Monday, 23 July 2007

MATA-MATA TOLOL YANG BERJUMLAH BANYAKNYA

 

Suntuk dan gelisah. Dua kata semacam mantra yang menghangatkan amarah dalam tubuh dan kepala saya. Menggelorakan darah, merasuk dalam segala sumsum, meliarkan pandangan. Lalu, pelan saja saya berucap denga  huruf-huruf kapital: HENTIKAN SEGALA KETOLOLAN DAN NIKMATILAH KEBUTAAN!!!

 

Sejak Juli 2007, suntuk dan gelisah bertubi pelan datang. Sastra, bukan satu-satunya bidang di dalam kehidupan ini sekaligus bukan satu-satunya roh kehidupan ini, menggemparkan dunia kenyataan, dunia fakta-persepsi-dan transliterasi. Debatnya, menurut saya, berakar pada soal gampangan. Sayangnya, soal gampangan tersebut berselimut suara delapan oktaf yang memekik-mekik sampai buat tungkik.

Pfuh, seks dalam sastra. Tiga leksem yang dipadu membentuk kalimat tak lengkap itu menjadikan para kita menyemburkan suara. Ada para kita yang menusuk mau membunuh, dan tentu saja ada para kita yang rela menjadi benteng tameng. Para kita yang bertarung seakan menghadirkan Kurusetra yang masuk akal di tubuh dan kepala saya. PARA KITA, LIHATLAH KETOLOLAN YANG BERGULAT NYALANG DALAM MATA KITA!!!

 

Soal Seks (d/s)alam Sastra

Saya tidak begitu paham sastra. Sebabnya, semakin coba saya pahami semakin giat pula sastra bergerak agar tak dapat saya pahami. Saya pun menjadi berputar-putar dalam lingkaran pencarian yang malah menemukan kedunguan. Tapi, saya tegaskan ini bukanlah argumentasi pembatal bagi para kita yang ingin mengajukan kritik pada saya. Silahkan saja para kita maju membantah dan mari buktikan ketololan siapa yang tak terbantahkan.

Baiklah, saya tegaskan bahwa apa yang saya lisankan dalam bentuk huruf ini adalah suatu menggurui—meski saya pernah mendengar dari orang teman yang mendengarnya dari orang sastrawan yang menyatakan bahwa tulisan itu sebaiknya tak menggurui.

Saya menganut azas sastra adalah nama yang diberikan atas salah satu produk kebudayaan yang dihasilkan manusia. Dan, ironisnya pendefenisian mengalami degradasi yang sangatlah parah. Pengertian yang sangat luas dan dalam itu malah dibakar hingga meninggalkan residu berupa pernyataan sastra menjadi sekadar teks belaka. Tapi, yang paling memedihkan lagi ternyata pengertian yang sudah terdegradasi itu dipergunakan untuk mengaitkan sastra dengan kenyataan, sastra yang teks itu mampu mempengaruhi kehidupan kepala serta tubuh para pembacanya. Bah, ketakutan pun bermunculan. Ketakutan bilamana si pembaca teranya-anya lalu terbawa mengikuti cara atau nilai yang ada di dalam sastra yang tak bersesuaian dengan cara atau nilai yang ada di dalam kehidupan dunia nyata. Ini semacam beragam pelarangan siaran televisi atau pelarangan film-film tertentu. Misal, dulu pernah siaran dewasa tengah malam di televisi swasta dikritik lalu pemerintah turun campur mengenyahkan siaran-siaran yang tak bermutu dan memang menurut saya tak bermutu itu. Atau juga, siaran banting-bantingan yang bohong-bohongan yang mengakibatkan kematian banyak bocah di Nusantara. Pemerintah dan kawanan turun campu menghentikan. Perlu dicatat, saya tidak sependapat dengan para kita yang melontarkan argumentasi pelarangan dengan menyatakan bahwa siaran banting-bantingan yang bohong-bohongan di layar kwarsa menjadi penyebab pembunuhan. Argumentasi para kita itu, menurut saya, tak imbang. Para kita melenyapkan satu argument ikatan yakni kepedulian para kita dalam bentuk pengawasan pada para bocah kita. Dan, para kita memang selalu lupa melihat bocah-bocah dengan membelikan para bocah kita satu televisi atau membiarkan para bocah menonton hingga larut malam. Dan bukan mustahil pula ada para kita yang suka menonton acara banting-bantingan yang bohong-bohongan seperti saya misalnya yang untungnya saya tak pernah menonton tayangan tersebut bersama para bocah kita. Seperti begitulah fenomena ‘seks (d/s)alam sastra’, pengertian yang sudah terdegradasi malah diintegralkan untuk melihat kehidupan dunia kenyataan.  

