| Start: | Jun 3, '06 8:00p |
| Location: | Kedai Buku Sinau, Bekasi Timur I No.32 A, Jatinegara |
Tuesday, 30 May 2006
Poet's Corner 'Doa Anakku'
Poet's Corner; Malam; Sabtu 03 Juni 2006, Jatinegara
Selami Bayangan
direjam gerah
keringat buncah
jalanan riuh
pecah lolongan resah
bayangku setia dilangkah
rasa sepi mencekam
di lelah malam
lampu jalan remang temaram
kaki mengayun keram
bayangku tetap setia
menyilang kelam
dikelana penuh riam
pengembara menyelam
fitrahnya yang bersemayam
bayangan dalang semesta alam
tak kan karam di iklim yang runyam
Februari 2006. Jakarta
Suara Kemarau
makin jauh lari darimu
semakin kerontang melanda
kudatang membawa kemarau
seiring angin kering menerpa
jalan aspal batu koral
menuju bendungan kaki gunung
tubuh renta kebaya lusuh
mencangkung di keteduhan
memalu batu
di hulu
godam mendentam
pecahkan bongkahan
gemericik di pintu air
suara bening nyanyian sunyi
melompong cakrawala
kemukus entah mahkota
kota apa
nafas bukit rayapi permukaan
riak berlarian peluk tepian
kubuang kemarau hati
seiring pulangnya
para kuli batu kali
air mengalir untuk kembali
lentera siang di bahu
menjadi fajar di ufuk sana
1995. Cilacap
Cahaya Diri
ruang yang kudatangi
dijaga kilatan mata belati
mesin menderam lari sembrani
di kerongkong pintu
cermin sudah berdebu
membaca diri
yang adalah wujud kalam
sifat mustafa mulai sekarat
sapa diri dalam sholawat
bias safaat mencuat
di perilaku melekat
bukan dihiasan yang tersemat
"Bacalah"
kueja kejujuran
kutolak penghianatan
kuantarkan apa yang harus
disampaikan
kubuang kedunguan
rindu pada nabi
berjarak rehatan hati
Mei 2006. Jakarta
Lembar Impian
tinggalkan udara ramah
kemas segala kenangan indah
serta impian di selembar ijazah
malam dibedah kereta mendesah
gerus jarak seakan tak pernah lelah
pagi di gerbang kota
di pintu kereta
di setasiun tua
kata terucap sama
"Kalah siapa"
caling caling gedung meranggas
tak mau kalah kota pun beringas
dompet di saku sekejap amblas
masih tersimpankah harapan
menatap lekat lembar lamaran
langkah mulai berat mengayun
samar pandang tujuan
di kumuh terminal bersandar
dalam bis, sajak selembar
dibaca gemetar
berdamai dengan jalanan
tersadar di tikungan jalan
oleh setumpuk puisi penuh coretan
hari hari dilipat tahun
dalam syair tahun tahun dilarungkan
tabrak kebuntuan
lantang penyair jalanan
Januari 2006. Jakarta
Nyala Puisi
sepi
terus sepi
tantang yang bernyali
arungi sunyi sendiri
susuri jembatan gelap
sempit tak bertepi
dengan obor yang nyalanya
tidak lebih terang dari temaram
baranya kata kata
diludahi pekat dengus udara
disangga puisi
dari lika liku kekalutan
asap menyebar perih
deretan mata memicing
seperti kelilipan
lalu berpaling
daun daun segera menggulung
layar dikancing gelombang
nujum apa yang harus dibakar
dirapal bibir kering gemetar
Maret 2006. Jakarta
Temy Melianto, kelahiran Ciamis, 1976. Kini, tinggal di Pamulang
direjam gerah
keringat buncah
jalanan riuh
pecah lolongan resah
bayangku setia dilangkah
rasa sepi mencekam
di lelah malam
lampu jalan remang temaram
kaki mengayun keram
bayangku tetap setia
menyilang kelam
dikelana penuh riam
pengembara menyelam
fitrahnya yang bersemayam
bayangan dalang semesta alam
tak kan karam di iklim yang runyam
Februari 2006. Jakarta
Suara Kemarau
makin jauh lari darimu
semakin kerontang melanda
kudatang membawa kemarau
seiring angin kering menerpa
