Thursday, 28 June 2007

Luka Hutan Hujan

di hari lain kemarau akan menyatakan
: bukan aku
cuma musim yang kadang singgah
diantara luang
diantara dua pertemuan
diantara kesempatan yang kau sebut waktu kering kolam
sedangkan bencana yang kerap menghantui
adalah ledakan keinginan yang tak tercerap akalmu
yang seindah sayap kupu-kupu

ketika kalut itu datang
kadang jadi api
seperti lelucon yang mentertawai nafsumu
kadang jadi air
seperti doa bagi yang sudah mati

di hari lain hujan akan bertanya
: di bumi mana aku akan lenyap
di tepi hutan yang menghitam
dan asap kelabu
aku tak pernah lagi singgah
mencium akarmu
mendatangi leluhurmu
sesuatu yang bukan waktu memisahkan perjumpaan kita
dengan masa kecil
dan masa depan anak-anak kita
sesuatu yang bukan laut larut bersama tubuhku
seperti luka

di hari lain hutan akan berkata
: sesungguhnya akulah wahyu
yang dipencarkan dan terserak dalam ingatanmu
disangkal dan terabaikan
di setiap gerak harapanmu
pada musim kemarau dan hujan
adalah lanskap airmata
yang mengeras
menjadi sekuntum karma

widhy | sinau

Monday, 25 June 2007

Luka Hutan Hujan

Start:     Sep 1, '07 11:00p
End:     Sep 6, '07 12:00a
Location:     Jakarta
anonymous blessing

Black Coffee

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Blues
Artist:Ray Charles
I'm feelin' mighty lonesome

Haven't slept a wink

I walk the floor an' watch the door

In between I drink

Black coffee …



Love's a hand-me-down room

I'll never know a Sunday

In this weekday room.



Been talkin' to the shadows

One o'clock ‘til four

An' Lord how slow the moments go

When all ya do is pour

Black coffee …



Since the blues caught my eye

I'm hangin' out on Monday

My Sunday dreams to dry.



You know a man is born to love a woman

To work and slave to pay her debts

Just because he's only human

To drown his past regrets

In coffee and cigarettes.



I'm moonin' all the mornin'

Mournin' all the night

In between it's nicotine

Not much heart to fight

Black coffee ...



Feelin' low as the ground

I'mwaitin' for my baby

To maybe come around.



Gonna drown my past regrets

In some coffee and a few cigarettes.



I'm moonin' all the mornin'

Mournin' all the night

In between it's nicotine

And not much heart to fight

Black coffee …



Feeling low as the ground

It's driving me crazy!

Just waitin' for my baby

To maybe come around.

Please come around

Please come …

Monday, 11 June 2007

R (uang) In(donation): bizarre love triangle (BLT)

Ruang Indonesia: Bantuan Langsung Tunai (BLT)

Every time I think of you
I feel shot right through with a bolt of blue
Its no problem of mine
But its a problem I find
Living a life that I cant leave behind...

Dari sudut pandang antropologi, ruang merupakan sebuah urusan yang merujuk pada bagaimana model pengaturan ruang dilakukan oleh sekelompok individu, komuniti atau masyarakat sesuai dengan budaya mereka (E. Hall;1966 dan Rapoport :1994). Lebih jauh, E. Hall (1966:95-106) mengatakan bahwa hakekat kajian antropologi mengenai ruang atau anthropology of space adalah masalah bagaimana individu mengatur ruang yang menjadi teritorinya, atau dalam istilah Rapoport (1994:478-492), bagaimana cognitive domain dari individu, yang berfungsi sebagai mental maps, menentukan kegunaan, fungsi dan batas dari sebuah wilayah.

Di Indonesia semua ruang adalah 'youniverse'  (the entirety of creation that relates to one specific, narcissistic individual. Used to indicate that a particular person has knowledge only of him or herself -- their universe consists only of them-urban dictionary 2007). Celakanya yang menentukan semua ruang adalah sebagian. Dari sebagian itu segi terbesar berada di ruang nostalgia, dimana kejayaan lampau adalah ruang yang paling intim.

