Friday, 10 November 2006

PAHLAWAN, TRAGEDI FIKSI DI KESEHARIAN




Kepada Homeros, aku sempat bertanya:
Apakah ada pahlawan dalam epikmu? Dia cuma tersenyum sambil berucap,
"Apa yang kau baca?" Lantas, aku jawab saja: Keindahan!

Di
suatu malam, dengan cara yang cuma bisa dimengerti Tuhan, aku bertemu
Laksmi Pamuntjak. "Kita hidup dalam perang," katanya. Lalu,
seorang Belanda yang sudah meninggal dunia bercerita kepadaku.
"Sebelum terjadi pembuahan, 300 juta sel sperma disemburkan ke
liang vagina. Dari 300 juta sel sperma itu, cuma satu saja bertugas
membuahi satu sel telur. Lainnya, adalah sel pembunuh dan sel
pelindung. Jadi, satu sel sperma itu berenang berdampingan dengan sel
pelindung; melindungi dirinya dari gempuran sel pembunuh. Sesederhana
itulah muasal perang dalam kehidupan manusia."

Oktober
2006 lalu, Komite Nobel mengumumkan pemenang Nobel Perdamaian.
Muhammad Yunus dan Bank Grameen. Lewat bantuan mahluk penghuni baru
di Bumi, internet namanya (dan tentu saja dari 'berselancar' ke
http://moyas.multiply.com), aku menemukan artikel wawancara Muhammad
Yunus dengan jurnalis Times Ishaan Tahoor. 2030, di Bumi berdiri
Museum Kemiskinan, pernyataan Muhammad Yunus. Ditelisik lebih jauh,
pemikiran itu sudah ada di dalam dirinya sejak 1990-an. Perdamaian
dan Pengentasan Kemiskinan.

Selesai membaca artikel itu, aku
mengaktifkan 'play' di tape recorderku. Mungkin, ini suatu kebetulan.
'Imagine there no country...' Jhon Lennon. Mendengarnya, imajinasiku
bertualang ke masa yang tak pernah kuada, masa perang Vietnam. Berapa
nyawa yang harus melayang, hingga 'Godlob' pun memberanikan diri
menghadirkan tokoh ayah yang tega membunuh anak kandungnya sendiri.
'Kepada setan pun tak kuminta hukuman seperti ini,' begitulah kata
akhir sang istri setelah menembak sang suami pembunuh putranya.

Di
cerita, fiksi pun dapat menjadi fakta. September-nya Noorca M.
Massardi. Terheboh, polemik Gunter Grass dan Nobel Kesusateraan yang
diterimanya.

Mengingat itu semua, aku kembali terkenang
percakapan dengan Homeros, yang sepengetahuan aku ada spekulasi yang
menyebutkan nama itu fiksi. Maksudnya, penulis sebenarnya dari Illiad
itu tidak diketahui; ada yang menyebut bahwa karya itu ditulis
beberapa penulis, ada juga yang menyebut karya itu ditulis oleh
seorang penulis; tapi, semua sepakat memakai Homeros sebagai
pengarang Illiad.

Malam hari, aku melihat rubrik desain di
salah satu harian berskala nasional, bagi orang Indonesia; dan bagi
orang luar negeri bisa berarti berskala internasional.  Desain,
khususnya arsitektur selalu berkembang. Mulai dari bangunan kastil
yang kokoh, hingga museum futuristik di, kalau aku tak salah, di
Spanyol (ah..., namanya aku lupa.) Bagunan-bangunan itu, semacam
hiperbola yang muncul dalam keseharian. Untuk Indonesia, contohnya
'ruang publik' pedestrian tepat di seberang halte busway Bank
Indonesia.

Aku berpikir: sebagai manusia, tampaknya kita tak
lepas dari hiperbola. Menghadirkan fiksi dalam kenyataan. Demikian
juga pahlawan. Sebab sisa perang yang kutemui cuma kuburan.

"Apakah
keindahan itu harus tragis?" pertanyaan aku pada Homeros, yang
dia jawab dengan menghilang.