jalan aspal batu koral
menuju bendungan kaki gunung
tubuh renta kebaya lusuh
mencangkung di keteduhan
memalu batu
di hulu
godam mendentam
pecahkan bongkahan
gemericik di pintu air
suara bening nyanyian sunyi
melompong cakrawala
kemukus entah mahkota
kota apa
nafas bukit rayapi permukaan
riak berlarian peluk tepian
kubuang kemarau hati
seiring pulangnya
para kuli batu kali
air mengalir untuk kembali
lentera siang di bahu
menjadi fajar di ufuk sana
1995. Cilacap
Cahaya Diri
ruang yang kudatangi
dijaga kilatan mata belati
mesin menderam lari sembrani
di kerongkong pintu
cermin sudah berdebu
membaca diri
yang adalah wujud kalam
sifat mustafa mulai sekarat
sapa diri dalam sholawat
bias safaat mencuat
di perilaku melekat
bukan dihiasan yang tersemat
"Bacalah"
kueja kejujuran
kutolak penghianatan
kuantarkan apa yang harus
disampaikan
kubuang kedunguan
rindu pada nabi
berjarak rehatan hati
Mei 2006. Jakarta
Lembar Impian
tinggalkan udara ramah
kemas segala kenangan indah
serta impian di selembar ijazah
malam dibedah kereta mendesah
gerus jarak seakan tak pernah lelah
pagi di gerbang kota
di pintu kereta
di setasiun tua
kata terucap sama
"Kalah siapa"
caling caling gedung meranggas
tak mau kalah kota pun beringas
dompet di saku sekejap amblas
masih tersimpankah harapan
menatap lekat lembar lamaran
langkah mulai berat mengayun
samar pandang tujuan
di kumuh terminal bersandar
dalam bis, sajak selembar
dibaca gemetar
berdamai dengan jalanan
tersadar di tikungan jalan
oleh setumpuk puisi penuh coretan
hari hari dilipat tahun
dalam syair tahun tahun dilarungkan
tabrak kebuntuan
lantang penyair jalanan
Januari 2006. Jakarta
Nyala Puisi
sepi
terus sepi
tantang yang bernyali
arungi sunyi sendiri
susuri jembatan gelap
sempit tak bertepi
dengan obor yang nyalanya
tidak lebih terang dari temaram
baranya kata kata
diludahi pekat dengus udara
disangga puisi
dari lika liku kekalutan
asap menyebar perih
deretan mata memicing
seperti kelilipan
lalu berpaling
daun daun segera menggulung
layar dikancing gelombang
nujum apa yang harus dibakar
dirapal bibir kering gemetar
Maret 2006. Jakarta
Temy Melianto, kelahiran Ciamis, 1976. Kini, tinggal di Pamulang
Tak Ada Kamu, (...) Apalah Artinya Kamu?
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Other |
23.04. pada sebuah lipatan. Aku duduk di depan televisi Akira sembari menikmati seduhan air plus teh celup yang sudah tinggal seperempat gelas.
Seorang lelaki memasuki sebuah rumah. Melihat tampangnya, aku mengingat satu kata yang dapat mewakili keseluruhan suasana batin dia: kesusahan. Tapi, yang paling memikat adalah sebuah pertanyaan: apakah aku sedang menonton film? Memang, diawal sudah diberi peringatan, genre: video prosa. (Ah, entah apa pula yang sedang diujicobakan?)
Aku jelaskan, perasaan itu timbul karena aku melihat tampang pun perawakan Ricardhus Ardhita. Maaf, aku harus menyebut; mungkin karena aku terbiasa menikmati sinetron yang mengandalkan tampang, hingga aku berkesimpulan: sepertinya bukan film, tapi dokumenter. Mungkin, Gama bisa saja berkomentar bahwa dia adalah aktor yang hebat, atau merupakan lulusan casting terbaik yang sudah dilakukan pihak produksi, atau segala macam argumentasi yang dibangun, dikukuhkan lalu menjadi kokoh. Oke, kalau begitu; perkenankan aku menggunakan perbandingan untuk memperjelas masalah; setelah paragraph ini.