But theres no sense in telling me
The wisdom of the fool wont set you free
But thats the way that it goes
And its what nobody knows
Well every day my confusion grows

Jika saja yang sebagian itu keluar dari youniverse-nya, yakinlah tak ada satu manusia pun yang homeless, baik mental maupun fisiknya. Semuanya memiliki asal-usul dan identitas. Juga keinginan untuk melakukan teritori. Sukarno pernah berkeinginan membuat kota Palangkaraya sebagai ibukota negara dengan argumentasi membangun sebuah kota yang bukan peninggalan kolonial. Nun jauh di tengah Indonesia-di koordinat yang sekarang menjadi kota Palangkaraya. Dalam argumentasi itu pula tersusun dasar pijak yang salah satunya adalah ‘tanda’ bahwa Palangkaraya secara imajiner dapat ditarik segaris dengan ‘kota’ Jakarta sebagai ‘asal’. Palangkaraya adalah derivasi dari Jakarta-sebagai aksen, empasis. Jakarta melatari semuanya.
     
Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
Im waiting for that final moment
You say the words that I can’t say

Mental maps pemimpin dari jaman Sriwijaya sampai sekarang (harga mati untuk NKRI) adalah sentralisasi. Pemimpin yang merupakan sebagian dari penggemar nostalgia menentukan kegunaan, fungsi dan batas, sedangkan yang lain homeless (menurut  Warkop DKI  ngontrak). Maka selalu ada bendera yang berkibar-kibar, bukan untuk sekadar menawar harga yang mati, lebih dari itu: mencari Indonesia yang lain, yang kelak (mungkin saja) dinamakan bukan Indonesia. Yang dibangun tidak untuk mengukuhkan pelataran Jakarta, yang nantinya tidak lagi signifikan untuk dipertimbangkan.

I feel fine and I feel good
Im feeling like I never should
Whenever I get this way
I just dont know what to say

(Akhirnya, tidak sanggup lagi mengatakan apa? Just relax! Take it easy. Aku takut, bukan takluk. Sementara seluruh tubuhku terisolasi, permukaannya dirajah perusahaan multinasional  sebagai bagian dari konsensi pengakuan harga mati, dijadikan gadai utang-Bantuan Langsung Tunai)

Why cant we be ourselves like we were yesterday
Im not sure what this could mean
I dont think youre what you seem
I do admit to myself
That if I hurt someone else
Then Ill never see just what were meant to be (bizarre love triangle-new oder)

semakin takut untuk mengakui there's another indonesia-t.a.i.
aku, kau, dan selingkuhan kita ternyata sama-b.l.t.

kita bertiga (kalau aku benar diakui ada) semakin aneh saja
melupakan ruang yang terdekat: kematian (dan sisi baliknya, adakah? ruang pertanyaan yang tidak akan pernah jadi harga mati, selain kematian itu sendiri)



weedee
 

Saturday, 2 June 2007

METAFORA PAHLAWAN DAN LAWANNYA

(RISALAH KLENIK SPIDER-MAN 3)

—Terinspirasi dari Akira Kurosawa, rekan franchise toko serba ada di dekat kontrakan saya, yang menyatakan bahwa film apapun selalu bersifat multifaset. Dan dengan begitu sok-tahunya saya menerapkan aspek multifaset mata lalat ke dalam resensi film yang menyebabkan kemunculan sub-judul: Risalah Klenik Spider-Man 3—

1962. Setelah sukses menggabungkan Frankenstein dan Dr. Jeckyll and Mr. Hyde menjadi Dr. Bruce Banner alias The Incredible Hulk, Stan Lee mencipta karakter baru dalam jagat komik Amerika. Peter Parker pun lahir menyandang julukan Spider-Man. Serupa dengan Bruce Banner yang tak sengaja terkena radiasi sinar gamma hingga menjelma menjadi monster super-kuat berkulit abu-abu (di kemudian hari berubah menjadi hijau), Peter Parker pun mengalami hal serupa. Kejawaraannya muncul setelah dia digigit laba-laba yang sudah teradiasi. Saya masih ingat, ketika penggagas Spider-Man melontarkan kalimat sederhana yang memuat asas logika silogisme sebagai argumentasi dasar mengapa Peter Parker bisa begitu kuat. “Bandingan saja ukuran laba-laba dengan manusia. Dan bayangkan apa jadinya bila laba-laba itu seukuran manusia. Berapa besarkah kekuatan yang dia miliki?” demikianlah dia berucap singkat, padat, mengagetkan, hingga membuat saya berkata, “Oh, benar juga,” dalam hati.

