http://digital.library.cornell.edu
Monday, 23 March 2009
Friday, 20 March 2009
TENTANG DEMOKRASI DAN TATA CARA YANG SAKSAMA
Plato: Demokrasi satu-satunya pemerintahan yang baik (setahu saya, selain tiran yang saya akui namun saya benci dengan setulus hati.)
Lenin: Ada dua kecelakaan dalam sejarah. Pertama, Plato pernah hidup dan bersuara. Kedua, Tsar yang keras kepala. (Dan saya adalah pengecualian atas sejarah!)
Einstein: Tak ada E=m.c [kuadrat] bila saya menjadi Presiden atau anggota parlemen.
Freud: Masih pentingkah alasan bagi orang-orang gila?
Kierkegaard: Saya tidak yakin seorang presiden dengan 1.000 anggota parlemen mampu menyelesaikan masalah 200 juta orang. Bila itu terjadi, ngapain saja 200 juta orang itu? Tidur?
Shakespeare: Demokrasi pentas teater. Ada aktor, naskah, konflik, resolusi, dan seterusnya. Bila Anda suka, tetap nikmatilah. Kalau tak, silahkan angkat kaki dan lakukan pekerjaan lain yang lebih penting.
Voltaire: Pekerjaan yang paling menyenangkan bagi saya adalah bagaimana merancang lontaran cemooh dengan elegan tanpa harus berhadapan dengan sanksi hukuman badan. Itulah yang menyebabkan saya ikut serta dalam gelombang dahsyat demokrasi.
Feuerbach: Tutup matamu. Adakah demokrasi?
Thomas Aquinas: Tutup mulutmu Feuerbach!!!
Kundera: Ketika kita mampu meneruskan dan mengembangkan tradisi, aku pikir disitulah hebatnya demokrasi.
Balawan: Karena jazz, saya ada!
Adam Smith: Ingat, demokrasi itu barang langka. Berhematlah!
Sartre: Neraka adalah apa yang tak saya maui. Itu saja ukuran saya menilai segala sesuatu.
(Di tengah kota Jakarta yang luar biasa Jakarta ketika waktu menunjukkan pukul Jakarta)
David Tobing: Mbak, sudah tahu bagaimana tata cara pemilu nanti?
Nani (mahasiswi salah satu universitas di Jakarta): Ya sudah tau lah Mas. [mimik bersemangat]
David Tobing: Bagaimana Mbak?
Nani: Di-COBLOS!!!
David Tobing: Demokrasi adalah co-...
Presiden Ketujuh, Kedelapan, Kesembilan, Kesepuluh, Kesebelas, Keduabelas, Ketigabelas, Keempatbelas, Kelimabelas, Keenambelas, Ketujuhbelas di Indonesia: Demokrasi. Demos adalah rakyat. Kratos adalah kekuasaan. Dari kedua hal tersebut, cuma kekuasaan sajalah yang jelas dan nyata, lainnya: tidak.
Pak Roy: Pemilu adalah sarana bagaimana uang-uang dari kantong-kantong orang-orang kaya mengalir kepada rakyat, entah dengan sablon baju, buat stiker, ikut kampanye. Itu saja dan tak usah berharap lebih jauh. Sepanjang saya hidup hingga 80 tahun, itulah kesimpulan yang saya dapat dari demokrasi.
Bernoulli: Ilmuwan sosial memang dekat dengan setan, monster. Perhatikan saja metafor Hobbes: Le-vi-a-than. Mosnter laut untuk menjelaskan teori kekuasaan dan negara. Bukan itu suatu lelucon. Hahahahaha. Sangat beda dengan ilmuwan alam yang setahu saya tak mengenal setan, monster, atau apapun yang menakutkan. Yang dibutuhkan adalah bukti, dan teori yang mampu menjelaskan, bukan yang mampu menakutkan.
Emak: Awas nanti kalo lo masih belum bayar utang.
J. Oetama: Ada makna dalam setiap hal.
Sutardji Calzoum Bahri: Pada mulanya kata. Berikutnya kata. Dan selanjutnya kata.
Darwin: Inti demokrasi tidak lebih dan tidak kurang dari evolusi.
R.Dawkins: 100 persen betul.
Taufiq Ismail: Bang Yos, Bang Yos, Bang Yos...
Budhiarto Shambazy: Tanpa demokrasi, Politika tak akan ada. Bukan begitu, hoi... Balawan?
