Tuesday, 26 September 2006

Hikayat Pithecanthropus di Era Informasi


Suatu ketika, sepasang manusia, lelaki dan perempuan, berjalan
telanjang di sebuah taman. Demikianlah ujar hikayat, yang hingga
sekarang tak bosan dipertanyakan, siapa mereka, taman macam apa, dan
mengapa mereka bisa bertelanjang segala? Tapi, hingga ber-mileu
berlalu, jawaban pasti tak ketemu. Sedang hikayat, hidup selalu.



Satu buku teori menyebutkan, tiga syarat negara. Ada wilayah, ada
penduduk, dan ada pemerintahan. Lalu, bagaimana pula jadinya ketika
negara itu penduduknya mati semua. Atau, kalau mau lebih jelas 200 juta
lebih warga negara indonesia mati semua, apakah negara itu ada? Atau,
bagaimana pula bila muncul gempa bumi pun tsunami dahsyat yang
menghapuskan daratan kepulauan indonesia, apakah negara ada? lalu, dari
mana indonesia dan segala bentuk pemerintahan itu berasal? Kira-kira
begitulah pertanyaan yang muncul usai membaca buku teori yang rasanya
sudah lapuk dan tak berarti itu.



Miles Davis berkata, kira-kira, "Tak perduli aku apa tanggapan orang.
Yang penting, aku nikmati tiap nada yang kumainkan." Lalu, seorang
penyair datang kepada pakar fisika kuantum. "Apakah fisika mengenal
metafora?" tanya penyair pada pakar fisika kuantum. Dia menjawab
sederhana, "Aku cuma tahu, cara menjabarkan reaksi pemecahan uranium di
papan." Lalu, penyair itu bertanya, "Dimana metaforanya?" Pakar fisika
kuantum itu cuma bisa menjawab, "Aku tidak tahu kau mau jawaban apa?"
Tak lama kemudian, perdebatan itu pun muncul sebagai berita utama di
halaman koran kota-kota terkemuka.



Suatu hari, aku dengan temanku berdebat. Atas dasar apa kita
mempercayai sejarah? Aku menjawab: Keterikatan emosional. Temanku
menjawab: Karena hal itu memang benar telah terjadi. "Sekalipun itu
sudah terjadi, tanpa keterikatan emosional, sejarah itu tidak akan
tercatat dan diketahui," jelas aku. "Demikian juga, karena kedekatan
emosional, maka yang salah pun jadi benar. Sejarah jadi hilang. Begitu
'kan maksudmu?" balas temanku tak kalah garang. Setelah puas berucap,
kami pun pulang, tanpa bertanya: Buat apa ada sejarah?



Dan, malam pun tiba. Hikayat kembali dilanjutkan kepada kanak-kanak,
tentang sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, asal mula negara,
kata-kata Miles Davis, juga percakapan penyair dengan pakar fisika
kuantum, hingga akhirnya, semua orang berkata : "Sudah malam. Saatnya
tidur. Besok masih banyak yang harus kalian lakukan."



[Deif-Feil]





Monday, 18 September 2006

Ketika Paus Mulai Vokal, Lumba-lumba Menyelamatkan Konsonan (Gunther Grass Yang Fakta dan Karyanya Yang Fiksi)




Paus:

Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...IIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

IIIIIIIII

IIII

II

I

I

I

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII



Paus:

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...AAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAA

AAAAAAAAAAAAA

AAAAAAA

AAAA

AA

A

A

A



Lumba-lumba:

(ada konsonan yang terlupa, apakah Paus lupa atau sedang luka, kasihan dia)



Masa Depan Indonesia: Integritas atau Ambiguitas (spaduk di organisasi pemuda di Salemba), ada yang bisa bantu menjelaskannya?



Paus (...$A¥A diulang-ulang 1000kali):
IIIIIIIIIIIIiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaAAAA

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiIIIIII

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa



Lumba-lumba:

(Maaf, belum kutemukan tafsirnya di Wikipedia, sejak ada aksara sampai
sekarang, Hmmm sedang apa Paus disana, ada apa juga di Indonesia-dimana
pula konsonan?