Agustus 1962, penampilan perdana Spider-Man di ruang publik Amerika. Marvel Comic membukukan satu-satunya tokoh pahlawan yang berasal dari kalangan remaja. Di masa itu, jawara-jawara rekaan umumnya sudah berusia dewasa dan, hidup mapan. Misal saja tokoh rekaan dari kompetitor Marvel Comic yang sudah terkenal seantero jagat planet ke-tiga galaksi Bima Sakti, DC Comic (trivia: DC adalah singkatan dari Detective Comic), Clark Kent yang akrab dipanggil Superman dikenal sebagai wartawan Daily Planet yang sudah berusia dewasa, berpenghasilan tetap plus sesekali bonus tahunan serta memiliki rumah tinggal; begitu pun Batman yang aslinya adalah sipil milioner bernama Bruce Wayne yang jelas-jelas berumur diatas 17 dan berstatus sosial serupa bangsawan pula. Sedang dari Marvel sendiri contohnya: Hulk. Bruce Banner adalah seorang ilmuwan nuklir. Predikat ‘ilmuwan nuklir’ yang dia sandang tentu saja menjadi bukti bahwa Bruce Banner bukanlah seorang remaja. Masih dari predikat itu juga, saya bisa memastikan gaji Pak Bruce pastilah lebih besar dari gaji para redaktur media-media berskala nasional di tanah air yang sulit dicintai ini. Tapi, penokohan seperti itu berbeda jauh dengan sosok Spider-Man. Peter Parker adalah remaja. Dan, meski pun dia bekerja sebagai photographer di sebuah harian di kota New York, saya yakin dia seorang pekerja lepas sebab: di dalam film Spider-Man 3 garapan Sam Raimi Peter Parker tinggal mengontrak di sebuah apartemen. Bahkan dia sempat ditagih uang kontrak oleh sang pemilik apartemen. Lengkap sudah, remaja yang bekerja lepas sebagai photographer dan tinggal mengontrak tentulah jauh dari idiom mapan yang disandang Clark Kent, Bruce Wayne ataupun Bruce Banner. Lewat perbandingan itu, saya merasa Peter Parker adalah semacam satire bagi Superman, Batman dan Hulk. Atau dalam bahasa yang lebih vulgar, Peter Parker adalah jotosan yang diarahkan Marvel Comics kepada rival terberatnya di tanah yang memperkenal amsal ‘Unity or Die’ di abad 18, Amerika Serikat, yakni DC Comics. Spider-Man menyengat Superman dan Batman dengan keremajaan serta ketidakmapanannya.

25 Mei 2007. Saya merasa beruntung hidup mengontrak di kawasan Utan Kayu. Salah seorang teman mengontrak saya bekerja sebagai penjual kepingan Digital Video Disk (DVD). Beberapa minggu lalu, dia baru saja membeli televisi 20 inci. Di bulan-bulan sebelumnya, dia sudah membeli piranti player DVD plus speaker active. Dan pada malam itu, dia baru saja mengambil cakram bajakan Spider-Man 3 dari penyalur di bilangan Glodok, Jakarta Barat, yang belum masuk dalam kategori ori, alias original alias asli. Meski begitu, tampilan gambarnya sudah lebih bagus daripada dua minggu sebelumnya, saat dia membawa untuk pertama kalinya cakram bajakan film Spider-Man yang sudah tayang di bioskop Asia sejak awal Mei 2007. Ketika itu, saya sempat mencoba cakram film. Hasilnya luar biasa jelek. Di monitor laptop saya, filmnya tampil miring-miring dan sesekali sempat pula bayangan hitam muncul menutup hampir setengah gambar. Karena itu, tentu saja saya berpikir: dari pada mata saya rusak lebih baik saya tak usah membeli. Dan, teman saya yang berjualan DVD bajakan pun memang agak kecewa dengan keputusan saya tersebut. Dia juga mengaku, sejak Hollywood menetapkan kebijakan baru berupa perubahan tempat penayangan film perdana, omzet pendapatannya mengalami penyusutan. Biasanya, tayangan film perdana digelar di Hollywood, simbol perfilman Amerika Serikat. Namun, sejak Mei 2007, kebijakan seperti itu dinilai sudah kadaluarsa, basi, dan merugikan dikarenakan merajalelanya aksi pembajakan. Sebagai solusi, tayangan perdana pun tak lagi digelar di Hollywood, melainkan di negara-negara yang terkenal dengan laku bajak-membajak alias pirates (mungkinkah istilah ‘bajak’ yang dikenal di Indonesia justru berasal dari istilah pirates, bajak laut? Kalau memang demikian mengapa pula Indonesia tidak memperkenal istilah rompak sebagai transliterasi yang lebih memiliki kedekatan dengan kata ‘pirates’ daripada kata ‘bajak’ yang lebih berhubungan dengan sawah?) Sebelum kebijakan tersebut ada, film-film yang  masih beredar di Hollywood sudah bisa ditemukan cakram versi ori-nya di kawasan Chinatown-nya Jakarta, dan bagi teman saya yang bekerja sebagai pedagang DVD bajakan kebijakan itu bermakna: pendapatan!