[Deif-Feil]





Thursday, 26 October 2006

benang magenta

Start:     Nov 5, '06 11:00a
End:     Nov 5, '06 2:00p
Location:     sekolah tinggi ilmu statistik|jalan otista no. 64, jatinegara, jakarta timur
pernah
kau
bayangkan
sebelumnya

Wednesday, 18 October 2006

PARENTAL ADVISORY: KEBODOHAN YANG TAK BOLEH BELAJAR

Film 'Pocong' karya Rudi Soedjarwo dinyatakan tidak lulus sensor oleh
Lembaga Sensor Film (LSF). Alasannya, berdasarkan Koran Tempo edisi
Selasa 17 Oktober 2006, ada 9; diantaranya tidak bersesuaian dengan
norma kesopanan, menonjolkan adegan kekerasan dan kekejaman lebih dari
50 persen, hingga terkesan kebaikan dikalahkan kejahatan. Ketua LSF
Titie Said menambahkan pula dampak dari film itu. Menurut dia, film itu
dapat membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei
1998.

Persoalan tidak lulus sensor mengartikan satu hal pokok, yakni
ketidak-layakan tayang. Mengingat kata 'ketidak-layakan', saya
terkenang pernyatan Franz Magnis Suseno di tahun 2003, tentang etika.
Persoalan rumit itu disederhanakan menjadi satu kalimat sederhana:
tidak semua hal yang dapat dilakukan (baca: kebebasan) boleh dilakukan
(baca: tanggung jawab). Pencitraan praktis dari inti etika tersebut,
kira-kira: meski semua manusia berpotensi (baca: dapat) membunuh, tapi
kerja membunuh itu sendiri tidaklah layak dilakukan. Bila ditarik lebih
panjang, persoalan ini bermuara pada kebebasan bertanggung-jawab.
Seseorang dapat dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatan yang
dilakukan hanya bisa terlaksana apabila yang bersangkutan memiliki
kebebasan memilih tindakan.

Kembali ke soal film 'Pocong' yang berbiaya Rp3 miliar ini. Untuk
pertama kalinya, film ini haruslah dilihat sebagai salah satu mode
ekspresi kesenian, diantara sekian banyak mode ekspresi kesenian
lainnya, seperti sastra, suara, lukisan, teater dan lainnya. Dan, dunia
ekspresi kesenian ini pada dasarnya berlandaskan kebebasan atau semesta
probabilitas. Karena itu pulalah maka seniman memiliki keleluasaan
'boleh melakukan apa saja'. Namun, adanya keleluasaan ini tidak
mengandaikan bahwa seniman menihilkan soal etika dalam berkarya.
Seniman tetap memiliki standar etika, yang saya sebut dengan 'institusi
etika prifat'. Di dalam 'institusi etika prifat' inilah tersimpan mana
yang boleh dan tidak. "Institusi etika prifat' ini pulalah yang
memungkinkan Rudi Soedjarwo menghasilkan film 'Pocong'.

Keberadaan 'institusi etika prifat' didalam diri Rudi terbukti melalui
pembelaannya sendiri. Menurut Rudi--masih dalam artikel Koran Tempo
edisi Selasa 17 Oktober 2006--film Holywood dan tayangan televisi lebih
sadis dari film 'Pocong' yang ia buat. Tidak hanya itu. Film 'Pocong'
pun disebut Rudi memiliki pesan moral, yakni 'kita harus lebih takut
kepada manusia daripada kepada setan'. Pembelaan ini merupakan bentuk
pertanggungjawaban Rudi atas pilihan dan kebebasan ekspresi yang dia
miliki.

Memang, selama film 'Pocong' dibuat untuk konsumsi sendiri, keperluan
pribadi, maka tidak akan pernah ada masalah muncul. Tapi, ketika film
ini hendak masuk ke ruang publik, masalah timbul. 'Institusi etika
publik' menyaring hasil 'institusi etika prifat'. Kategori layak atau
tidak pun bermain.

Dari perspektif ini, terlihat jelas bahwa LSF berposisi sebagai
'institusi etika publik'. Lembaga ini menyaring hasil kerja Rudi
bersama rumah produksi Sinemart. Proses seleksi yang membutuhkan waktu
dua minggu dilakukan tiga tahap, dari kelompok pertama ke pelaksana
harian lalu ke pelaksana harian plus yang berisi agamawan, budayawan,
Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Untuk kehati-hatian ini, saya pribadi mengucapkan salut. Namun, hasil
akhir yang menyatakan bahwa film 'Pocong' tidak layak tayang,
jelas-jelas menyakitkan.