Bersandar pada pemahaman seperti itulah saya menyadari mengapa orang-orang sastrawan bisa terjebak dalam perdebatan soal gampangan itu. Seperti orang (saya tak memaksudkan ‘orang’ sebagai lelaki. ‘Orang’ itu bisa saja perempuan atau lelaki) yang sedang berjalan-jalan di padang hijau rerumputan yang melihat sapi lalu langsung masturbasi karena sapi yang orang itu lihat di dunia kenyataan sudah merasuk ke alam kepala dan tubuhnya menjadi sosok seksi (saya tak maksudkan ‘sosok seksi’ sebagai perempuan. ‘Sosok seksi’ itu bisa saja lelaki atau perempuan) menggairahkan. Bila saja, di hadapan mata saya contoh tersebut terjadi, maka yang menjadi fakta di kepala dan tubuh saya adalah orang yang melihat sapi sambil masturbasi di padang hijau rerumputan. Sedang ‘orang seksi’ yang muncul dalam kepala dan tubuh pengamat itu tidak dapat saya kategorikan sebagai fakta. Bermodalkan fakta sensasi yang hadir di kepala dan tubuh saya itu sajalah saya bisa dan mampu menjelaskan bahwa orang itu gila adanya karena perilakunya menyimpang (tidak mungkin ada orang normal-psikologis-jiwa masturbasi karena melihat sapi). Sayangnya, permasalahan fenomena perdebatan ‘seks (d/s)alam sastra’ bukan dalam contoh demikian. Forma debatan itu sudah meningkat dalam wujud yang sangat, ya ampun, tak terperikan. Sapi yang dilihat orang itu tidak berada di padang hijau rerumputan, melainkan rangkaian huruf-huruf yang membentuk leksem yang membentuk kata yang membentuk kalimat yang membentuk paragraph yang membentuk bab yang membentuk wacana di atas kertas atau kaca atau batu atau di monitor komputer atau malah hologram seperti dalam film-film sains-fiksi produksi Hollywood. Dan, sapi yang begitu itulah yang menjadikan orang pelihat masturbasi. Dan bila saya sebagai pengamat berhadapan dengan situasi demikian, melihat orang yang melihat sapi yang tertulis (tanpa mengetahui apa yang terjadi di dalam kepala dan tubuh orang itu) langsung masturbasi, maka saya pasti tidak menyimpulkan orang itu gila, melainkan tolol. Ketololan seperti ini sebenarnya jamak pula. Sapi yang dilihat diganti dengan buku porno atau filem blue. Tak munafik, saya akui pernah mengalami masa ketololan seperti itu berjaya dalam kepala dan tubuh saya. Bila ada para kita yang tidak pernah terjerumus dalam bentuk laku demikian, sepenuh hati saya salut atas kemampuan para kita membendung naluri alamiah para kita sebagai manusia yang notabene merupakan mahluk biologis, mahluk yang berkehendak melestarikan jenisnya. Jujur hati saya ucapkan salut kepada para kita yang mampu menahan diri agar tak jatuh dalam ketololan seperti itu.

Uniknya, forma perdebatan yang lahir dari ketololan itu, yang entah dengan cara yang bagaimana, menjadi perdebatan yang dipaksa-akarkan pada daya virulensi tinggi nilai atau etika yang ada di dalam teks terhadap nilai atau etika dunia kenyataan. Dalam perspektif demikian, teks menjadi semacam modeling behavior bagi pembaca yang berpotensi untuk mengimplementasikan dalam dunia kenyataan dan perilaku pembaca yang demikian dapat menghancurkan tatanan nilai atau etika yang sudah ada dalam dunia kenyataan. Bila sudah demikian, yang menjadi perhitungan adalah masa depan. Kehidupan yang bakal rusak parah serupa dengan semakin punahnya kayu-kayu di dunia ini. Visi seperti inilah yang hadir di dalam kepala para kita yang menolak ‘seks (d/s)alam sastra’. Kehidupan di masa depan yang didasarkan pada kondisi berjayanya tatanan nilai atau etika yang didasarkan pada modeling behaviour yang dihasilkan teks tentulah menghadirkan suasana mencekam, penuh ketakutan. Dan para kita yang menentang ‘seks (d/s)alam sastra’ memiliki kemampuan menerabas ruang dan waktu sehingga mampu merasakan cekaman dan penuh ketakutan tersebut, hingga para kita itu pun dipaksa oleh keadaan mencekam dan penuh ketakutan itu menjadi pahlawan pemberangus tata nilai dan etika tersebut. Sayangnya, dalam tingkat implementasi para kita itu tak mampu bertindak di ruang dan waktu masa depan itu sendiri. Para kita itu kalah pada masa kini, ruang dan waktu kini. Aksi kepahlawanan para kita pun muncul di masa kini dalam beragam bentuk pemberangusan. Sayangnya, bentuk pemberangusan yang dilakukan para kita, saya rasa jatuh pada level yang mengharukan. Pertempuran di masa kini tidak sebanding dengan pertempuran di masa depan. Saya membayangkan, bila para kita itu hidup di alam masa depan tentu pertempuran yang dilakukan para kita dilakukan dengan cara menawarkan modeling behaviour tandingan. Tapi, di masa kini yang dilaksanakan para kita malah tak seperti itu. Para kita melakukan sesuatu yang lebih rendah derajatnya daripada yang seharusnya para kita lakukan. Inilah yang mengharukan sekaligus memarahkan batin saya.

