ahmad
tiga cerita
November 2006
ISBN 979-15449-0-5

60 halaman, 13.5 x 13,5 cm


1. tiga cerita 2. Puisi, Sastra 3. Indonesia
Judul



Cetakan pertama, November 2006

Penulis: w.m. ahmad
Rancang sampul: henricus ferdiansyah


Diterbitkan oleh:
kedai buku | sinau
jl. Bekasi Timur 1, No. 32A
Jakarta 13350
e-mail: kedai_sinau@yahoo.com





Sunday, 17 December 2006

benang magenta




berdua kita menatap laut
langit magenta mulai menetes
menggaris kelambu udara
kupakaikan pada tubuhmu
(jemarimu menganyam benang pemberian langit yang seusia dengan kita sore itu)

berdua kita menenggelamkan laut
dalam gulungan kertas
yang diikat benang magenta
tegak meski telah kuyup
(masih ada ruang tertutup tak lelah dimasuki doa yang barusan lahir setelah
peristiwa laki-laki dan perempuan ingin jadi sempurna)

Photo Album 2006-12-18

Wednesday, 6 December 2006

iseng: profil pengunjung versi penjaga



Hampir tiga tahun ini saya bekerja untuk kedai. Tentu saja sebagai pegawai. Saya ingat pada saat pertama kali saya ke kedai, waktu itu saya masih berstatus sebagi siswa SMA. Di sinau saya bertemu dengan banyak mahasiswa yang suka baca buku. Awal itulah yang membuat saya terjungkal pada belantara wacana pemikiran manusia tentang dunia. Pengaruh orang-orang dan para pendatang kedai inilah yang membuat saya belajar untuk mencintai buku. Dari pembeli akhirnya jadi penjual dan samapi saat ini pun begitu.
Interaksi yang terjadi pengunjung banyak memberi pengalamn yang unik pada diri saya, mulai dari peristiwa tragis sampai humoris. Mulai dari pembeli yang memborong buku banyak sampai kami disamperin maling. Bahkan sampai hal-hal yang bersifat subyektif seperti dapat sahabat baru, jaringan baru, dan mungkin pacar baru.
Para pembeli maupun yang hanya berkunjung saja ini dari berbagai kalangan. Mulai kalangan atas—yang mungkin nyasar, sampai kalangan nglesot—paling bawah, bahkan orang gila pun pernah. Mereka datang biasanya karena penasaran ini perpustakaan atau bukan dan tidak sedikit yang mengatakan sinau ini tempat yang unik walaupun begitu komentar kekurangannya lebih banyak, maklum pencitraan kedai sebagai toko buku kesannya memang kurang.
Setiap kedai buka ada saja anak SMA yang datang ke kedai—kebetulan tempatnya memang dekat SMA—setiap saya tanya kenapa mereka jam sembilan pagi sudah disini. Tentu saja memang mereka mbolos, kadang saya juga kurang nyaman dengan tindakan mereka juga. Tapi apa mau dikata mereka ke sinau juga baca buku dan kadang mereka membeli buku. Bukankah mereka disini juga belajar? Jangan kuatir saya tetap tegas ke mereka jika terlalu sering, kaitannya lebih pada nama baik Kedai Sinau.
Jika anda cangkruk pada sekitar jam tiga sore ke bawah di sinau. Anda akan dapat tontonan gratis model-model baju anak remaja khususnya cewek. Dengan tubuh bahenolnya mereka melintasi sinau dan tentu saja mengundang kejantanan kami untuk sesekali mensiuli. Jadi lokasi kedai memang berada tepat di jalur lalu lintas sebuah Mall yang berada di barat sinau. Sayangnya mereka tidak pernah masuk kedai, oh ya saya ingat salah satu dari mereka pernah masuk kedai untuk menanyakan: “Mas, jual pulsa?”