Selang beberapa detik, tampang lelaki pun berganti. Layar terisi wajah seorang perempuan. Galih Pacar Ungu, namanya. Mengingat Galih, mengingatkan aku pada rasa yang tercipta dalam kisah roman Romeo dan Juliet; saat keduanya saling bertatapan mata dalam suatu pesta. Dan, karena Galih Pacar Ungu ini pula aku jadi memiliki kemampuan untuk menyimpulkan bahwa 'pada sebuah lipatan' adalah film. Oke, tentu saja aku tidak memungkiri, pikiran itu hasil dari tradisi menonton televisi di tanah air sendiri.
Ricardhus dan Galih, diam. Sepanjang film, kalaupun video prosa dapat diterima langsung masuk kedalam kategori film tanpa melalui perdebatan panjang, Ricardhus dan Galih, diam. Kediaman yang mereka lakukan sebenarnya tidak memiliki makna apa-apa; selain tampang: Ricardhus tampak susah, murung, resah, gundah, beragam siksa batiniah seakan berkumpul dalam dirinya; Galih tampak sedikit riang, baik hati, pemurah, pendiam, tentu saja ayu. Tapi, tak ada sesuatu yang berarti dari mimik yang mereka tawarkan; bila saja Teguh Hati tidak bermain menjadi penata musik di balik layar. Atau, Kelly sebagai penata cahaya (meski hasil yang didapatkan sebenarnya tidak optimal, menurut aku). Apa yang diperagakan oleh Ricardhus dan Galih, tak lebih dari aksi aktor Tora Sudiro dalam film 'Banyu Biru'. Tora Sudiro hanya mampu menyusah-nyusahkan tampang saja, tapi yang terasa malah dia tidak susah. Tora hanya mencoba seakan-akan tampak susah; hingga monolog pun harus dibuat untuk menambah efek resah. Sebabnya: tentu saja diakibatn tampang yang tidak memberikan tampilan kesusahan yang menyatu. Dalam bahasa sederhana, Galih dan Ricardhus serupa Tora Sudiro, memerankan kediaman dengan mimik yang tak utuh. (Hei..., aku pikir itu pekerjaan aktor kaliber; seperti kelompok Warung Kopi DKI. Hahahaha....)
Karena ketiadaan makna yang kutemukan didalam pewujudan si tokoh, aku pun beralih ke lukisan, bangau kertas, sofa, kipas angin, mug, baju coklat dan ungu Galih, kemeja lengan panjang Ricardhus yang entah berwarna apa, dilipat hingga persikuan, dapur, komputer tenteng, cermin, pisau cukur, lampu, pintu, gagang pintu, yang ternyata, tak memberikan pengertian apapun bagi aku. Hingga,
aku pun mengulang film untuk kedua kali. Ricardhus muncul, Galih muncul. Aku mencoba mendeteksi musik dan pencahayaan. Aku tertawa. Lalu, bertanya: ada apa dibalik lipatan? Cuma ada kenangan. Apa pula fungsi kenangan? Tak ada yang jelas; utamanya dalam 'pada sebuah lipatan'. Terlalu banyak yang harus diserahkan kepada penonton, aku rasa bukanlah film yang mencerdaskan. Haruskah bangau kertas merah yang tertimpa gelas atau tiupan kipas yang menerbang semua bangau;
sedikit menginterupsi: bangau kertas adalah simbolisasi harapan (tapi, harus diingat juga, 1000 bangau kertas simbolisasi harapan yang bakal terwujud);
menjadi alasan untuk mengenang harapan yang terbang? Harapan yang hilang? Harapan Ricardhus didalam diri Galih. Tak ada yang bisa aku benarkan. Harapan itu ada. Tapi, entah siapa yang berharap. Bukan Galih, bukan Ricardhus, mungkin; hanya aku saja yang berharap 'pada sebuah lipatan' memberikan kejutan diakhir. Tapi, ternyata tidak; meski harus aku akui aku sempat tergoda untuk menyimpulkan bahwa pada dasarnya video prosa penyerta buku 'kupu-kupu bersayap gelap' memang telah mengalami penggarapan ide yang matang. Sayangnya, pengejawantahan ide itu sendirilah yang ternyata menjadi masalah. Atau, ini semua karena aku yang kurang cerdas. Bisa jadi. Tapi, bisa juga tidak.