Rasa haru dan marah dalam diri saya karena tindak tanduk para kita yang menentang gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’ pun berlaku bagi para kita penyokong gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’. Pembelaan yang dilakukan para kita menikung pada jalan memalukan. Beragam fakta sejarah, mulai dari masa Lekra hingga masuk ke era serat-serat di tanah Jawa pun ragam artefak para pendahulu para kita, dipergunakan sebagai serdadu bayaran (untuk frase ‘serdadu bayaran’ saya menghaturkan terima kasih kepada Alfan, sebab dalam bentuk dan makna demikianlah konsep ‘serdadu bayaran’ menjadi nyata dalam kepala dan tubuh saya) menggempur benteng para kita yang berada di kubu menolak gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’. Para kita pendukung gagasan itu memperalat fakta sejarah sebagai cermin agar para kita penolak gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’ merenung.  Tanpa sadar para kita pendukung gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’ mengumbar ketololan yang begitu maha. Di mata saya yang buta, para kita pendukung gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’ serupa pemabuk yang sudah sangat mematikan mabuknya. Fakta sejarah dengan begitu saja dipergunakan tanpa mempertimbangkan nilai atau etika yang diusung teks di dalam fakta sejarah tersebut serta nilai atau etika yang berlaku di dunia kenyataan teks tersebut hidup. Para kita pendukung gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’ sesuka hatinya mengambil fakta sejarah tanpa peduli nilai atau etika yang terkandung di dalamnya lalu menempelkan fakta sejarah itu di tubuh dan kepala serta tulisan para kita. Tindak tanduk para kita ini serupa dengan orang yang sangat ingin makan daging mammoth dengan cara membakar foto-foto mammoth yang ada di buku-buku evolusi mahluk hidup. Foto mammoth disamakan para kita dengan mammoth dan para kita itu pun memakan hasil bakaran foto-foto mammoth sambil berkata, “Alamak, lezat sekali daging ini.” Saya pun takjub menyaksikan ketololan yang diperunjukkan para kita. Para kita dengan bahagia mengambil serat Centhini lalu menyandingkannya dengan teks sastra yang mengandung gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’. Para kita dengan semena-mena menyamadengankan serat Centhini di masa lampau dengan teks sastra yang mengandung gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’ di masa kini tanpa mengkalkulasi, entah itu secara objektif atau subjektif, manakah diantara keduanya yang mencapai tingkap paling berkualitas.

Dihadapkan pada situasi pertarungan para kita atas gagasan ‘seks (d/s)alam sastra’, saya pun harus meralat tanda ‘Kurusetra’ di bagian awal tulisan ini. Pertarungan para kita, menurut saya, kalah modern dari pertarungan antara wangsa Pandawa dan Kurawa di padang Kuru. Tak ada panah atau kereta kuda atau gada atau punggawa berbaju zirah atau tameng bersepuh kuning emas atau tiara bertingkat tiga, bahkan batu pun tidak. Para kita yang bertarung rasanya lebih primitif dari manusia purba sekalipun. Para kita secara vulgar sudah gigit-gigitan, cakar-cakaran bahkan jambak-jambakan tanpa menyadari keberadaan dahan kayu yang jatuh yang bisa para kita pergunakan agar pertarungan terlihat agak inovatif, meski masih jauh dari harapan saya akan bentuk pertarungan yang ideal dari para kita. Demikianlah pertarungan para kita yang matanya kabur terjadi. Demikianlah pertarungan para kita terjadi dengan cara sama-sama memundurkan diri ke masa lampau. Para kita yang sudah mampu menerabas ruang dan waktu hingga sampai di masa depan malah mundur ke masa kini. Sedang para kita yang berada di masa kini pun ternyata mundur juga ke masa lampau. Kepala dan tubuh saya pun tergelak melihat lakon para kita.

 

2007

 

[Deif-Feil]

Sunday, 22 July 2007

NOSTALGIA NASIONALISME, CINTA DI PATAH HATI DAN BAYANG-BAYANG MAHABARATA

(Suatu Upaya Meringkas Piala Asia)

 

“Masa sepakbola bawa-bawa nasionalisme,” kata seorang pemuda yang begitu membanggakan kedunguannya. Sepasang orang muda, yang satu berkaos merah satunya lagi berkaos putih, merengut mendengar. Aku merasa situasi berubah menjadi syair Bhagavad Gita dalam episode Kurusetra.