Tentu saja, 'institusi etika prifat' milik Rudi beserta Sinemart
terlebih dahulu tersakiti. Dan, bisa jadi beberapa personal di LSF,
misalnya Titie Said  pun bersedih; sebab menurut dia kualitas
sinematografi, pencahayaan, akting dan dialog fim tersebut tergolong
'oke'. Selain mereka, saya pun merasa tersakiti. Dan, dengan menyadari
dasar keberadaan LSF adalah hak sosial individu yang dilimpahkan ke
negara, maka rasa tersakiti itu pun semakin menusuk. Dengan kata lain,
saya sebagai individu yang telah melimpahkan hak sosial ke negara
dengan kesadaran sendiri mengambil pisau dan menyayatkannya ke tubuh
saya sendiri. Ya, putusan LSF adalah putusan saya sendiri untuk
menghujamkan belati ke pembuluh nadi saya.

Disinilah keberatan dan ketidaksetujuan saya atas putusan LSF itu.
Menurut saya, putusan 'institusi etika publik' LSF melabelkan satu hal
ke 'institusi etika prifat' yang dimiliki tiap individu, yakni
kebodohan. LSF dengan kekuasaannya mengklaim bahwa publik yang bakal
menikmati film ini adalah sekumpulan orang bodoh-tolol yang tidak
memiliki standar etika. Dan karena itu, satu film Rudi
Soedjarwo--perkiraan saya berdurasi maksimal dua jam--mampu meracuni
khalayak penonton untuk berbuat kekerasan dan kekejaman seperti yang
ditampilkan film tersebut. 'Institusi etika prifat', khususnya saya,
dicap bodoh-tolol oleh LSF 'institusi etika publik'. Betapa, hak sosial
yang saya berikan kepada LSF ternyata telah disalah-gunakan dengan
merenggut kebebasan milik saya untuk menilai apa dan bagaimana film
'Pocong' itu.

Selain itu, hal lain yang menyinggung adalah dugaan bahwa film 'Pocong'
dapat 'membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei
1998'. Kalimat yang disuarakan Titie Said, bagi saya naif. Dugaaan atau
kekhawawtiran atau ketakutan dalam pernyataan itu menyiratkan dua hal.
Pertama, 'kita' harus melupakan tragedi; Kedua, 'kita' harus hidup
damai tanpa 'luka lama dan dendam...' Saya secara pribadi menyakini
bahwa siratan pertama bukanlah pilihan posisi bagi seorang yang bernama
Titie Said, yang menurut saya, mampu merasakan derita yang dialami
korban tragedi itu. Ketua LSF ini pastilah bermaksud pada siratan
kedua, yakni 'luka lama dan dendam...' itu harus diselesaikan hingga
'kita' dapat hidup damai bersama.

Disitulah letak kenaifan LSF. Sebab, dampak tragedi Mei 1998 bukanlah
terletak di dalam film, melainkan di kenyataan itu sendiri. Apakah
Indonesia memang sudah menuntaskan sejarah kelam bangsa yang selalu
mengagungkan nilai ramah tamah dan sopan santun ini?

Di sisi lain, dugaan atau kekhawatiran atau ketakutan LSF itu ternyata
membongkar pola pikir 'institusi etika publik' ini. Melalui dugaan itu,
saya pun dapat melihat apa dan bagaimana film di mata 'institusi etika
publik' ini. Film bagi 'institusi etika publik' ini berada di atas
kenyataan. Dan pola pikir inilah yang berusaha 'mereka' suntikkan ke
kepala 'institusi etika prifat' yang kadung dicap bodoh-tolol. Film
melebihi kenyataan! Menurut saya, ini pola pikir yang salah. Seharusnya
'institusi etika publik' ini mempromosikan ide bahwa film merupakan
sub-ordinat kenyataan. Jadi,  sebagus apa pun film yang dibuat,
tetap saja kenyataan yang menempati posisi teratas.

Apakah putusan LSF ini bisa dibatalkan atau tidak--seperti perubahan
keputusan dari meluluskan menjadi menarik dari peredaran film 'Buruan
Cium Gue!' yang dikarenakan desakan 'institusi etika
prifat'-yang-memublik*--wallahuallam, saya tidak bisa memastikan. Yang
pasti, setidaknya hingga saat ini, 'institusi etika publik' menegaskan
bahwa 'institusi etika prifat' cuma berisi kebodohan, ketololan, tolol bakero belaka!
Bila sudah begini, kodrat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dengan
derajat tertinggi (baca: memiliki akal budi) diantara semua mahluk
ciptaan-Nya pun menjadi semakin didangkalkan. Dan, jika memang benar
'institusi etika prifat' berintikan kebodohan, apakah saya, yang bodoh
ini, memang tidak berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang
benar demikian, saya terpaksa mengacuhkan keberadaan 'institusi etika
publik' yang menyebalkan seperti, maaf LSF cuma salah satunya saja di
Indonesia yang susah dicinta ini.