[David Tobing]
Bahasa Muslihat pada Suatu Pagi Yang Aneh Setelah Bercengkrama Lama di Rumah Merah Malam Sebelumnya
Ada sebuah lelucon lama berikut ini:
Pertanyaan: Bagaimana caranya agar kita tahu kapan politisi berbohong?
Jawab: Setiap kali mereka berbohong,
mereka selalu menggerakkan bibir mereka. (Artinya politisi tidak pernah
berhenti berbohong dan selalu berbohong –masa?)
Jadi begitu. Politisi layaknya.
Kawan di kedai bertanya, baik-buruk adalah benar. Manusia harus otonom.
Baik-buruk sama dengan benar. Sebuah keputusan pilihan. Bisa jadi.
Tergantung asal-usul. Yang mana saja. Dimana salah. Berdiam di
kemiskinan dan kematian. Ini Indonesia.
30 menit yang lalu sambil makan ketupat tahu di kost:
Orang Indonesia tidak takut dengan dosa. Juga sukar memberi maaf.ada cerita sufi kira-kira seperti ini:
‘sebayangan berkelabat melintas
jembatan titian rambut di belah tujuh, penghubung pengadilan dengan
kemerdekaan (angggaplah seperti surga)—bayangan siapa itu? Kasak kusuk
pencari tahu? Bayang orang yang rajin beribadah, mungkin. Bayangan
orang yang selalau menepati janji. Termasuk ketika dipanggil oleh
tuhan. Banyak sekali orang seperti ini di Indonesia. Ah masa, ah iya.
Ah masa.
Tanya saja ke yang lebih tahu.
Duhai junjunganku, bayangan siapakah itu.
Bayang orang yang selalu memberikan
maaf atas kesalahan orang lain terhadap dirinya sebelum ia berangkat
tidur, dan meminta ampunan pada tuhan atas apa yang telah ia lakukan
seharian.
Hanya seperti itu? Bukan, semua itu adalah persoalan kualitas. Bukan penjumlahan.
1 mingggu yang lalu di kedai:
bayangan siapa itu yang menuju sorga dengan cepat?
Ah dasar si Komeng.
{ jembatan titian serambut di belah tujuh hancur setelah Komeng lewat, lagukan--tuhan-tuhan ya maha force one--}
2 menit sebelum tulisan ini dibuat:
di Indovision seperti tiba-tiba muncul film I Excuse.
‘...saya akan pergi ke Indonesia jika ternyata saya gagal dan kalah dalam pengadilan nanti...’
kata seorang dokter yang terbukti secara medis lewat penelitian DNA memperkosa dan menyebabkan kehamilan seorang pasiennya.
‘mengapa’
[1] pertama saya orang indonesia
[2] saya yakin bisa menang dalam pengadilan di Indonesia, uang saya kan banyak.
1 bulan lalu di kedai yang sama:
Saya warga Indonesia Raya. Indonesia sekarang bukanlah Indonesia Raya.
Seseorang memaksa saya membuka kedai lebih awal cuma ingin menengok ke dalam. Katanya lagi, ‘saya ketemu kawan pagi ini’
Saya terenyuh, saya juga fasis, kok. cuma belum ada kesempatan.
‘tuhan masih sayang’
saya masih berbuat dosa
‘asal ada pertobatan’
saya masih meragukan
‘asal terus mencari jawaban’
3 detik yang lalu tulisan belum selesai sms berbunyi
‘assalamu’alaikum. Mas, masih punya link ke lsm, partai politik, tokoh gak. Aku benar-benar butuh bantuan neh.’
dijawab:
Terpikir maunya begitu. Tapi sekarang aku benar-benar mengacau sendirian.
Habiskah? belum?
Sebelumnya ada ketulusan kawan seperjalanan, semoga mas dan kawan-kawan
yang mengitari selalu mendapatkan kemudahan dalam pencapaian tujuan.
Di koran pagi
Politisi Taiwan berkata, ‘petani sesungguhnya penggerak roda ekonomi’
Politisi Indonesia (sebelumnya adalah akademisi-intelektual arus utama-,’jangan munafik, korupsi justru menjadi penggerak roda ekonomi’
Orang Indonesia buat apa percaya dosa.