 

Nostalgia Nasionalisme

Nyaris enam puluh dua tahun umur Republik Indonesia. Sepanjang itulah Belanda resmi angkat kaki, meski mereka sempat berusaha mengagresi Indonesia dua kali dan berakhir gagal. Pekik ‘Merdeka atau Mati’ lagi memang lagi di masa-masa Proklamasi.

Jaman berputar serupa cakra yang menggelinding. Jerman dengan paham rasisnya runtuh sudah. Sovyet juga tenggelam bersama Marxisme-Leninisme tahun 1989 seiring dengan dirubuhkannya tembok Berlin, pembatas Jerman Barat dan Jerman Timur. Kini, di jaman post-modernisme, di jaman globalisasi, nasionalisme menjadi benda usang yang diperjual-belikan di toko loak. Meski begitu, sesekali nasionalisme tampil sebagai barang antik yang diburu kolektor dari seluruh penjuru mata angin. Tak kecuali di Indonesia.

Indonesia tersingkir dari ajang Asian Football Championship 2007. Indonesia, bukan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia alias PSSI. Lebih dari 50.000 penonton, termasuk di dalamnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono, di Stadion Gelora Bung Karno yakin akan hal tersebut setelah Republik Korea Selatan menjaringkan bola satu kali di gawang Marcus Horison. Melalui televisi, jumlah orang yang yakin Indonesia tersingkir bukan lagi 50.000 lebih, melainkan berlipat-ganda menjadi 200 juta-an jiwa.

Meski tidak begitu intens, saya tetap mengikuti setiap pertandingan tim Merah-Putih melalui layar televisi. Setiap pertandingan yang saya lihat memberikan suasana psikologis yang berbeda, yang asing daripada yang saya rasakan di dalam keseharian. Saya begitu meng-Indonesia. Saya bukan orang yang romantis juga nasionalis, tetapi saya heran entah mengapa setiap kali mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan hati saya bergetar-getar. Situasi jiwa begitu mencekam serupa horor yang bersahabat. Dan imajinasi saya pun melangkah masuk ke masa-masa Indonesia berkeringat merebut kemerdekaan. Alam di mana darah tumpah begitu melimpah di lahan Nusantara. Alam yang begitu merindukan cita-cita tahun ’28.

Di tengah landaan perasaan sedemikian, saya sadar bahwa sesungguhnya nasionalisme bukanlah bahasa yang susah untuk dijelaskan. Nasionalisme pada dasarnya adalah pengalaman, situasi kejiwaan. Keinginan menjabarkan nasionalisme dalam seperangkat aturan berbusana, seperangkat kata-kata yang membentuk kalimat, seperangkat tata laku,  menurut saya hanya berujung pada kesia-siaan belaka. Lewat cara demikian nasionalisme tidak menjadi terang dan jelas. Malahan sebaliknya yang terjadi. Nasionalisme hadir dalam bentuk abstrak, njilmet dan bisa memasung kebebasan.  Dan karena itu pulalah, nasionalisme pun mudah untuk disangkal—seperti yang dilakukan seorang pemuda yang begitu membanggakan kedungguannya di hadapan aku dan sepasang orang muda. Sebagaimana seperangkat aturan berbusana, seperangkat kata-kata yang membentuk kalimat, seperangkat tata laku yang memuat penjabaran nasionalisme mudah dibangun, maka semudah itu pulalah nasionalisme diruntuhkan. Seenteng menyusun sendi argumentasi pendukung nasionalisme, maka kelompok penentangnya pun akan mudah pula menyusun sendi argumentasi penangkal nasionalisme. Apalagi setelah kredibilitas rasio semakin dipertanyakan di penghujung abad ke-20 oleh para filsuf-filsuf kenamaan dunia. Maka, pengalaman pun tampil ke permukaan menawarkan cara dan metode pengenalan dan pendekatan yang lebih ampuh untuk menjabarkan nasionalisme. Di era sekarang ini, masa-masa penjajahan sudah tidak ada lagi, kelihatannya olahraga merupakan media paling tepat bagi pengajaran nasionalisme, terutama sepakbola. Sebabnya, cabang olahraga ini memiliki daya lebur kelas sosial yang begitu mematikan. Melihat tiga pertandingan kesebelasan Merah-Putih di Gelora Bung Karno melalui televisi, saya tidak merasa ada perbedaaan kelas yang jelas di antara penonton hadir, sekalipun mereka duduk di barisan VIP atau sekadar tribun kelas dua dengan harga tiket Rp15.000. Dan, memang nasionalisme sesungguhnya bekerja atas dasar peleburan kelas menuju satu keinginan bersama, Indonesia berjaya di ajang sepakbola dunia, di ajang perekonomian dunia, di ajang budaya dunia, di ajang bahasa dunia, di ajang pendidikan dunia, di ajang teknologi dunia, di ajang diplomasi dunia.