Kalo menurut data dan pengamatan saya yang datang kedai mayoritas tetap mahasiswa. Lebih spesifiknya mahasiswa yang senang baca buku serius. Bagaimana tidak la wong yang jaga sinau mukanya serius he..2.Anak-anak muda yang dengan seabreg wacananya kadang berdiskusi bareng dengan saya atau dengan teman-teman lain yang datang. Untuk acara puncaknya kami diskusi rutin setiap hari rabu malam alias malam kamis jam tujuh malam. Layaknya diskusi lain selalu berganti peserta tapi untungnya diskusi ini tetap bertahan. Ini juga berkat salah satu teman yang tetap konsisten datang membantu saya mengisi diskusi.
Masih soal diskusi tema-tema yang kami bahas biasanya soal-soal yang dekat dengan kami mulai harga krupuk sampai tatanan dunia dan sesekali nyrempet bahasan teologis—bisanya untuk humor saja. Kami ada satu teman yang selalu paling banyak ngomongnya di diskusi—ya karena dia yang jadi alasan teman-teman untuk datang. Namanya Santoso, dia keturunan Cina umur sekitar tiga puluh duaan yang punya istri jawa dan berprofesi sebagai hermes—maksudnya penterjemah. Dia kami juluki perpustakaan berjalan karena minatnya yang luas dan ingatannya yang cukup kuat. Kami sangat senang jika dia bercerita tentang suatu zaman atau uraiannya tentang teori pemikir tertentu dan yang lebih menarik jika dia mediskusikan teorinya sendiri. Banyak hal yang dia bicarakan bahkan otak saya saja tidak cukup menampungnya.
Kadang saya jadi detektif juga untuk para langganan yang selalu menyembunyikan identitasnya. Maklum lah siapa tahu dia intel sinau kan banyak jualan buku-buku kiri. Wajar saja kan kalo udah langganan menanyakan asal usulnya, kan ini lebih memperkuat hubungan kami dan menurut buku penjualan yang saya baca: urusan menjual sekarang bukan hanya urusan senyuman dan kerapian saja tapi juga urusan emosional. Strategi itu berhasil untuk langganan yang lain tapi tidak untuk orang satu ini. Walaupun begitu dia tetap beli buku di sinau dan setelah saya pikir asalkan dia tetap beli buku saya tidak peduli darimana asalnya meskipun dia malaikat. Hampir satu tahun dia menjadi langganan sampai pada hari apa gitu saya lupa, dompetnya tertinggal di kedai. Malam-malam dia telpon bahwa telah menerima musibah yaitu kehilangan dompet. Kontan saja saya ngomong bahwa dompetnya ada di saya, dia telpon sekitar jam sebelas malam pas saya lagi makan ketan di pasar. Langsung saja dia nyamperi saya padahal rumahnya sekita lima belas kilo dari temapt saya. Nah malam itu dia mulai buka buku bahwa dia baru mantan anggota DPRD Malang. Sekarang saya baru ngerti bahwa hidup di dunia poltik itu kurang nyaman, lha wong curiga terus ke orang.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan tapi mungkin akan sangat membosankan karena saya bukan pencerita dan penulis yang baik. Kecuali ada sastrawan, ilmuwan, filosof, tukang klenik yang mau ngendon di kedai bisa menjadi pencerita yang baik dan saya terbuka untuk itu.

Aris | Sinau
Malang, 1 Desember 2006

PS: anak muda yang mengaku mahasiswa penggemar sastra dan gerakan sosial yang berdatangan ke sinau kebanyakan dari fakultas arsitektur, teknik sipil-mesin, dan filsafat stain, sisanya cangkrukan penggemar obrolan ngalor-ngidul dan kopi tanpa menyematkan gelar dan latar belakang pendidikan.

Friday, 10 November 2006

PAHLAWAN, TRAGEDI FIKSI DI KESEHARIAN




Kepada Homeros, aku sempat bertanya:
Apakah ada pahlawan dalam epikmu? Dia cuma tersenyum sambil berucap,
"Apa yang kau baca?" Lantas, aku jawab saja: Keindahan!