Adakah jaminan? Sebagian percaya baik-buruk adalah benar.
[rasanya seperti kertas yang diremas, tulisannya luntur kena keringat, pagi gugur ditabrak aneh, sebelumnya Rumah Merah meriah]
Kita buat ayat-ayat sendiri.
Aturan pakai:
Tak ada yang haram.
Tak ada portal.
Tak ada yang menyelinap.
Tak ada yang selingkuh.
{he he he kembali ke bait pertama: setiap keputusan adalah politik}
widhy | sinau
Pertanyaan: Bagaimana caranya agar kita tahu kapan politisi berbohong?
Jawab: Setiap kali mereka berbohong,
mereka selalu menggerakkan bibir mereka. (Artinya politisi tidak pernah
berhenti berbohong dan selalu berbohong –masa?)
Jadi begitu. Politisi layaknya.
Kawan di kedai bertanya, baik-buruk adalah benar. Manusia harus otonom.
Baik-buruk sama dengan benar. Sebuah keputusan pilihan. Bisa jadi.
Tergantung asal-usul. Yang mana saja. Dimana salah. Berdiam di
kemiskinan dan kematian. Ini Indonesia.
30 menit yang lalu sambil makan ketupat tahu di kost:
Orang Indonesia tidak takut dengan dosa. Juga sukar memberi maaf.ada cerita sufi kira-kira seperti ini:
‘sebayangan berkelabat melintas
jembatan titian rambut di belah tujuh, penghubung pengadilan dengan
kemerdekaan (angggaplah seperti surga)—bayangan siapa itu? Kasak kusuk
pencari tahu? Bayang orang yang rajin beribadah, mungkin. Bayangan
orang yang selalau menepati janji. Termasuk ketika dipanggil oleh
tuhan. Banyak sekali orang seperti ini di Indonesia. Ah masa, ah iya.
Ah masa.
Tanya saja ke yang lebih tahu.
Duhai junjunganku, bayangan siapakah itu.
Bayang orang yang selalu memberikan
maaf atas kesalahan orang lain terhadap dirinya sebelum ia berangkat
tidur, dan meminta ampunan pada tuhan atas apa yang telah ia lakukan
seharian.
Hanya seperti itu? Bukan, semua itu adalah persoalan kualitas. Bukan penjumlahan.
1 mingggu yang lalu di kedai:
bayangan siapa itu yang menuju sorga dengan cepat?
Ah dasar si Komeng.
{ jembatan titian serambut di belah tujuh hancur setelah Komeng lewat, lagukan--tuhan-tuhan ya maha force one--}
2 menit sebelum tulisan ini dibuat:
di Indovision seperti tiba-tiba muncul film I Excuse.
‘...saya akan pergi ke Indonesia jika ternyata saya gagal dan kalah dalam pengadilan nanti...’
kata seorang dokter yang terbukti secara medis lewat penelitian DNA memperkosa dan menyebabkan kehamilan seorang pasiennya.
‘mengapa’
[1] pertama saya orang indonesia
[2] saya yakin bisa menang dalam pengadilan di Indonesia, uang saya kan banyak.
1 bulan lalu di kedai yang sama:
Saya warga Indonesia Raya. Indonesia sekarang bukanlah Indonesia Raya.
Seseorang memaksa saya membuka kedai lebih awal cuma ingin menengok ke dalam. Katanya lagi, ‘saya ketemu kawan pagi ini’
Saya terenyuh, saya juga fasis, kok. cuma belum ada kesempatan.
‘tuhan masih sayang’
saya masih berbuat dosa
‘asal ada pertobatan’
saya masih meragukan
‘asal terus mencari jawaban’
3 detik yang lalu tulisan belum selesai sms berbunyi
‘assalamu’alaikum. Mas, masih punya link ke lsm, partai politik, tokoh gak. Aku benar-benar butuh bantuan neh.’
dijawab:
Terpikir maunya begitu. Tapi sekarang aku benar-benar mengacau sendirian.
Habiskah? belum?