Camillio: Dunia bandit!
dvd.tbg
Lenin: Ada dua kecelakaan dalam sejarah. Pertama, Plato pernah hidup dan bersuara. Kedua, Tsar yang keras kepala. (Dan saya adalah pengecualian atas sejarah!)
Einstein: Tak ada E=m.c [kuadrat] bila saya menjadi Presiden atau anggota parlemen.
Freud: Masih pentingkah alasan bagi orang-orang gila?
Kierkegaard: Saya tidak yakin seorang presiden dengan 1.000 anggota parlemen mampu menyelesaikan masalah 200 juta orang. Bila itu terjadi, ngapain saja 200 juta orang itu? Tidur?
Shakespeare: Demokrasi pentas teater. Ada aktor, naskah, konflik, resolusi, dan seterusnya. Bila Anda suka, tetap nikmatilah. Kalau tak, silahkan angkat kaki dan lakukan pekerjaan lain yang lebih penting.
Voltaire: Pekerjaan yang paling menyenangkan bagi saya adalah bagaimana merancang lontaran cemooh dengan elegan tanpa harus berhadapan dengan sanksi hukuman badan. Itulah yang menyebabkan saya ikut serta dalam gelombang dahsyat demokrasi.
Feuerbach: Tutup matamu. Adakah demokrasi?
Thomas Aquinas: Tutup mulutmu Feuerbach!!!
Kundera: Ketika kita mampu meneruskan dan mengembangkan tradisi, aku pikir disitulah hebatnya demokrasi.
Balawan: Karena jazz, saya ada!
Adam Smith: Ingat, demokrasi itu barang langka. Berhematlah!
Sartre: Neraka adalah apa yang tak saya maui. Itu saja ukuran saya menilai segala sesuatu.
(Di tengah kota Jakarta yang luar biasa Jakarta ketika waktu menunjukkan pukul Jakarta)
David Tobing: Mbak, sudah tahu bagaimana tata cara pemilu nanti?
Nani (mahasiswi salah satu universitas di Jakarta): Ya sudah tau lah Mas. [mimik bersemangat]
David Tobing: Bagaimana Mbak?
Nani: Di-COBLOS!!!
David Tobing: Demokrasi adalah co-...
Presiden Ketujuh, Kedelapan, Kesembilan, Kesepuluh, Kesebelas, Keduabelas, Ketigabelas, Keempatbelas, Kelimabelas, Keenambelas, Ketujuhbelas di Indonesia: Demokrasi. Demos adalah rakyat. Kratos adalah kekuasaan. Dari kedua hal tersebut, cuma kekuasaan sajalah yang jelas dan nyata, lainnya: tidak.
Pak Roy: Pemilu adalah sarana bagaimana uang-uang dari kantong-kantong orang-orang kaya mengalir kepada rakyat, entah dengan sablon baju, buat stiker, ikut kampanye. Itu saja dan tak usah berharap lebih jauh. Sepanjang saya hidup hingga 80 tahun, itulah kesimpulan yang saya dapat dari demokrasi.
Bernoulli: Ilmuwan sosial memang dekat dengan setan, monster. Perhatikan saja metafor Hobbes: Le-vi-a-than. Mosnter laut untuk menjelaskan teori kekuasaan dan negara. Bukan itu suatu lelucon. Hahahahaha. Sangat beda dengan ilmuwan alam yang setahu saya tak mengenal setan, monster, atau apapun yang menakutkan. Yang dibutuhkan adalah bukti, dan teori yang mampu menjelaskan, bukan yang mampu menakutkan.
Emak: Awas nanti kalo lo masih belum bayar utang.
J. Oetama: Ada makna dalam setiap hal.
Sutardji Calzoum Bahri: Pada mulanya kata. Berikutnya kata. Dan selanjutnya kata.
Darwin: Inti demokrasi tidak lebih dan tidak kurang dari evolusi.
R.Dawkins: 100 persen betul.
Taufiq Ismail: Bang Yos, Bang Yos, Bang Yos...
Budhiarto Shambazy: Tanpa demokrasi, Politika tak akan ada. Bukan begitu, hoi... Balawan?
Camillio: Dunia bandit!
dvd.tbg
selagi sempat
dear all,
Puisi menempati ruang sukarela, kedermawanan
kepada siapa saja yang betah melakukan kritik
diri. Semangat kebebasannya setidaknya secara
longgar dapat ditafsirkan sebagai sebuah oase
bagi pengelana yang kelelahan.