Di
suatu malam, dengan cara yang cuma bisa dimengerti Tuhan, aku bertemu
Laksmi Pamuntjak. "Kita hidup dalam perang," katanya. Lalu,
seorang Belanda yang sudah meninggal dunia bercerita kepadaku.
"Sebelum terjadi pembuahan, 300 juta sel sperma disemburkan ke
liang vagina. Dari 300 juta sel sperma itu, cuma satu saja bertugas
membuahi satu sel telur. Lainnya, adalah sel pembunuh dan sel
pelindung. Jadi, satu sel sperma itu berenang berdampingan dengan sel
pelindung; melindungi dirinya dari gempuran sel pembunuh. Sesederhana
itulah muasal perang dalam kehidupan manusia."

Oktober
2006 lalu, Komite Nobel mengumumkan pemenang Nobel Perdamaian.
Muhammad Yunus dan Bank Grameen. Lewat bantuan mahluk penghuni baru
di Bumi, internet namanya (dan tentu saja dari 'berselancar' ke
http://moyas.multiply.com), aku menemukan artikel wawancara Muhammad
Yunus dengan jurnalis Times Ishaan Tahoor. 2030, di Bumi berdiri
Museum Kemiskinan, pernyataan Muhammad Yunus. Ditelisik lebih jauh,
pemikiran itu sudah ada di dalam dirinya sejak 1990-an. Perdamaian
dan Pengentasan Kemiskinan.

Selesai membaca artikel itu, aku
mengaktifkan 'play' di tape recorderku. Mungkin, ini suatu kebetulan.
'Imagine there no country...' Jhon Lennon. Mendengarnya, imajinasiku
bertualang ke masa yang tak pernah kuada, masa perang Vietnam. Berapa
nyawa yang harus melayang, hingga 'Godlob' pun memberanikan diri
menghadirkan tokoh ayah yang tega membunuh anak kandungnya sendiri.
'Kepada setan pun tak kuminta hukuman seperti ini,' begitulah kata
akhir sang istri setelah menembak sang suami pembunuh putranya.

Di
cerita, fiksi pun dapat menjadi fakta. September-nya Noorca M.
Massardi. Terheboh, polemik Gunter Grass dan Nobel Kesusateraan yang
diterimanya.

Mengingat itu semua, aku kembali terkenang
percakapan dengan Homeros, yang sepengetahuan aku ada spekulasi yang
menyebutkan nama itu fiksi. Maksudnya, penulis sebenarnya dari Illiad
itu tidak diketahui; ada yang menyebut bahwa karya itu ditulis
beberapa penulis, ada juga yang menyebut karya itu ditulis oleh
seorang penulis; tapi, semua sepakat memakai Homeros sebagai
pengarang Illiad.

Malam hari, aku melihat rubrik desain di
salah satu harian berskala nasional, bagi orang Indonesia; dan bagi
orang luar negeri bisa berarti berskala internasional.  Desain,
khususnya arsitektur selalu berkembang. Mulai dari bangunan kastil
yang kokoh, hingga museum futuristik di, kalau aku tak salah, di
Spanyol (ah..., namanya aku lupa.) Bagunan-bangunan itu, semacam
hiperbola yang muncul dalam keseharian. Untuk Indonesia, contohnya
'ruang publik' pedestrian tepat di seberang halte busway Bank
Indonesia.

Aku berpikir: sebagai manusia, tampaknya kita tak
lepas dari hiperbola. Menghadirkan fiksi dalam kenyataan. Demikian
juga pahlawan. Sebab sisa perang yang kutemui cuma kuburan.

"Apakah
keindahan itu harus tragis?" pertanyaan aku pada Homeros, yang
dia jawab dengan menghilang.

[Deif-Feil]