Sebelumnya ada ketulusan kawan seperjalanan, semoga mas dan kawan-kawan
yang mengitari selalu mendapatkan kemudahan dalam pencapaian tujuan.
Di koran pagi
Politisi Taiwan berkata, ‘petani sesungguhnya penggerak roda ekonomi’
Politisi Indonesia (sebelumnya adalah akademisi-intelektual arus utama-,’jangan munafik, korupsi justru menjadi penggerak roda ekonomi’
Orang Indonesia buat apa percaya dosa.
Adakah jaminan? Sebagian percaya baik-buruk adalah benar.
[rasanya seperti kertas yang diremas, tulisannya luntur kena keringat, pagi gugur ditabrak aneh, sebelumnya Rumah Merah meriah]
Kita buat ayat-ayat sendiri.
Aturan pakai:
Tak ada yang haram.
Tak ada portal.
Tak ada yang menyelinap.
Tak ada yang selingkuh.
{he he he kembali ke bait pertama: setiap keputusan adalah politik}
widhy | sinau
Monday, 29 May 2006
pada sebuah lipatan: adakah yang nyaman pada masa lalu yang begitu egois meninggalkan yang lain yang selalu menawarkan kenyamanan a.k.a sebagai kewajiban
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Independent |
pada sebuah lipatan. rasa bersalah. yang menjadi sebab utama. mungkinkah rasa senang menjadi sebab kembali ke ruang yang lama ditinggalkan. bukankah senang itu bersama-sama. mari bergembira bersama-sama.
pada sebuah lipatan. kekuatan diam adalah kekuatan sejarah yang sesungguhnya. sehingga menjadi multitafsir. tawaran untuk diam adegan per adegan yang merupakan kekuatan. satu persatu ruang dimasuki. satu persatu ruang hadir. satu persatu ruang tak jadi ruang sebelumnya. sekarang jadi tujuan pencarian. adakah bertemu kejutan-kejutan.
pada sebuah lipatan menyembunyikan kekuatan justru pada lipatan. kejutan pertama adalah barisan bangku yang ditutupi kain putih seakan begitulah kita meninggalkan rumah untuk sekian lama. kamar-kamar tertutup dibuka pintu nostalgia satu-satu. demi satu. kembali mengingat.
Pasangan yang mengabaikan isterinya.
Perempuan yang mengisi waktu luang sendirian.
Pasangan yang bekerja keras.
Perempuan yang rajin memperhatikan.
Pasangan yang asik sendiri.
Perempuan yang suka tersenyum, pendiam, bekerja.
Pasangan yang ingin kembali.
Perempuan telah pergi.
Pasangan yang membuatkan kopi.
Laki-laki yang tidak begitu peduli.
pada sebuah lipatan: sebuah main-main. cukup mengganggu jika ditonton lebih dari satu kali. dua-tiga kali cukup membantu melihat detil adegan. mulai pergantian baju laki-laki. kegiatan yang berganti oleh laki-laki. tidak begitu dengan sang isteri. ada yang terus bersembunyi dalam sebuah lipatan.
entah jika cuma menonton sekali. sepertinya simbol begitu jauh. atau terlalu dekat dengan keseharian.
widhy | sinau
Judul Film | pada sebuah lipatan
Pemain | Richardus Ardita
Galih Pacar Ungu
Penulis naskah | Gama Marhaendra
Penata musik |Teguh Hari
Penyutradaraan| | Andi Seno Aji
Chandra Hutagaol
Gama Marhaendra
KAUMANA
Lukai aku. Aku balik melukaiku. Ini persoalan ibadah. Sepanjang sajadah
aku melupakanmu. Sepanjang doa juga aku meninggalkanmu. Keimanan ini
seperti kelambu. Takut dengan nyamuk, tidak takut dengan pikiran
sendiri. Nyamuk bertambah. Kelambu jadi berlapis. Pikiran aman. Stabil.
