kau jual hutan seharga Rp. 120,- sampai dengan Rp. 300,-m2
sehingga aku menjadi hilang kepala
sebentar, tidak lagi bertempat di tempat seharusnya
apa yang kau pikirkan sesungguhnya
sementara kepalaku hilang
aku memakai kepala lain,
mungkin kepala menteri kehutanan, mungkin kepala menteri sekretaris negara
dan aku melihatmu memakai kepala keledai
dan aku barharap-sangat berharap agar itu bukan kepalamu yang sebenarnya
karena keledai yang aku punya tidak mungkin menjual hutannya, lebih tepatnya sebagai hewan yang sangat sabar ia tentu sangat berhati-hati,
dear presiden yang tak bisa kupahami,
tolong kembalikan kepalamu, sehingga kau bisa membantu mencari kepalaku
dengan kepala menteri kehutanan dan menteri sekretaris negara
aku seakan sudah di surga
atau memang tanah kita tanah surga
sehingga seperti tidak ada yang berhak memilikinya
kecuali tuhan yang kau maksudkan sebagai Tuan
namun Tuan yang kau maksudkan sebagai tuhan
bukan Tuan atau tuhan bagi orang kebanyakan yang kepalanya utuh
tak tertukar dengan kepala keledai atau kepala menteri kehutanan dan menteri sekretaris negara
dear presiden berkepala keledai
ajarkan aku bicara santun
ajarkan aku memiliki gerak tubuh sepertimu walaupun itu sangat menjijikan
tapi kau presiden
walaupun kepalamu kepala keledai
sebagian orang mungkin melindungimu
lebih dari melindungi hutan
kupikir memang kau layak untuk dikonservasi
lebih tepatnya diawetkan
namun bukan untuk ditangkar atau dikloning
cukup sekali saja
aku mengalami kejadian ini
memiliki presiden berkepala keledai (yang bukan pilihanku, sekarang dan selamanya)
sejujurnya aku lebih memilih keledai sungguhan, bukan keledai yang pura-pura
jadi presiden,
jangan marah, cukup meringkik saja
tabik,
widhy | sinau
tembusan: menteri lingkungan tak hidup
Attachment: L_PP_2_2008.pdf