Hmmm kejutan yang aneh)



Dami N Toda dalam Kompas Minggu (17/09/06) menulis tentang Gunther
Grass yang FAKTA dan karyanya yang FIKSI. Dalam balutan waktu mana
Gunther Grass kini hadir, sebagai seorang mantan prajurit Waffen-SS
atau seorang perenung moral yang Nobel?



Sejauh mana sejarah menjadi fakta dan tulisan sejarah yang jadi karya
fiksi di Indonesia yang katanya negara totaliter [itu dulu, sekarang
negara partikelir-cari di Wikipedia Humor) karya fiksi merupakan
ujaran-ajaran yang mengandung kebenaran sejarah, dan masa lalu membunuh
masa depan, bukan karena aktualitasnya namun karena ujaran-ajaran,
tokoh-dan penokohan, selalu ragu-ragu di mata para pemeluk teguh-fiksi
apa yang dia baca sehingga jadi fakta begitu rupa. Kata kawan di kedai
nalar ternyata terbatas! Menalar fiksi apalagi. Lantas apa kaitan
transedensi pernyataan ‘Kehormatanku berati Setia (pada Hitler)motto
waffen-SS, Hidup Mulia atau Mati Sahid (Hamas-Palestina), Pada Tuhan
Aku Percaya (uang dollar Amerika-Indonesia gagal melakukan copycatnya
di lembaran uang), Avoda Ivrit (bekerja sendiri jangan upah orang untuk
melakukannya-Slogan Israel ketika menjejak kaki pertama kali ke tanah
Palestina).



Masa lalu membunuh masa depan. Waktu bekerja untuk siapa saat ini. Juga
Tuhan yang katanya cuma satu berbeda nama. Masa depan kemudian
kerasukan masa lalu-yang disebut keabadian, ada dimana-perenungan: pada
kemuliaan, kerja keras, kesetiaan, kepercayaan, atau biarkan bergeming
bingung layaknya Bhinneka Tunggal Ika. Mungkin kita butuh baca fiksi
lebih banyak lagi, temukan nada vokal yang sumbang pendapat (bukan
pendapat sumbang) tanpa harus kehilangan konsonan.









widhy | sinau




Friday, 1 September 2006

Demokrasi, Pisau Galileo dan Kepergian Pluto

Negara itu tidak ada gunanya meskipun engkau berkata: Sesekali, kita pun perlu bertanya kepada Yang Maha Kuasa, dimanakah selayaknya Pluto kita letakkan. Jadi, buat apa ada demokrasi, dan mengapa pula tidak ada politisi yang pernah mati bunuh diri? Karena itu : The Beatles=Liverpool=Inggris, Soneta=Rhoma Irama=Indonesia, The Doors=Jim Morrison=Amerika, Bob Marley=Reggae=Jamaica. Negara masih berguna! Tapi, perlu juga dibentuk fens klub. Tidak usah ada partai kalau begitu. Ada atau tidak ada itu tidak masalah.


Sekali waktu, pernah aku bercakap dengan seseorang diantara seorang yang berjalan dari masa ke masa di depan emperan toko di kaki lima sangatlah ramai sekali orang-orang berseliweran: Mau kemana? Dia cuma melihat dan berkata: Biarkan saja.


Di saat engkau berjalan di planet-planet, lalu berjalan diantara galaksi-galaksi, maka dimanakah aku engkau temui? Bukankah engkau akan bertemu aku di depan emperan toko tempat orang berlalu-lalang, tapi tak pernah mengetahui kemana demokrasi itu pergi. Jadi, kalau engkau hendak berbelanja, harus pergi pagi-pagi sekali, agar bebas memilih. Kalau pemilu dilakukan pukul 09.00, maka di waktu subuh, hasil perhitungan berapa biaya yang dikeluarkan sudah diketahui. Tak perlu bawa uang yang banyak, cuma seperlunya saja. Jangan terlalu banyak pula berdoa ketika berjalan-jalan di galaksi, sebab asteroid yang melayang itu seperti bajaj. Kadang berbelok atas perintah abang pengemudi. Setelahnya, engkau pun terjatuh, melihat aku membeli dua ekor ikan yang menjadi korban ranjau darat.  