Terkendali. Kita pikirkan hal lain: yang membuat gatal orang. Kita jadi
nyamuk. Biarkan saja orang yang tidak berkelambu. Kenapa tak punya
pertahanan seperti kita. Atau darah mereka pahit. Atau kulit mereka
badak. Atau mereka tak punya pengalaman dengan nyamuk. Nyamuk rekaan
ini akan keluar siang atau malam. Kaumana bicara terus tentang tuhan
tapi semakin jadi hantu. Kaumana kering seperti bukit kapur yang
memantulkan setiap bayang. Kaumana fatamorgana. Datang di jam dua belas
siang di jalan yang lurus. Saat menjelang sore kau lelap, seharusnya
kau terjaga. Jaga nyamuk di jaga monyet. Jangan berahi terus yang kau
pikirkan, seolah ibadahmu penuh dengan rekaan mesum tentang asal yang
tak pernah kau pelajari muasalnya selain dari cerita masa kecil.
Kaumana kurus kurang makan. Pikirannya kerasukan. Lupa membasuh tangan,
wajah, Seharusnya kita berjumpa di waktu lalu. Sehingga kita mudah
bicara. Kaumana pergi. Dunia ingkar janji. Kaumana cari-cari luar.
Dalamannya bolong. Ditutup kelambu. Biar bisa telanjang. Dan anti
nyamuk. Kaumana jadi nyamuk. Bawa tombak ke setiap tempat. Kaumana
hendak apa. Apa? Apa? Kaumana susah mendengar. Katanya cuma suara
tertentu yang jadi arah. Suara lain suara lain suara lain sulih suara.
Tidak penting. Arah mana arah mana arah mana-mana. Tidak penting.
Tertentu, mungkin. Penentu pasti. Ditentukan, kebiasaan. Penentuan
bukan pilihan yang begitu disuka. Kaumana apa yang berselaput,
berselimut sore-sore. Vertigo. Dunia bukan ingkar janji cuma jungkir
balik. Biasa. Kebanyakan tidur. Lupa makan.
Kaumana berkawan dengan Manakau. Tak ada yang tahu sejak kapan. Manakau
tempat aku tempat kau tempatan kaku. Manakau ternyata Kaumana. Dimana
tak jelas juga. Manakau Kaumana. Tanya Nyata.
{bayangkan ada denting gitar-bayangkan saja}
Tanya Nyata. Cinta atau luka. Yang ada di kedalaman bla-bla-bla.
Keduanya mungkin memusuhi nyamuk. Mahluk kecil yang lucu
bentuknya. Namun mantap bertenaga. Nyamuk cuma bisa dikalahkan
perusahaan racun multinasional penghasil segala racun pengganti
obat-obatan. Adakah yang lebih murah? Ada: upah. Kaumana adalah Manakau
upahan. Doa, doa biar bertenaga ada ransum buat yang ramah, berdaya
tahan tinggi, dan sentimentil. Biar seperti penebar racun sejati yang
dihargai sampai mati. Dunia ingkar janji. Obat vertigo ternyata racun
serangga.
{bayangkan saja obat nyamuk sebagai senjata-bayangkan saja-berapa yang telah mati di seluruh dunia}
Pusing tujuh keliling.
Dunia ingkar janji.
Umur nyamuk sembilan hari.
Umur Kaumana tak tentu.
Umur Manakau tertentu.
Ditentukan yang tertentu Kaumana dan Manakau saling pandang.
Jadi nyamuk lumayan. Sembilan hari.
Tak tentu. Tertentu. Tetap. Ditentukan.
Tanya Nyata. Mau apa lagi.
disini Kaumana kering kembali.
Manakau hilang di peraduan.
Jadi nyamuk kejam penghisap darah yang dingin tertawa-tawa melihat korbannya.
{bayangkan tawa nyamuk membahana-kehadirannya saja mengganggu telinga}
Kaumana kehilangan ruang. Semua dimasuki Manakau.
Tanya Nyata. Sesiapa yang asing jika bukan Kaumana yang sedang dimabuk cinta. Kencan Lupa.
Tersenyum sendiri. Aku asing. Kaumana bergumam. Aku asing.
Apakah orang-orang ingat pada bentuk. Kaumana berkaca. Sok cantik gertak Genit.
Seperti ini rupanya. Kaumana melihat nyamuk remuk ditepuk adik yang
belajar melawan gatal. Tamparan tangan mengamuk tidak cukup sekali
mendera tubuh nyamuk, plak, plak, plak, plak. Bukan kebetulan adik
semakin mahir menampar. Pengasuh menyibak udara dengan aroma racun
serangga buatan induk semang. Hari ini tujuh nyawa tanpa ditanya. Plak.
