Saturday, 13 May 2006

Perkasa Perkasa Perkasa Perkasa Nan Gagah Gagah Gagah pun Perawan dan Perjaka

Seorang teman, mengajukan tesis. Mmmm, begini tesis dia. Hakikat
manusia adalah kritik. Wau..., aku terperangah. Belum pernah aku
mendengar tesis yang yang yang yang yang begitu gagah gagah nan
perkasa, mungkin juga perjaka perjaka perjaka.



Dengan tesis itu, dia pun memberikan implikasi logis dari manusia yang
benar benar benar benar manusia. Bahkan, bila mengikut atau mengutip
langsung perkataan dia, kalimat itu berbunyi, "Hakekat manusia, kritik.
Maka jelas, manusia yang sesungguhnya menjadi sedemikian sempurna
kebenaran akan kemanusiaan dirinya sendiri menjadi terbantahkan bila
manusia yang sesungguhnya menjadi sedemikian sempurna kebenaran akan
kemanusiaan dirinya sendiri mengingkari kritik!" Memang, pada saat
pertama kali aku mendengar serentetan bunyi perjaka, emmmm... mungkin
tak ada salahnya bila aku menggunakan kata perawan, ...serentetan bunyi
perawan, aku pun terpana. Aku tanya saja dia: Maksud lu? Akhirnya, aku
pun berhasil meringkas kalimat itu menjadi: manusia yang benar benar
benar benar manusia adalah manusia yang tidak mengingkari kritis
sebagai hakikat. "Ya, kurang lebih seperti itulah, meski tidak seperti
itu pula yang aku maksudkan, tetapi aku rasa dengan ada perkataan
benar, manusia, kritik, aku rasa kau sudah mengerti sedikit apa yang
aku jelaskan." Begitu dia berkata setelah aku menjelaskan hasil daya
tangkap otakku atas kalimat dia yang begitu perkasa perkasa perkasa nan
gagah pun perawan.



Tanpa sungkan dia menjelaskan, ketiadaan kritik mengakibatkan manusia
mati. "Meskipun begitu, bukan berarti manusia tidak mati bila ia tetap
melakukan kritik," balas aku karena dia meremehkan kecerdasan yang
sudah dengan susah payah--bahkan hingga berkeringat darah pula--ibuku
berusaha mewujudkannya. Sambil mendenguskan nafas dia pun berujar,
"Mati sebelum mati sesungguh merupakan kesialan yang berlipat ganda
deritanya." 



Aku merasa kalimat yang dia lontarkan itu tak kalah perkasa perkasa
perkasa perkasa nan gagah gagah gagah pun perawan plus perjaka. Dia
lanjut menjelaskan, sambil mengerutkan kening, menatap jalang. Kematian
adalah kepastian. Menurut dia, berdasarkan teori yang dia bangun diatas
keyakinan dia, kepastian kematian lebih kalah pasti dari kepastian
kritik yang harus dilakukan manusia. "Jika kematian pasti, maka kritik
pun menjadi lebih pasti!" Begitulah kalimat yang paling sederhana
sederhana sederhana yang dia ucapkan kepada aku. Memang, segala yang
tertulis disini aku tuliskan seturut kemampuan aku beradaptasi dengan
penjelasan perkasa perkasa perkasa perkasa nan gagah gagah gagah pun
perawan dan perjaka yang dia selonjorkan di hadapan aku. Jadi, mungkin
saja aku salah mencerap. Tapi, aku pikir kemampuan aku untuk salah
mencerap itu berdasarkan keyakinan aku bahwa dia pun bukan orang yang
benar dan patut diikuti; atau harus diikuti. (Meski begitu, aku agak
sulit menentukan dia orang yang seperti apa. Sedikit banyak dia benar,
tapi rasanya terlampau banyak dia salah.)