Seperti Galileo yang mencari aku, dia menemukan wujud pasti dalam ketakpastian. Karena dunia ini adalah probabilitas, eksperimen selalu terjadi. Kalau memang tepat guna, tak ada salah. Kalau tidak tepat, maka ada yang bunuh diri, ada juga yang melarikan diri. Masalahnya, semua itu perlu dibuktikan. Kalau pun tidak berbukti, jangan salah tanggap. Probabilitas itu nantinya menjadi suatu kepastian bahwa pergerakan acak asteroid itu tergantung kemacetan yang terjadi. Makanya, diperlukan beribu-ribu jalur busway untuk mengatasi keterlambatan jam kerja. Jadi, buat apa membeli mobil?


Sesekali, buatlah satu puisi. Meski cuma satu-dua baris dengan satu-dua kata, itu tidak jadi soal.


Note: Ini tulisan sesat!


[Deif-Feil]

Tuesday, 29 August 2006

laki-laki yang tiba-tiba melankolis




dibawanya daun berbentuk hati. aku akan mengirisnya. jika tanpa sebab hujan tidak jadi.

dikunyahnya pula buah pala kering yang disangrai dan dicampur bako:
semoga ia terlihat cantik. kepalanya terasa menjadi tujuh.
masing-masing bagiannya berisi organ tubuh kekasih. ia berdoa aneh:
semoga kita menderita. kemanusiaan lebih dekat dengannya. sambil
membayangkan punggungnya dicambuk duri api. ia bersenandung: aku cuma
penyair gagal dengan berbagai pertanyaan bodoh tapi penting.



kegagalan seperti mimpi. cuma angan yang tak jadi berani. aku tenggelam
namun belum mati. berbagai pertanyaan bodoh tapi penting bergayut jadi
ranting, jadi getah, jadi sarang semut, jadi puisi. kegagalan seperti
puisi, tidak butuh nabi. dunia juga tidak berhenti, sebelum dan sesudah
ada puisi. dunia cuma kumpulan kode. kau tidak harus memecahkannya,
apalagi berteori.



usil sekali puisi dibuat seranjang dengan kopi. tak mungkin terlihat
manis bukan. apalagi sepagi ini kau sudah salah kostum. kita tidak
ingin pergi ke tempat perayaan. juga tidak ingin pergi ke kuburan. kita
cuma akan pergi berdua dengan balon udara, belajar takut dan mengerti
gravitasi. kita juga akan hancurkan awan dengan campuran garam,
sehingga pecah jadi hujan, kita cuma menghantar petir. kita tidak ingin
jadi nabi apalagi ahli berpuisi. setelah hujan kita bagi daun berbentuk
hati. sebab hujan kita buat sendiri. kita juga tak butuh pawang sayang.




(laki-laki yang tiba-tiba melankolis, hatinya merona rindu-seperti
puisinya yang seperti lembab sarang semut-dari ranting, dari getah
pepohonan tempat dia mencari rumah—dan sebab-sebab pertanyaan: apakah
perubahan ini baik atau buruk, apakah butuh teman jika ingin
bersendiri—apakah karya harus lahir dari kesunyian—sementara akal tak
usai mengejar berbagai pertanyaan bodoh tapi penting, lebih dari
selembar daun berbentuk hati yang lainkali ia namakan puisi yang gagal
jadi karena hujan tak kunjung tiba, dan kita gentar menaikkan balon
udara)



laki-laki yang tiba-tiba melankolis mengunyah-ngunyah buah pala yang
disangrai dan dicampur bako. menulis pada selembar daun berbentuk hati:
jika punya gigi tentu saja bisa sakit gigi, jangan tunjuk, merunduk,
dedahkan lagi kopi yang dicampur puisi. mungkin bisa hamil, toh ia
bukan betina atau jantan yang perlu ditata kemaluannya.



PS:

living is easy with eyes closed, misunderstanding all you see.

It's getting hard to be someone but it all works out, it doesn't matter much to me

strawberry fields forever |the beatles



widhy |sinau



foto: dvd tbg






Thursday, 24 August 2006

Candu!

Perlahan sekali, samar langkahmu mendekati aku yang sedang duduk
berselonjor di bawah pokok randu. Ketika itu, langit begitu hitam,
bertabur ramai serak suara serangga, di antara kepulan asap candu,
tidak ada bintang dan rembulan menghias kekelaman. Pelupuk sayu mataku,
mengikut hentak irama kakimu melangkah, perlahan sekali, serupa degup
serambi jantung di tubir sakratul maut.