Usai. Tak perlu kelambu, kan.
Manakau ikut menggelepar mati kegirangan.
Apakah mungkin aku lupa jatuh cinta.
{bayangkan Iga Mawarni jadi nyamuk-menggigit sampai meninggalkan bekas-bayangkan saja Kasmaran, nyamuk, empuk dan jazz}
Au rasanya. Au. Au.
widhy | sinau
Tuesday, 23 May 2006
Mbah Maridjan-Gunung Merapi, Arum Prameswari-Soeharto-Mochtar Pabotinggi, Goenawan Mohamad-Ahmadinejaad-George W. Bush, Pertemuan Aku dan Kau
Wua...lah!?!
Nama :
Maridjan
Gelar : Raden Ngabehi Surakso Hargo
Panggilan : Mbah
Maridjan
Tahun Lahir : 1927
Istri : Mbah Putri
Pekerjaan :
Jaga Merapi sejak 1974
Tambahan : 1982 diangkat Sri Sultan
Hamengku Buwono IX menjadi Juru Kunci Merapi
Nama :
Gunung
Panggilan : Merapi
Tempat Lahir : Zona subduksi lempeng
Indo-Austalia dan Eurasia, bagian selatan Pulau Jawa
Tahun Lahir :
? (Klaim : Gunung termuda di Pulau Jawa)
Tinggi : 2.968 meter di
atas permukaan laut
Tipe : Stratovolkano
Tambahan : Sejak 1548,
tercatat meletus 68 kali.
Wua...lah!?!
Dia, Arum
Pawestri, warga Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. 'Dilema Tuntutan Bebas
Soeharto'. Itu, judul surat dia (wua...lah, rasanya, tak pernah aku
menjumpai surat berjudul) di rubrik 'Surat Pembaca' harian Kompas,
Jumat 19 Mei 2006. Singkat surat : atas dasar kemanusiaan, pemerintah
harus membebaskan Soeharto dari segala tuntutan sekaligus memaafkan;
tapi, hal itu tidak berarti menjadi simbol pembebasan para koruptor
kakap lainnya. Dan, Arum pun yakin bahwa masyarakat, mungkin tepatnya
rakyat Indonesia, pasti memaafkan Soeharto.
Dia, Mochtar
Pabotinggi. Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
'Konsekuensi Merangkul Pengkhianatan'. Jelas. Soeharto harus
menjalani proses hukum. Itu menurut Mochtar Pabotinggi di majalah
Tempo edisi 15-21 Mei 2006. Klaim Mochtar : Soeharto mengkhianati
nilai-nilai Pancasila; akibatnya hancurlah seluruh
sendi-sendi kehidupan di Indonesia. Lainnya : sejarah Indonesia
terlalu kelam; tidak ada yang terang; sejarah yang kelam jadi beban
di kepala hingga jalan saja tertunduk. "Saya mau berjalan dengan
kepala tegak," obsesi Mochtar Pabotinggi.
Wua...lah!?!
(Kok pendapat Soeharto tidak pernah terdengar? Malah munculnya...)
Wua...lah!?!
Ahmadinejaad melawat Indonesia, muncul tulisan
'Ahmadinejaad'. Rubrikasi: Catatan Pinggir, majalah Tempo edisi 15-21
Mei 2006. Di bagian akhir risalah, menyinggung George W. Bush yang
tidak mungkin membalas, pun membaca surat Ahmadinejaad, Presiden
Iran. Perkara nilai! Tepatnya, pertentangan nilai. Amerika dengan nilai
yang diakrabkan dengan ajaran Kristen; sebaliknya Iran dengan nilai
yang diakrabkan dengan ajaran Islam. Hasilnya...,
Wua...lah!?! (Kok pada berantam? Yang ngajarinnya ngomong apa ya?)
Kenapa sampah harus
dibuang ke keranjang sampah?
Biar sampah masuk
surga!!!
Wua...lah!?!
[ D a v i d T o b i n g
]
Wua...lah!?!
Subscribe to:
Posts (Atom)