Dalam hati, aku berucap: Itu sama saja pastinya dengan mimpi yang bakal
dialami manusia! "Ah, kau bermimpi!" Mendadak dia menarik nafas, lalu
menahan di diafragma, dan bersenandung: "Apa maksud kau?" menyetarai
kemampuan seorang diva opera. Kini, gantian aku menelurkan penjelasan
penjelasan penjelasan yang disertai dengan kekaburan kekaburan
kekaburan. "Mimpi," terang aku, "berada dalam posisi yang setara dengan
kematian. Sama pasti. Tidak ada yang menempati posisi lebih pasti.
Posisi superlatif itu khayalan. Setiap manusia pasti bakal bermimpi.
Sebabnya, sudah jelas. Manusia perlu tidur. Bahkan, ada juga yang dalam
keadaan terbangun bermimpi. Jadi, masalahnya bukan manusia yang sesungguhnya menjadi sedemikian sempurna kebenaran akan
kemanusiaan dirinya sendiri menjadi terbantahkan bila manusia yang
sesungguhnya menjadi sedemikian sempurna kebenaran akan kemanusiaan
dirinya sendiri mengingkari kritik
,
tapi manusia itu harus memiliki bermimpi. Pasti kau bingung.
Sederhananya, mimpi itu pasti. Maka, damai itulah yang harus menjadi
kondisi ideal dari manusia yang sudah sedemikian rupa tercipta sejak
awal mula dunia ada untuk menghadirkan hukum-hukum demi terciptanya
kedamaian di muka kita ini." Aku melihat alis matanya mengerut, bahkan
hampir menyerupai dua ekor ulat hitam yang beringsut saling mendekat
hingga menyatu. Dia melepas nafas yang rasanya amat panjang aku dengar,
lalu berujar, "Itu pemikiran yang dangkal. Kalau dangkal, tidak ada
tantangan. Tidak ada tantangan itu berarti tidak perkasa. Tidak perkasa
itu, berarti tidak ada kritik. Itu artinya, kau sudah tidak menjadi
manusia lagi." Kalimat itu, ia akhiri dengan senyuman sinis, yang tidak
akan pernah aku lupakan; mengingat ibuku sudah dengan susah payah
hingga berkeringat darah berusaha mencerdaskan aku.



Demi kehormatan keluarga, terutama ibu yang membiayai seluruh proses
peningkatan kecerdasan aku, sederetan kalimat satir ini pun aku
ucapkan, "Tampaknya, kau perlu istirahat. Nanti baru mengigau lagi."
Aku langsung beranjak berdiri, melangkah pergi, demi kehormatan
keluarga dan harga diri.



"Tidak ada ukuran abadi untuk segala sesuatu! Kau memang tidak pernah
hidup dengan kritik, kecuali keabadian mimpi saja yang menghadiahimu
kenyamanan menikmati matahari yang tidak pernah terbenam ini!
Hahahaha....!!!"



[TO BGIN VIA D.D]



Monday, 8 May 2006

24 hours Sepat Mata




mengingat masa depan

titik-titik noda (old skull never fade away)




terlalu pagi untuk mengatakan berhenti

“MEMAHAMI 1001 CORAK ALAM KEHIDUPAN”


DISKUSI SOSIOLOGI

“MEMAHAMI 1001 CORAK ALAM KEHIDUPAN”



DASAR PEMIKIRAN

    Salah satu ciri khas dari mentalitas orang awam
ialah mengira bahwa dunia sosial itu berjalan secara natural atau alami
mengikuti gerak yang diatur oleh kekuatan-kekuatan yang
supra-manusiawi. Maka jadilah orang-orang awam ini sebagai orang yang
menjalani hidupnya secara naif tanpa kesadaran reflektif akan mau
kemana dan dibawa kemana dirinya oleh dunia lingkungan sosialnya. Jika
masyarakat tersusun dari individu-individu yang demikian, maka yang
tercipta ialah sebuah masyarakat yang bermentalitas gerombolan massa
yang tak lebih dari buih-buih zaman, yang hanyut terseret arus
kian-kemari. Masyarakat yang sedemikian tak akan memiliki pertahanan
diri yang kokoh sehingga akan dengan mudahnya dibentuk dan diarahkan
oleh kekuatan-kekuatan sosio-historis yang lebih sadar dan perkasa
dibandingkan dengan dirinya. Pada saatnya, masyarakat yang sedemikian
akan kehilangan keotentikan dirinya dalam menjalani sejarahnya sebagai
sebuah masyarakat.

    Tentu, masyarakat yang sedemikian rapuh dan lembek
itu bukanlah sosok masyarakat yang kita inginkan. Masyarakat yang
sedemikian akan menjadi sebuah masyarakat yang dengan tenangnya dan
naifnya menghancurkan dirinya sendiri. Masyarakat yang sedemikian akan
menjadi masyarakat yang dengan mudahnya dibentuk sesuai dengan
keinginan kekuatan-kekuatan di luar dirinya.

    Untuk mencegah semakin menguatnya masyarakat yang
demikian, maka haruslah individu-individu anggota masyarakat haruslah
diajak untuk melangkah ke taraf yang lebih tinggi dari kondisi
keawamannya saat ini. Kualitas keawaman masyarakat haruslah
ditransendensi sehingga mereka tumbuh bukan menjadi masyarakat yang
hanya menjadi bahan empuk pembentukan kekuatan-kekuatan di luar
dirinya.