*: Saya sendiri tidak sependapat dengan desakan dan putusan menarik
film 'Buruan Cium Gue!' dari peredaran; sebab ide ini lagi-lagi cuma
menegaskan pelabelan 'institusi etika prifat' yang bodoh-tolol. Dan
'insitusi etika prifat'-yang-memublik cumalah kesemuan belaka, sebab
itu menjadi tirani 'institusi etika publik' semata.



--David Tobing--



Tuesday, 26 September 2006

Hikayat Pithecanthropus di Era Informasi


Suatu ketika, sepasang manusia, lelaki dan perempuan, berjalan
telanjang di sebuah taman. Demikianlah ujar hikayat, yang hingga
sekarang tak bosan dipertanyakan, siapa mereka, taman macam apa, dan
mengapa mereka bisa bertelanjang segala? Tapi, hingga ber-mileu
berlalu, jawaban pasti tak ketemu. Sedang hikayat, hidup selalu.



Satu buku teori menyebutkan, tiga syarat negara. Ada wilayah, ada
penduduk, dan ada pemerintahan. Lalu, bagaimana pula jadinya ketika
negara itu penduduknya mati semua. Atau, kalau mau lebih jelas 200 juta
lebih warga negara indonesia mati semua, apakah negara itu ada? Atau,
bagaimana pula bila muncul gempa bumi pun tsunami dahsyat yang
menghapuskan daratan kepulauan indonesia, apakah negara ada? lalu, dari
mana indonesia dan segala bentuk pemerintahan itu berasal? Kira-kira
begitulah pertanyaan yang muncul usai membaca buku teori yang rasanya
sudah lapuk dan tak berarti itu.



Miles Davis berkata, kira-kira, "Tak perduli aku apa tanggapan orang.
Yang penting, aku nikmati tiap nada yang kumainkan." Lalu, seorang
penyair datang kepada pakar fisika kuantum. "Apakah fisika mengenal
metafora?" tanya penyair pada pakar fisika kuantum. Dia menjawab
sederhana, "Aku cuma tahu, cara menjabarkan reaksi pemecahan uranium di
papan." Lalu, penyair itu bertanya, "Dimana metaforanya?" Pakar fisika
kuantum itu cuma bisa menjawab, "Aku tidak tahu kau mau jawaban apa?"
Tak lama kemudian, perdebatan itu pun muncul sebagai berita utama di
halaman koran kota-kota terkemuka.



Suatu hari, aku dengan temanku berdebat. Atas dasar apa kita
mempercayai sejarah? Aku menjawab: Keterikatan emosional. Temanku
menjawab: Karena hal itu memang benar telah terjadi. "Sekalipun itu
sudah terjadi, tanpa keterikatan emosional, sejarah itu tidak akan
tercatat dan diketahui," jelas aku. "Demikian juga, karena kedekatan
emosional, maka yang salah pun jadi benar. Sejarah jadi hilang. Begitu
'kan maksudmu?" balas temanku tak kalah garang. Setelah puas berucap,
kami pun pulang, tanpa bertanya: Buat apa ada sejarah?



Dan, malam pun tiba. Hikayat kembali dilanjutkan kepada kanak-kanak,
tentang sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, asal mula negara,
kata-kata Miles Davis, juga percakapan penyair dengan pakar fisika
kuantum, hingga akhirnya, semua orang berkata : "Sudah malam. Saatnya
tidur. Besok masih banyak yang harus kalian lakukan."



[Deif-Feil]





Monday, 18 September 2006

Ketika Paus Mulai Vokal, Lumba-lumba Menyelamatkan Konsonan (Gunther Grass Yang Fakta dan Karyanya Yang Fiksi)




Paus:

Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...IIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIII

IIII

II

I

I

I

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII



Paus:

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...AAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAA

AAAAAAA

AAAA

AA

A

A

A



Lumba-lumba:

(ada konsonan yang terlupa, apakah Paus lupa atau sedang luka, kasihan dia)



Masa Depan Indonesia: Integritas atau Ambiguitas (spaduk di organisasi pemuda di Salemba), ada yang bisa bantu menjelaskannya?