Sayangnya, nasionalisme di Indonesia jatuh pada pengalaman temporer belaka. Nasionalisme bukanlah pengalaman keseharian yang kolektif di Indonesia. Nasionalisme hanya milik segelintir orang di negeri ini. Dan saya merasa tak layak untuk menjawab mengapa seperti itu keadaannya. Nasionalisme di Indonesia hadir serupa kaset yang dibeli hanya untuk didengar sesaat dan setelahnya dibuang atau dijual ke toko loak hingga tiba suatu masa para kolektor dadakan pun berjibun antri membelinya sekadar ingin bernostalgia belaka.

 

Cinta di Patah Hati

Sejak Piala Asia digelar, ratusan kostum Merah-Putih laris manis di pasaran. Ribuan pemain ke-dua belas ikhlas membeli kostum dan dengan bangga mengenakannya dalam perjalanan dari rumah menuju Stadion Gelora. Rasanya, seperti orang pacaran saja. Para penonton hadir sebelum janji pertandingan dimulai. Memang, di sana para pemain ke-dua belas dan kesebelasan Indonesia sedang dimabuk cinta pada kata ‘Menang.’ Apalagi, ‘Ini kandang kita!’

Namun, kini semuanya pupus sudah. Meski Indonesia tak perlu angkat koper, tapi hati tetaplah sedih. Asmara yang mereka harapkan punah ditelan Kerajaan Arab Saudi dan Republik Korea Selatan. Tapi, apa mau dikata. Segala upaya sudah tumpah, mulai dari keringat, tabuhan gendang hingga teriakan. Semuanya tak cukup untuk membuat Sang Kekasih bertekuk lutut. Ada ujar yang mengatakan, “Mungkin Dewi Fortuna masih di Italia atau Yunani atau Belanda atau Amerika malah. Dia tak sempat berjalan-jalan ke Asia, dan singgah di Indonesia.”

Sedikit berlagak bijak, saya merasa Indonesia belumlah menjadi Don Juan di lapangan sepakbola. Meski begitu, patutlah diingat pula bahwa Don Juan tidak lahir dari sukses belaka. Reputasi kisah cintanya yang melimpah ruah tentulah buah dari duri-duri kegagalan yang berhasil diaenyahkan. Demikianlah cinta adanya. Dibutuhkan kerja keras, ketulusan, keseriusan dan jam terbang yang lama. Pengalaman lagi-lagi menjadi yang utama; dan dalam hal ini patah hati Indonesia di lapangan bola masih terbilang terlampau sedikit. Itu tak cukup buat modal bersaing dengan Don Juan lapangan hijau lainnya, semisal saja Kerajaan Arab Saudi, Republik Korea Selatan atau Jepang. Apalagi Brasil, Argentina, Italia pun Belanda. Padahal, Sang Kekasih yang bernama Kemenangan alias Victory itu juga merupakan idaman hati dari ratusan tim yang ada di Bumi ini.

Kekalahan di ajang Piala Asia pasti membuat Indonesia bersedih. Tetapi, yang penting adalah bangkit dari kesedihan. Sebab harus diingat pula, Sang Kekasih di lapangan sepakbola yang bernama Kemenangan itu selalu setia menanti, meski senang berganti-ganti pasangan. Kerja keras dan ketulusan dan keseriusan adalah hal yang patut diprioritaskan setelah jam terbang masuk kategori tak terkalahkan. Setidaknya, itulah yang saya ketahui setelah melihat sepasang orang muda, yang satu berkaos merah satunya lagi berkaos putih, saling senyum. Saya sempat mengingat aura lesu dan layu yang terlukis di wajah keduanya ketika peluit panjang berbunyi dan babak kedua pun selesai dengan skor 1-0 untuk Republik Korea Selatan. Saya hanya bisa menyimpulkan, “Sepertinya mereka sudah kuat menahan patah hati,” sambil tertawa-tawa sendiri.

 

Bayang-bayang Mahabarata

Menjelang Piala Asia, di seputaran Stadion Gelora ramai terpasang poster raksasa potret pemain kesebelasan Indonesia beraksi dengan satu tag-line ‘INI KANDANG KITA’ di sudut kanan bawah. Di belakang potret ada gambar tokoh pewayangan dari kisah Mahabarata, serta sedikit Ramayana. Dan yang berada Bambang Pamungkas adalah sosok Arjuna, ahli memanah asal Hastinapura, sedang Ellie Aiboy kalau tak salah disandingkan dengan Anoman, kera putih yang membantu Rama menaklukkan Alengka.

Ide menyamakan para pemain kesebelasan Merah Putih dengan tokoh pewayangan menurut saya menarik. Tapi, yang saya sayangkan mengapa pengurus PSSI jatuh pada pilihan yang didominasi kisah Mahabarata. Maaf, bila saya dirasa terlampau berlebihan. Saya tidak bermaksud menyatakan Mahabarata sebagai kisah yang jelek; pun menyamakan Ponaryo dan rekan dengan para tokoh Mahabarata adalah ketololan. Saya pun tidak ingin mengkritik, tindakan itu sangat berkesan Jawasentrisme. Sama sekali tidak ada niatan demikian.