    Sosiologi dalam konteks ini menjadi sebuah alat
analisis yang sangat berguna. Sosiologi pertama-tama menyadarkan
manusia bahwa dunia sosial itu bukanlah sesuatu yang terbentuk dan
berjalan secara alami, secara natural, namun merupakan sesuatu yang
terbentuk secara sosio-historis. Dengan kata lain, dunia sosial itu
bukanlah sesuatu mesti diterima begitu saja karena dunia sosial
merupakan produk dan sekaligus bagian dari proses sosio-historis
tertentu.

    Untuk turut menyebarluaskan kemampuan penalaran
sosiologi sebagai alat analisis itu, Komunitas Diskusi Kedai Sinau
Malang mengadakan acara Diskusi Sosiologi yang bertema besar “Memahami
1001 Corak Alam Kehidupan.”



   



TUJUAN

    Mengembangkan kecintaan dan pemahaman akan sosiologi
sebagai alat analisis yang membantu terciptanya masyarakat yang cerdas
secara sosio-historis.



TOPIK-TOPIK DISKUSI SOSIOLOGIS

    Adapun topik-topik yang akan dibicarakan ialah:


  • Minggu I : Bunuh Diri

  • Minggu II : Pertarungan Karakter

  • Minggu III : Sosiologi Televisi

  • Minggu IV : Suka Berbelanja

  • Minggu V : Membunuh

  • Minggu VI : Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  • Minggu VII : Perilaku korup

  • Minggu VIII dst: berdasarkan usulan peserta diskusi




METODE DISKUSI  

Sesi Visualisasi: seorang atau lebih aktor mementaskan fragmen drama
mini tentang karakter sosiologis yang hendak diperbincangkan. Sesi ini
bertujuan untuk memberikan ilustrasi empiris mengenai topik yang sedang
diperbincangkan sehingga peserta diskusi bisa memahami realitas empiris
mana yang tengah dibicarakan.



Sesi Kajian Sosiologis: para peserta diskusi memperbincangkan topik
yang diperbicangkan dengan mendasarkan diri pada ilutrasi yang
disajikan dalam fragmen drama yang dikombinasikan dengan analisis
secara sosiologis sehingga bisa topik tersebut bisa dilihat dan
dipahami dalam konteks yang lebih luas serta dalam proses maupun
sebab-akibatnya yang menyertainya. Di sini, diskusi lebih mengarah pada
pengayaan ketimbang pada penentuan analisis yang benar.



Sesi Ide Konstruktif: pada sesi ini, para peserta diskusi baru boleh
mengajukan gagasan-gagasannya mengenai apa yang harus dilakukan
terhadap fenomena atau topik sosiologis yang sedang diperbincangkan dan
bagaimana caranya. Sekali lagi, di sini sifatnya lebih pada pengayaan.



FASILITATOR


  1. Eko  P. Darmawan (penulis buku Agama Itu Bukan Candu, Lenin Dan Revolusi Bolshevik 1917 dll)

  2. Achmad Santoso (penulis dan penterjemah: buku Perang Jawa, Manusia dan Adi Manusia, Counterpleasure dll)






WAKTU

Setiap hari Rabu, pukul 19.00-selesai.



TEMPAT

Kedai Buku Sinau Malang: Jl. Bogor Atas, no. 1C Malang 65113







Tuesday, 2 May 2006

JERIT. MIMPI?


Tanggapan Atas Artikel Abdul Halim: Playboy dan Paham Kebebasan, Koran Tempo/23 April 2006




--Sudah lama aku bertanya: Mengapa bayi lahir selalu menjerit.
Menjerit, sebutan aktif penanda suara raung-melengking; bebunyian yang
tak bisa kusetarakan dengan teriak tangis atau bahana tawa.
--






Dua mahluk. Bertikai. Saling hantam, nyaris menikam. Membunuh. Dua
mahluk; pengadilan pun perlu. Tampaknya: harus membaku. Membeku.






Orang ketiga, muncul. "Itu kebebasan!" Dua mahluk, saling peluk.
Memukul. "Itu kebebasan!" Rasa merasa. Melangkah dekat. Prasangka. (Dua
mahluk, hanya merasa. Merasa bebas.) Orang ketiga, "Itu kebebasan!"
Salah duga.






Orang ketiga menilai, dua mahluk bebas. Bertikai, saling gampar, saling
hajar. Bebas. Modal ; Komunal. Komunal ; Modal. Perang. (Aku dengar,
orang ketiga: sama bebas berlandas sikap dialog, saling bagi,
solidaritas.)