Paus (...$A¥A diulang-ulang 1000kali):
IIIIIIIIIIIIiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa



Lumba-lumba:

(Maaf, belum kutemukan tafsirnya di Wikipedia, sejak ada aksara sampai
sekarang, Hmmm sedang apa Paus disana, ada apa juga di Indonesia-dimana
pula konsonan?

Hmmm kejutan yang aneh)



Dami N Toda dalam Kompas Minggu (17/09/06) menulis tentang Gunther
Grass yang FAKTA dan karyanya yang FIKSI. Dalam balutan waktu mana
Gunther Grass kini hadir, sebagai seorang mantan prajurit Waffen-SS
atau seorang perenung moral yang Nobel?



Sejauh mana sejarah menjadi fakta dan tulisan sejarah yang jadi karya
fiksi di Indonesia yang katanya negara totaliter [itu dulu, sekarang
negara partikelir-cari di Wikipedia Humor) karya fiksi merupakan
ujaran-ajaran yang mengandung kebenaran sejarah, dan masa lalu membunuh
masa depan, bukan karena aktualitasnya namun karena ujaran-ajaran,
tokoh-dan penokohan, selalu ragu-ragu di mata para pemeluk teguh-fiksi
apa yang dia baca sehingga jadi fakta begitu rupa. Kata kawan di kedai
nalar ternyata terbatas! Menalar fiksi apalagi. Lantas apa kaitan
transedensi pernyataan ‘Kehormatanku berati Setia (pada Hitler)motto
waffen-SS, Hidup Mulia atau Mati Sahid (Hamas-Palestina), Pada Tuhan
Aku Percaya (uang dollar Amerika-Indonesia gagal melakukan copycatnya
di lembaran uang), Avoda Ivrit (bekerja sendiri jangan upah orang untuk
melakukannya-Slogan Israel ketika menjejak kaki pertama kali ke tanah
Palestina).



Masa lalu membunuh masa depan. Waktu bekerja untuk siapa saat ini. Juga
Tuhan yang katanya cuma satu berbeda nama. Masa depan kemudian
kerasukan masa lalu-yang disebut keabadian, ada dimana-perenungan: pada
kemuliaan, kerja keras, kesetiaan, kepercayaan, atau biarkan bergeming
bingung layaknya Bhinneka Tunggal Ika. Mungkin kita butuh baca fiksi
lebih banyak lagi, temukan nada vokal yang sumbang pendapat (bukan
pendapat sumbang) tanpa harus kehilangan konsonan.









widhy | sinau




Friday, 1 September 2006

Demokrasi, Pisau Galileo dan Kepergian Pluto

Negara itu tidak ada gunanya meskipun engkau berkata: Sesekali, kita pun perlu bertanya kepada Yang Maha Kuasa, dimanakah selayaknya Pluto kita letakkan. Jadi, buat apa ada demokrasi, dan mengapa pula tidak ada politisi yang pernah mati bunuh diri? Karena itu : The Beatles=Liverpool=Inggris, Soneta=Rhoma Irama=Indonesia, The Doors=Jim Morrison=Amerika, Bob Marley=Reggae=Jamaica. Negara masih berguna! Tapi, perlu juga dibentuk fens klub. Tidak usah ada partai kalau begitu. Ada atau tidak ada itu tidak masalah.


Sekali waktu, pernah aku bercakap dengan seseorang diantara seorang yang berjalan dari masa ke masa di depan emperan toko di kaki lima sangatlah ramai sekali orang-orang berseliweran: Mau kemana? Dia cuma melihat dan berkata: Biarkan saja.


Di saat engkau berjalan di planet-planet, lalu berjalan diantara galaksi-galaksi, maka dimanakah aku engkau temui? Bukankah engkau akan bertemu aku di depan emperan toko tempat orang berlalu-lalang, tapi tak pernah mengetahui kemana demokrasi itu pergi. Jadi, kalau engkau hendak berbelanja, harus pergi pagi-pagi sekali, agar bebas memilih. Kalau pemilu dilakukan pukul 09.00, maka di waktu subuh, hasil perhitungan berapa biaya yang dikeluarkan sudah diketahui. Tak perlu bawa uang yang banyak, cuma seperlunya saja. Jangan terlalu banyak pula berdoa ketika berjalan-jalan di galaksi, sebab asteroid yang melayang itu seperti bajaj. Kadang berbelok atas perintah abang pengemudi. Setelahnya, engkau pun terjatuh, melihat aku membeli dua ekor ikan yang menjadi korban ranjau darat.  