Penilaian yang saya tuliskan pada bagian ini terinspirasikan perkataan Ki Mantheb S. Suatu ketika ia pernah berkata, “Wayang adalah bayang. Ketika dalang memainkan tokoh wayang di sebelah kanan, penonton penikmat malah menyaksikan tokoh tersebut berada di sebelah kiri. Begitulah, kanan pun menjadi kiri, sedang kiri menjadi kanan. Antara Kurawa dan Pandawa, siapakah yang lebih baik? Tokoh-tokoh Kurawa yang dimainkan di sisi kiri, bagi penonton malah berada di sisi kanan. Tokoh-tokoh Pandawa yang dimainkan di sisi kanan, bagi penonton malah berada di sisi kiri. Apakah Pandawa memang berada di posisi seratus persen benar? Bagaimana dengan peristiwa perjudian Pandawa dengan Kurawa, ketika Yudhistira menjadikan istrinya sebagai taruhan? Apakah ada moralitas Pandawa dalam situasi demikian?” Kira-kira demikianlah Ki Mantheb berkata.

Sedikit lancang, saya menyimpulkan pengisahan Mahabarata tidak ditujukan pada pemilahan baik versus jahat yang kaku, melainkan samar dan penuh jebakan. Pengisahan itu, menurut saya tidak seperti kisah Ramayana. Di kisah Ramayana, baik versus jahat memang benar terpisah. Baik ada di kubu Rama, Laksmana dan Sinta. Sedang jahat, adanya di Alengka, tepatnya Rahwana. Memang ada latar yang perlu diperhitungkan, semisal Rahwana menjadi jahat disebabkan sebab tertentu dan Rama harus menjadi pembuangan dari Ayodya pun dikarenakan suatu ihwal yang bila dikisahkan disini menjadi terlampau meluas. Namun, sebab dan ihwal mengapa Rahwana haus darah dan Rama terbuang tidak menjadi alasan pemaklum. Sepanjang pengisahan, tetap saja Rahwana ditempatkan sebagai orang yang jahat dan harus dibasmi. Karena itu, menurut saya, alangkah tepatnya bila para pemain tim nasional digambarkan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari kisah Ramayana. Bisa Sugriwa, Subali, Anoman, Rama, Laksmana, Batara Indra, Hyang Baruna dan semacamnya. Bila sudah demikian, tentulah lawan kesebelasan PSSI pastilah duta Alengka. Karena itu, seturut takdir dan kehendak dewata yang berlaku dalam kisah Ramayana: Alengka kalah, pun (saya berharap) berlaku juga di lapangan sepakbola. 

Meski begitu, pada dasarnya saya tak hendak mencari-cari kambing hitam penyebab tak lolosnya tim nasional Indonesia dari babak penyisihan. Hal yang tersebut di atas adalah kenyelenehan yang saya sadari sendiri dan belumlah tentu benar penafsiran demikian. Dan karena kisah Mahabarata itulah saya suka membayangkan lapangan sepakbola di Stadion Gelora seperti medan pertempuan Kurusetra, lokasi Pandawa dan Kurawa beradu digdaya. Dan di setiap pertandingan tim nasional Indonesia, pertanyaan siapakah Pandawa dan Kurawa selalu sulit untuk dijawab sebelum peluit panjang berbunyi untuk terakhir kali dan memang saya menetapkan pilihan untuk tak menjawabnya. Kesebelasan mana saja bisa menjadi Pandawa atau Kurawa. Yang jelas, Ivan Kolev sungguh berhasil menghadirkan Kurusetra di Stadion Gelora. Indonesia tampil dengan kolektifitas yang tinggi, daya juang yang menggunung, meski terpaksa takluk pada kebugaran fisik yang cepat padam, terutama pada pemain yang berada di medan gelandang. Tetapi, keletihan fisik itu tidak menghapus pukauan strategi dan nyali yang luar biasa yang ditunjukkan pemain tim nasional yang berlaga di lapangan: Yendri Pitoy, Marcus Horison, Maman Abdurrahman, Yulianto, Ricardo Salampessy, Muhammad Ridwan, Ellie Aiboy, Budi Sudarsono, Syamsul Chairul Bahri, Ponaryo Astaman, Eka Ramadani, Firman Utina, Bambang Pamungkas, Mahyadi Panggabean, Supardi, Atep, Ismed Sofyan dan juga Erol Aiboy.