Dunia tak pernah tua. Barangkali.






Ah, betapa, dua mahluk, orang
ketiga, merepotkan. Padahal, sama dungu saja. Mungkin juga tidak. Tapi,
kalau mereka--dua mahluk--bebas; lalu mengapa saling ... Kata tikai
lahir dari: kuasa. Kekuasaan. Modal ; komunal. Komunal ; modal.
Pertarungan kuasa! Perang! Bukan, bebas!






Ah, bila mereka--dua
mahluk--tentu mereka--dua mahluk--sadar batasan. Karena tidak bebas,
bebas mencuat. Meloncat! Padahal, di dasar tetap saja jurang tak
beralas.






Ah, orang ketiga ... rasanya
terlalu wibawa. Tak sanggup, --ku sentuh. Dua mahluk, punya kuasa,
saling hantam; dilihat bebas. Kuasa condong korupsi; bebas: laut bunga
di tengah dahaga.






Ah, orang ketiga, dua mahluk, sama.






Ah, semoga masih ada mimpi di negeri ini.






--Sudah lama aku curiga: pasti kematian dan air mata berkerabat sangat erat. Mimpi...--





[TO D.D VIA BGIN]





Monday, 1 May 2006

PAT



Buru. Waktu. Henti.  Disini. Kembali. Abadi. Luka. Bukan. Apa-apa.

Tembok. Putih. Hitam. Belukar. Memiliki. Bunga.

Pangkas. Luangmu. Di liang. Waktu. Tidak. Berumah.

Hidup. Cuma. Sebentar. Delapan puluh. Atau. Dua Tujuh. Bilangan. Genap
yang jadi ganjil. Jangan. Pikir. Di depan. Miskin. Jadi. Duri. Darah.
Bukan. Mahkota. Bisu.

Buru.

    Aku.

        Belum.

            Tuntas.

                Dikejar.

                    Sebelum.

              
         Semua. Terputar. Biar.
Mati. Tidak. Kenal.

Wajahnya. Merah. Tidak. Beringas.

Hiasan bumi adalah manusia.

Kutanam dia, buahnya kau bagikan!



30 Maret 2006



widhy | sinau





Venez M’aider | PAT tak sempat mampir ke Malang

Pramoedya Ananta Toer | PAT-selalu berkata, ini jamannya kalian, orang
muda! Perubahan selalu datang dari orang muda! Orang tua sudah memiliki
karakter, susah untuk berubah, sayangnya bangsa ini telah kehilangan
karakter!



Jika saja bangsa ini penuh dengan orang muda, apakah bangsa ini kembali berkarakter?

1 Mei, sehari sebelumnya PAT menurut berita masih mengepalkan tinjunya,
ketika Romo Mudji dan Budiman Soejatmiko membisikkan kata-kata sakti,
jangan pergi bangsa ini membutuhkan Anda! Dalam koma PAT mengepalkan
tinjunya! Aku cuma bisa menafsir, perubahan selalu datang dari orang
muda!



[semoga dalam komanya PAT berjalan-jalan ke masa muda,
dimana-hitam-putihnya dibaca oleh semua orang, kawannya dalam
berpolemik Chairil Anwar-yang lebih dulu abadi dalam kumpulannya yang
terbuang/seorang eksentrik, bohemian borjuis (kah) ketika bertemu dulu?
Sikapnya yang berbeda, juga cinta dengan Indonesia! Dia mati muda,
dengan kau tak kutemukan bedanya]



Venez M’aider

Datang dan Selamatkan Aku

Seorang PAT yang aku kenal tidak akan bicara seperti itu. Juga terhadap
Tuhan yang ia yakin ada, tak perlu diminta datang karena Tuhan sudah
memberikan kebebasan, otonomi kepada manusia untuk mengatur dan
menentukan nasibnya sendiri. Dalam berbagai kesempatan ia mengungkapkan
bagaimana manusia harus menjadi manusia [atau cuma memiliki pilihan
menjadi manusia] sehingga ia bisa memahami kemanusiaan secara utuh,
tidak teror, tidak aniaya, tidak melupakan sejarah kemanusiaannya.
Bagaimana dengan masa lalu PAT, ia biasanya terkekeh sambil menghisap
dalam-dalam rokoknya [cuma lelaki sejati yang merokok-katanya ketika menawarkan sebatang rokok kepadaku yang tidak merokok]. Itu pilihan. Masa lalu adalah bagian dari pilihan, yang tidak layak untuk disesali. Saya
masih muda. Cuma orang muda yang bisa membuat perubahan. PAT orang tua
serius yang suka bercanda,  matanya kadang menatap tajam orang di
depannya-mencari kesungguhan, terkadang mata itu juga menerawang
jauh-sangat jauh, jam terbangku belum sanggup mengimbangi ulang-alik
PAT dalam satu momen pertanyaan. Ia kembali mengembuskan asap rokok
yang dihisapnya dalam-dalam. Dulu tidak ada orang yang mengemis untuk
sebuah tujuan, sekarang bangsa ini jadi pengemis! Semuanya, tidak yang
muda tidak yang tua!