Aku merasa engkau meniupkan sesuatu ke telinga aku. Tiupan yang
menjelma jadi ratusan uap-uap candu yang berkelakar di alam nalar,
meloncati alam imaji, menarikan warna radiasi dalam lanskap ingatan
yang penuh ratus kenangan infantil, hingga menelungkupkan diri,
terangkat, melayang, terbang, menuju kehilangan di langit yang begitu
hitam. Pokok randu, selamat tinggal. Kata-kata itu, aku keluarkan
melalui jutaan celah pori-pori di sekujur tubuh aku; sebab aku tak
mampu menetaskannya melalui bibir yang kelu, lewat bibir yang terlampau
banyak menabur serapah, pun sumpah. Ketika itu, aku mengingat kembali
apa yang engkau lakukan di telinga aku, setelah begitu perlahan engkau
melangkah. Keping ingatan dan kenangan yang cacat cuma mencatat, engkau
meniupkan sesuatu ke telinga aku.

Bersama ragam warna radiasi yang memenuhi setiap ceruk nalar, bentangan
imaji, kilas-kilat intuisi, aku merasa engkau tidak meniupkan sesuatu
ke telinga aku. Telinga aku yang memiliki gendang penyaring, bukanlah
lokus yang tepat untuk merasakan tiupan serupa salakan angin yang
begitu enggan bersalaman dengan diam. Tersebab idnera telingan,
bayangan kabur dalam kepala aku pun menggemakan  bunyi gempita:
Engkau berbicara. Sesungguhnya, meski pelupuk mataku sayu, pun padat
ragaku begitu rapuh, atau pijakan ringkih kedua belah kaki yang sudah
melampaui letih, aku masih sanggup berkira apa yang engkau lakukan di
telinga aku. Berkata! Atau, engkau meniupkan kata-kata, serupa aku
mengucap kata-kata "Pokok randu, selamat tinggal," melalui jutaan celah
pori-pori yang menghuni seluruh permukaan ari. Dalam tabung tubuh
menelungkup yang terangkat melayang menuju kehilangan di langit hitam
ini, aku mencoba kembali mengingat perkataan yang engkau tiupkan ke
telinga aku, sebelum kesia-siaan menjemput aku dengan satu tikaman,
tepat menghujam bidang payudaraku.

Aku mencari perkataan yang engkau ucapkan dalam relung ingatanku. Tapi,
segala upaya terbuai warna-warni radiasi dari gelinjang nalar pun
gejolak imajinasi yang melantakkan segala peka pada indra pelihat,
peraba, pendengar, penghirup, pengecap, meluruh hingga menghantam
gelombang jiwa gembala yang resah di padang sabana kelana, tapi tak
kunjung aku menemukan keping ingatan yang berisi perhiasan dari aksara
katamu. Ruhku semakin melayang bersama kepulan candu yang membubung,
menarik jiwa yang menggenggam mata, telinga, hidung, lidah dan selimut
kulit jangat yang menjuntai tipis seuntai, menuju kehilangan pada
kegelapan yang samar-samar menyanyikan nur bergemerlapan di kelindan
ranah kekacauan abadi.

Di ranah kekacauan abadi, kelindan jasad dan jiwa selalu bergelut,
bergumul, saling memagut, terkadang menunduk, sampai akhirnya pandu ruh
mengambil tahta berbicara. Aku memutuskan meloncat meninggalkan segala
menuju keheningan, ketiadaan, kekosongan, seragam dengan limpah
kepenuhan yang selalu mengucur meski perlahan serupa irama langkah
engkau yang mendekati aku yang sedang bermabuk ribuan candu.



[Deif Feil]

Monday, 14 August 2006

Tak ada kata kembali. Sementara terang segala benda, mewujud sesuai dengan esensinya. Sempurna.