 

[Deif-Feil]

Tuesday, 10 July 2007

Wikipedia:Warung Kopi - Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Warung_Kopi
Selamat datang di Warung Kopi!
Warung kopi

Jalan pintas:
WP:KOPI

Ini adalah kumpulan dari halaman-halaman yang digunakan untuk membicarakan masalah teknis, kebijakan, dan operasi dari Wikipedia Bahasa Indonesia, yang dibagi menjadi lima bagian Warung Kopi. Silakan lihat di tabel di bawah ini untuk menemukan bagian yang paling cocok dengan pertanyaan/komentar Anda. Di sini, Anda juga dapat mengungkapkan segala komentar, saran, dan uneg-uneg sehubungan dengan Wikipedia. Untuk masalah yang lebih pelik, Anda dapat menghubungi para pengurus Wikipedia secara langsung.

Jangan lupa memberikan tanda tangan dan tanggal pada akhir pesan Anda (dengan cara mengetikkan ~~~~ atau mengklik tombol "tanda tangan" di toolbar penyuntingan).

Thursday, 5 July 2007

jangan sampai langit indonesia menimpa kepala kita!

demi toutatis!
berapa kali enkaerium memaksakan kehendaknya. kita bukan cuma ingin eksis. kematianpun eksis. tapi kita cinta kehidupan. kehidupan yang eksis dan berdampingan dengan kehidupan lain.cakalelepantomanix bukan cuma tarian pertunjukan, bukan pula dialog. itu kepastian. masa depan. sabda. 

para survivorix sekalian.
jangan sampai langit indonesia menimpa kepala kita!
birokratronium pendulum tidak peduli dengan nasib semesta, itu jika sebangsa sudah salah arti. atau arah. koruptivum penyakit yang menjadi langit di ingatan birokratronium pendulum jazirah enkaerium. dan itu akan jatuh.

demi toutatis.
medan tari, medan bangsa, medan tentara, medan seniman, medan perang liar memangsa medan hati. koruptivum sampai pada stadia akhir. tapi disini tidak mengenal harakiri.

demi toutatis.
'tomorrow never come'
masa bodoh. apa masalahnya. siapa kita. kapan. dimana. mengapa.
bagaimana? jangan sampai langit indonesia menimpa kepala kita! but tomorrow never come!

serbu para barbarian yang berwajah seperti kita!
demi toutatis
masa depan apa yang pernah dibayangkan!
sederet kata-kata yang diucapkan hati-hati nyaris tanpa arti (habitus esbejetikum modus tentara nasional dokem di rokum)

demi toutatis
jangan lagi kita nyanyikan anthem.
dear folk, guys, gurlz, sejak lahir di tanggal 17 itu, foto kita kusam. tapi cuma itu yang kita punya. sebuah komitmen yang sephia.

I thought about you for a long time
Can't seem to get you off my mind
I can't understand why we're living life this way
I found your picture today
I swear I'll change my ways
I just called to say I want you to come back home
I found your picture today
I swear I'll change my ways
I just called to say I want you to come back home
I just called to say, I love you come back home (sherryl crow-picture)

weedee seenow




Manusia Gamang

 
Manusia Gamang

Seorang pemuda 20-an, kelahiran Yogyakarta, yang menetap dan bekerja sebagai staf pemasaran usaha penerbitan di Malang, mengeluh, "Aku dilahirkan dari orangtua Jawa, dibesarkan di Jawa, hidup dan bekerja di kota Jawa, setiap hari berbahasa Jawa... tapi ketika orang bertanya, 'Siapakah itu orang Jawa,' sungguh mati aku harus belajar dan belajar lagi, mengenali 'apa itu Jawa'?"

Sebagai pemuda yang getol membaca apa saja, pemuda "Jawa" yang merasa asing dengan dirinya --dengan kejawaannya itu-- merasa harus membaca dan mempelajari lagi filsafat Jawa, tembang-tembang Jawa, ritus-ritus adatnya, pola hubungan sosialnya, keseniannya, apa pun soal tentang kejawaan. Dan ia menjadi kian bergetar bahkan belingsatan saat dalam percakapan tersebut, satu pertanyaan lain diajukan padanya, "Apakah kamu orang Indonesia?"

Situasi kritis secara eksistensial ini sesungguhnya tidak hanya dirasakan oleh staf pemasaran yang kutu-buku dan kutu-diskusi itu. Ia bisa jadi hinggap di mayoritas pemuda Jawa pada umumnya, di perkotaaan maupun daerah rural. Di wilayah subkultur lain di Nusantara ini. Bahkan mungkin di wilayah kultural lain di muka bumi yang melingkar ini: dalam diri Fassenet di commune Gargenville, Paris, Alberto di Napoli, Takeda di Osaka, Pavlov di Kiev, hingga Abder-Rahman di utara Afrika.

Ketika hidup dan adab yang mengisinya saat ini tidak hanya telah bergeser, melainkan juga beralih rupa demikian rupa, sehingga semua perangkat yang menunjangnya menggulingkan bahkan meluluhlantakkan dasar-dasar, standar, hingga simbol-simbol kultural dan eksistensial lama, tidaklah mengherankan bila manusia yang ada di dalamnya mengalami kerancuan, kekacauan atau chaos dalam mencari tautan. Mfncari pegangan di mana ia dapat bersandar atau berdiri dengan tegak. Menjadi gamang.