Perlahan aku menafsir perubahan yang terjadi seperti tokoh Bakir dalam
novelnya Korupsi (1957), perubahan seperti umur, perlahan namun pasti,
membuat lupa diri. Bakir adalah kebanyakan manusia yang hidup diluar
pagar tembok PAT.

PAT menegaskan ada yang tidak berubah.

Aku, galau dengan angka 1957-2006, Bakir dimana-mana, sekarang
berjalan-jalan di puing Leningrad, Berlin, Perancis dengan identitas
Indonesia. Adakah yang tidak berubah. PAT menegaskan eksistensi
individu yang tidak berubah. Kekalahan bukanlah akhir segalanya.
Internasionale? Kekalahan seperti yang diajarkan dalam setiap novelnya
adalah liturgi. Doa kolektif. Maka setiap novel PAT walau eksistensi
individu adalah segalanya, namun tujuan kolektif-semangat kepahlawanan
adalah standar utama karyanya, dimulai dari kualitas individu, kemudian
kelompok. Bukankah itu Adi Manusia. PAT menjawabnya tidak, itu manusia
biasa-seperti kau, aku.  Lantas kualitas kepahlawanan itu? Tak
sempat dijawab. Aku lagi-lagi mencoba menafsir, kejujuran untuk
menghadapi kenyataan, sambil mencoba memahami hakikat kekalahan. Itu
kemenangan sejati. PAT yang masih sangat njawani
itu yang aku tangkap ketika bicara tentang laku batin sang maestro.
Blora, Budi Utomo, kolonial, transisi, amis revolusi, P. Buru. PAT
mengatakan antara 1947-1965 saat dimana Indonesia penuh dengan rasa
percaya diri, membangun karakter, bebas dan mencari jati diri sebagai
bangsa - lepas dari paham politiknya-aku mengatakan dalam hati – dulu
standar kepahlawanan masih sangat jelas, tokoh politik keluar masuk bui
oleh penguasa – baik penguasa inlander atau asing tak pernah gamang
dengan sikap politiknya- tak mudah dibeli sampai mati-maka bui adalah
bagian dari keindahan bersikap- dan dahulu konon benturan sikap
bukanlah pengenyahan dan penistaan terhadap yang lain.

Sekarang…



Venez M’aider

May Day

Internasionale kabarnya berkumandang bagai azan sebelum dunia serempak
merayakannya…di Utan Kayu, digumamkan di Karet Bivak…30 April 2006.
Banyak pahlawan tentunya yang datang, dengan standar Indonesia (bisa
dilihat di nisan Taman Makam Pahlawan di seluruh tanah air Indonesia).

Sebelumnya, menurut kabar, PAT mengepalkan tinju untuk terakhir kali…

Anda masih dibutuhkan di Indonesia…



Sejak 2002, PAT diundang untuk bertamu di kota Malang…venez m’aider
(lalu aku malu karenanya). Logika ketuhanan digunakan ketika orang
terus menerus menjadi (merasa) kalah. Kekalahan adalah liturgi, tafsir
aku terhadap karya PAT.

Semoga PAT tidak jadi tuhan atau hantu di Indonesia.

Cukup kematian menjadi pembebasan, toh, kita sama-sama belum tahu,
sedang apa dia disana? Walau kematian cuma memisahkan jiwa dari
tubuhnya…

Tubuh PAT adalah lembar demi lembar sikapnya dalam setiap tulisannya…jiwanya adalah apa yang bisa dijadikan inspirasi…



Bagi aku, jangan merengek apalagi mengemis!



Venez M’aider (1890 Partai Sosialis Perancis mendukung hari libur bagi kaum buruh, jatuh pada tanggal 1 May)



Relevankah dengan tinjumu yang terkahir kali?

Aku masih mencari dalam beberapa tafsir.

Salam kepada Bung Chairil yang menjadi tetanggamu, juga nisan tanpa nama yang mungkin mengilhamimu dalam setiap tulisan.



widhy | sinau