***
Masa depan selalu imaji. Imaji begitu dekat
dengan keseharian publik (seni) kita. Masa depan
adalah puisi. Puisi berurusan dengan akurasi dan
temu kembali. Puisi secara sadar membuat
akurasi imajinasi dengan mengekstraksikandungan suatu citra, mulai dari sejarahnya,
asal usul, kontur dan tekstur citra: kebanyakan
diwakili kata-kata.
Puisi menempati ruang sukarela, kedermawanan
kepada siapa saja yang betah melakukan kritik
diri. Semangat kebebasannya setidaknya secara
longgar dapat ditafsirkan sebagai sebuah oase
bagi pengelana yang kelelahan.
***
Masa depan selalu imaji. Imaji begitu dekat
dengan keseharian publik (seni) kita. Masa depan
adalah puisi. Puisi berurusan dengan akurasi dan
temu kembali. Puisi secara sadar membuat
akurasi imajinasi dengan mengekstraksikandungan suatu citra, mulai dari sejarahnya,
asal usul, kontur dan tekstur citra: kebanyakan
diwakili kata-kata.
Attachment: modern no 20.pdf
Thursday, 12 March 2009
Friday, 6 March 2009
Aulia Fathi Rabbani-Godilkooh
: yang lahir dari hatiku bersuara lebih keras dari kenyataan
dari gambar yang dibentuk, acak dan abai. dari hal yang tertentu, hidup dan terbakar.
yang datang dengan gurih mentega. dengan alas kata. yang biru dan kelabu. angka-angka dan lingkaran. gema dan skema. manusia dan imajinasinya.
kau begitu bingung membaca. mulailah dengan apa yang tidak ditulis. kau selalu demikian. bersiap. berahasia. berencana. kau selalu demikian. memasak. merangkai. menangis. kau selalu demikian. cantik. mendidih. mengaduh.
yang pertama baru bisa sya la la. sesuai janjiku kau bahagia. selain rumah dan kerja. kopi dan buku. sekarang sya la la. dan kita melaluinya dengan baik. setidaknya kata tetangga. yang selalu bertemu sya la la kala sore bersepeda.
demi pohon mangga dan bambu. yang bicara pada kita. suara-suara dan tetabuhan. yang memaki kita. lampu neon dan laron. kunang-kunang dan kebon singkong. kabut dan aspal basah. perjalanan dan lukisan. affandi dan picasso.
dari negeri blues. adzan dan ratapan budak. darah dan pecut. dari mulut yang bicara politik. dan perasaan yang tertahan. sihir-sihir dan mantra-mantra. dan dongeng moral. pikiran kita tentang tanah. sejarah bukan janji. sayang kita bukan eksil.
mungkin saja sendirian. itu pilihan. aku menggambar burung biru dengan jambul ungu. kau menggambar dengan lebih banyak warna. aku memilih malna ketika membaca callista. sedangkan kau berdoa menghadap ursa major.
bumbu dapur. batagor. sate padang. es krim. dan pemilu. semua atas nama belanja. dan kita sederet barkode. antrian. dunia tak lebih luas dari kamar tidur. di luar sana juga tak kujumpai lagi gempa. bintang yang tak mudah ditangkap ekornya.
kau masih sibuk menafsirkan. selalu bersama makna. dimana ada malu selalu ada mau. dan kita terjebak dalam teks. dibenamkan dalam narasi. hidup ternyata tidak terlalu sederhana. senyum cukup membutuhkan waktu.
yang sunyi. pelataran dan ladang di waktu pagi. amarah. dan kita berpura suka. setengah berpakaian. berdoa kembali. rindu yang di depan. harum dan mabuk. dan kita berdua-dua. terhuyung. saling menguliti.
bingkai dan karat. hibernasi. konstruksi. mitos. mengayuh lalu mengayakan. kecantikan antara. yang diserut atau dicungkil dari belantara. alasan sementara. kepercayaan yang mungkin. mengembang atau mengambang.
demi massa. mahkota mawar. para pemberani. martir yang datang dengan papirus. antara gaza dan ethiopia. arak dan cabai. ikan asin dan mortir. cawan anggur dan salib. kemajuan dan keraguan. aku menemukanmu. tidak lagi sendirian.
widhy | sinau
Subscribe to:
Posts (Atom)