Seperti Galileo yang mencari aku, dia menemukan wujud pasti dalam ketakpastian. Karena dunia ini adalah probabilitas, eksperimen selalu terjadi. Kalau memang tepat guna, tak ada salah. Kalau tidak tepat, maka ada yang bunuh diri, ada juga yang melarikan diri. Masalahnya, semua itu perlu dibuktikan. Kalau pun tidak berbukti, jangan salah tanggap. Probabilitas itu nantinya menjadi suatu kepastian bahwa pergerakan acak asteroid itu tergantung kemacetan yang terjadi. Makanya, diperlukan beribu-ribu jalur busway untuk mengatasi keterlambatan jam kerja. Jadi, buat apa membeli mobil?


Sesekali, buatlah satu puisi. Meski cuma satu-dua baris dengan satu-dua kata, itu tidak jadi soal.


Note: Ini tulisan sesat!


[Deif-Feil]

Tuesday, 29 August 2006

laki-laki yang tiba-tiba melankolis




dibawanya daun berbentuk hati. aku akan mengirisnya. jika tanpa sebab hujan tidak jadi.

dikunyahnya pula buah pala kering yang disangrai dan dicampur bako:
semoga ia terlihat cantik. kepalanya terasa menjadi tujuh.
masing-masing bagiannya berisi organ tubuh kekasih. ia berdoa aneh:
semoga kita menderita. kemanusiaan lebih dekat dengannya. sambil
membayangkan punggungnya dicambuk duri api. ia bersenandung: aku cuma
penyair gagal dengan berbagai pertanyaan bodoh tapi penting.



kegagalan seperti mimpi. cuma angan yang tak jadi berani. aku tenggelam
namun belum mati. berbagai pertanyaan bodoh tapi penting bergayut jadi
ranting, jadi getah, jadi sarang semut, jadi puisi. kegagalan seperti
puisi, tidak butuh nabi. dunia juga tidak berhenti, sebelum dan sesudah
ada puisi. dunia cuma kumpulan kode. kau tidak harus memecahkannya,
apalagi berteori.



usil sekali puisi dibuat seranjang dengan kopi. tak mungkin terlihat
manis bukan. apalagi sepagi ini kau sudah salah kostum. kita tidak
ingin pergi ke tempat perayaan. juga tidak ingin pergi ke kuburan. kita
cuma akan pergi berdua dengan balon udara, belajar takut dan mengerti
gravitasi. kita juga akan hancurkan awan dengan campuran garam,
sehingga pecah jadi hujan, kita cuma menghantar petir. kita tidak ingin
jadi nabi apalagi ahli berpuisi. setelah hujan kita bagi daun berbentuk
hati. sebab hujan kita buat sendiri. kita juga tak butuh pawang sayang.




(laki-laki yang tiba-tiba melankolis, hatinya merona rindu-seperti
puisinya yang seperti lembab sarang semut-dari ranting, dari getah
pepohonan tempat dia mencari rumah—dan sebab-sebab pertanyaan: apakah
perubahan ini baik atau buruk, apakah butuh teman jika ingin
bersendiri—apakah karya harus lahir dari kesunyian—sementara akal tak
usai mengejar berbagai pertanyaan bodoh tapi penting, lebih dari
selembar daun berbentuk hati yang lainkali ia namakan puisi yang gagal
jadi karena hujan tak kunjung tiba, dan kita gentar menaikkan balon
udara)



laki-laki yang tiba-tiba melankolis mengunyah-ngunyah buah pala yang
disangrai dan dicampur bako. menulis pada selembar daun berbentuk hati:
jika punya gigi tentu saja bisa sakit gigi, jangan tunjuk, merunduk,
dedahkan lagi kopi yang dicampur puisi. mungkin bisa hamil, toh ia
bukan betina atau jantan yang perlu ditata kemaluannya.



PS:

living is easy with eyes closed, misunderstanding all you see.

It's getting hard to be someone but it all works out, it doesn't matter much to me

strawberry fields forever |the beatles



widhy |sinau



foto: dvd tbg