Anjing jadi kamu, jadi aku. Berubah jadi apa yang kita telah lihat
sebelumnya. Sebelum datang kamu, anjing seperti anjing. Setelahnya
anjing seperti aku. Lucunya aku seperti kamu. Kita menamakannya doggy
style. Sementara anjing sesungguhnya menamakannya ‘sebelum ada kamu’.
Sebelum ada kamu, anjing biasa saja, tak tahu dirinya anjing. Setelah
kau rawat, anjing merasa harus setia, penuh komitmen, menjaga harta
benda, dan tahu diri: hanya anjing. Sebelum ada kamu kematian biasa
saja rasanya, setelahnya kematian begitu menakutkan, mengiba,
berkaing-kaing. Sepertinya anjing tetap anjing, sementara kau dan aku
dapat bertukar tempat. Siapa kamu mempertanyakan kedirianku, membelahku
seperti si buruk rupa. Sementara setiap kali kita bertemu wajah kita
tertukar. Kau persis sepertiku, seperti anjing. Sebelum ada kau dan
aku, anjing tak seperti kita. Sekarang kita bertiga sering bertukar
kata, gerak dan wajah.  Lalu kita menikmatinya, lalu kita
menamainya, lalu kita mengencinginya, lalu kita menguasainya, lalu kita
memperebutkannya, lalu kita melolong bersama, lalu kita memagari diri
kita, lalu kita membuatnya seakan-akan semuanya abadi. Kita bertiga
dalam terang tak berjasad, wujud kita seperti apa tak ada yang tahu.
Sebelum ada kita berdua, anjing merasa dirinya anjing, tentu tidak sama
dengan kita berdua. Sampai kita menera muka pintu rumah kita: awas ada
anjing galak.



widhy |sinau 

Friday, 11 August 2006

Ghibah, Lumpur Panas dan Uang Logam

Kali ini, kita bicara serius. Tentunya setelah (kalau aku tidak salah)
Majelis Ulama Indonesia (MUI), menetapkan infotainment itu termasuk
ghibah. Haram. Dosa. Dan, hasil akhir yang tak terbantahkan (mungkin
juga diperdebatkan), neraka!



Seorang teman mengajukan penawaran kepada saya, "Maukah engkau mengetahui bagaimana caranya menyatukan dosa dengan ibadah?"

Mendengar penawaran itu, terus terang aku terkaget-kaget luar biasa.
Aku pun lantas bersuara dengan (mungkin) seribu tanda seru, "Itu tidak
mungkin!!! (perwakilan dari seribu tanda seru)" Lalu, dengan penuh
kepahaman, aku menjelaskan bahwa dosa tidak mungkin menyatu dengan
ibadah. Saat seorang melakukan dosa, maka adalah mustahil pada saat itu
juga ia melakukan ibadah. "Secara intuitif pun kau sebenarnya mampu
membedakan hal itu." sergah aku kepadanya.

Saat aku sedang asyik-asyiknya menguraikan bantahan, tiba-tiba, muncul
seorang entah dari mana. Seorang itu bergumam. "Apakah mungkin seperti
sekeping uang logam?"  Berulang-ulang. Dan, kami terdiam. Menatap
ke arah si penggumam.



Apa sebab Israel menggempur Lebanon? Lalu, mengapa pula Israel
bersikeras melakukan hal itu; padahal banyak negara yang menghendaki
serangan tersebut dihentikan? Mungkinkah hal itu berhubungan dengan
jumlah sepeda motor yang semakin meningkat di Jakarta? Atau, terkait
dengan pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang akan datang? Rasanya,
seperti membaca sebuah buku yang tak lengkap dan tak jelas. Entah
karena pengarangnya yang rada kurang, atau pembacanya memang kelewat
lambat. Tapi, rasanya semua sudah jelas. Ada apa dibalik penghakiman
Saddam Husein? Atau, kenapa pula Fidel Castro harus sakit? Kapan
manusia bisa pindah ke Mars? Ah, Banjir Kanal Timur (BKT) saja butuh
waktu sampai 2008. Terus buat apa ada Mahkamah Agung? Atau, buat apa
pula Bagir Manan?



Saat ini, lumpur panas dari sumur Lapindo Brantas Inc masih terus
meluncur, mencari permukaan yang baru. Dan, aku mengetik tulisan ini
dimulai dari fatwa. Ghibah! Haram! Mungkin, uang logam!



[Deif-Feil]