Sementara itu, manusia limbung inilah yang kini menjadi harapan untuk mewarisi hidup dan adab "modern" yang hampir setengah milenia disusun bersama. Mewarisi dan mengembangkan sejarah serta kepercayaan-kepercayaan (politis, historis, ideologis, bahkan religius) dari sebuah masyarakat, sebuah bangsa. Dalam konteks ini negeri kepulauan ini: sebuah Indonesia.

Dan kita pun menyaksikan bersama apa yang terjadi dan dilakukan oleh mereka belakangan ini. Kegamangan tersebut ternyata masih diisi oleh sekian banyak cara berpikir atau pola bertindak yang sangat usang, yang tidak lagi fit-in dengan situasi dan kebutuhan kontemporernya. Di soal sederhana itu, mereka mendapatkan dirinya masih larut dan tenggelam dalam kerancuan pra-anggapan yang memandang komunikasi sebagai prosedur dari usaha kita untuk survive, dalam maknanya yang purba, survival of the fittest. Pendekatan dari prosedur ini melihat daya-tahan-hidup atau sukses eksistensial berdasarkan "siapa yang lebih kuat dari yang lain". Dan kekuatan pun diasosiasikan dengan perkataan lain, "kekuasaan", sebagai garansi dari "keberadaan" kita selanjutnya.

Secara etimologis tampaknya dua kata ini berdekatan, "kekuatan" dan "kekuasaan". Bahkan dalam bahasa Inggris pun kita dapat mewakilinya hanya dengan satu kata, power. Dan terjemahan praksis yang paling mudah untuk itu adalah "kekuatan" harus direbut dengan cara (pragmatis) apa pun, termasuk dengan kekerasan, bahkan dalam arti yang paling kasar: fisik.

Pendekatan ini menjadi sebuah kelumrahan di negeri ini, ketika kita selama sekian dekade melatih dan membiasakannya, pada saat kita terlibat dalam perebutan "kekuasaan" politik, dalam birokrasi, dalam organisasi, bahkan dalam pergaulan antar-kampung, antar-geng. Mungkin revolusi fisik masa lalu mengajarkan, betapa kuasa atas diri (kemerdekaan) mesti direbut paksa dengan darah dan senjata.

Lebih jelas lagi, pendekatan militeristik masa Orde Baru menyekolahkan dan melatih kita untuk menggunakan cara koersif dan represif sekadar untuk menunjukkan "siapa yang lebih kuat", "siapa yang lebih kuasa". Bukanlah sebuah hal yang ganjil, kita menemukan pendekatan ini dalam lingkup bisnis (buka toko pun perlu lindungan preman, polisi, atau serdadu), dalam ruang parlemen, dalam kelompok sosial, atau juga dalam menghadapi penduduk mendatang. Perselisihan antar-dua pemuda, dalam perkara remeh (soal cewek, senggolan di warung kopi, atau cara menegur) bisa menciptakan kerusuhan hingga tawur massal atau bentrok senjata antar-desa.

Maka, bila terjadi "penyiksaan", hingga terjadi pembunuhan karakter sampai jiwa, dalam sebuah sekolah yang berorientrasi "kekuasaan", seperti dalam kasus pelajar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Cliff Muntu, beberapa waktu lalu, kita pun segera mafhum. Bahkan kita bisa mengerti, mengapa sistem, rektor, aparat keamanan, hingga pejabat pendidikan tidak mampu menggaransi untuk tidak terulangnya kembali peristiwa itu.

Seperti tergambar di atas, masalah ini cukup kompleks karena kait-mengait dengan persoalan lain. Tak dapat dituntaskan secara parsial, apalagi sektoral di dalam IPDN itu sendiri. Ketika lingkungan sekitar, keluarga, pola pengajaran umum, hingga perilaku para elite (pemimpin) masih mendepankan tradisi atau cara di atas. Penyakit ini bukan melulu milik lima tersangka IPDN, melainkan juga milik ribuan pelajar lainnya. Mungkin kita semua.

Radhar Panca Dahana
Budayawan

[Perspektif, Gatra Nomor 21 Beredar Kamis, 5 April 2007]

Thursday, 28 June 2007

coffee


lokasi desa tombo
pekalongan

ada kopi, warung kopi, cara menyeduh dan pantai

I like Chopin

Rating:★★★★★
Category:Music
Genre: Miscellaneous
Artist:Gazebo
I like Chopin

Remember that piano
So delightful unusual
That classic sensation
Sentimental confusion

Used to say
I like Chopin
Love me now and again

Chorus :
Rainy days never say goodbye
To desire when we are together
Rainy days growing in your eyes
Tell me where's my way

Imagine your face
In a sunshine reflection
A vision of blue skies
Forever distractions

Used to say
I like Chopin
Love me now and again