Memang, masalah malsu-memalsukan sudah menjadi agenda tersendiri bagi House of Representative-nya Amerika Serikat. Sempat pula para anggota dewan di sana bersidang untuk memutuskan undang-undang pembajakan. Bahkan sekitar dua bulan lalu, saya ingat Amerika Serikat memperingatkan China karena perilaku bajak-membajak yang marak di negeri Tuan Mao dan Laksamana Cheng Ho. Dan ternyata, ada juga kerja Amerika Serikat yang secara pragmatis berpengaruh kepada saya meski hanya untuk sementara waktu, disebabkan pada malam 25 Mei 2007 saya juga bisa menikmati Spider-Man 3 dalam versi yang, bagi saya, cukup lumayan dan enak dipandang retina. Karena itu, untuk pertama kalinya saya harus berterima kasih kepada teman saya yang bekerja sebagai penjual cakram bajakan atau palsu atau apapun istilah yang dilekatkan, saya tak perduli! Yang pasti, Spider-Man 3 cukup menyenangkan meski punya kelemahan alias No Body Perfect gitu deh

Dan, mungkin karena ‘No Body Perfect’ itulah Mary Jane (Kirsten Dunst) berkata, “Setiap orang butuh bantuan,” kepada Peter Parker yang notabene adalah jagoan, yang di saat itu Parker masih diliputi kepedihan karena, ternyata, pembunuh pamannya, Ben, masih beredar bebas di ruang publik. Kesedihan itu bermula dari telepon yang entah dari mana meminta Parker untuk datang ke markas komando, mungkin bisa disebutkan sebagai Polres New York. Di kantor polisi itu, New York 1 (baca: Kapolres New York) menyatakan bahwa pembunuh paman Parker, Ben, yaitu Flint Marko, berhasil kabur dari penjara. Pada kesempatan itu, panglima tertinggi di Polres New York  menyatakan bahwa tersangka pelaku pembunuhan Ben sebelumnya, saya lupa siapa namanya, ternyata adalah orang yang salah. Di saat New York 1 memberi penjelasan, Parker hanya menatap foto Flint Marko sambil, meneteskan airmata. Selesai New York 1 bicara, giliran Parker yang membentak marah, “Mengapa setelah dua tahun baru kau kasih tahu kami? Apa yang kalian kerjakan?” Ternyata, airmata dan amarah tak jauh beda dengan sekeping uang logam.

Airmata dan amarah hanyalah satu dimensi belaka dari seorang yang bernama Peter Parker. Secara psikologis, Peter Parker pun mengidap sindrom narsis*. Saya menduga, sindrom narsis yang diidap Peter Parker berhubungan dengan masalah kepercayaan diri. Memang, di dalam penciptaannya, Peter Parker hendak digambarkan sebagai sosok yang memiliki persoalan pribadi, seperti masalah kepercayaan diri, cinta dan juga bullying (di tahun 60’an ternyata Amerika Serikat sudah kenal sama konsep bullying). Dimensi persoalan pribadi itu pun semakin bertambah besar dengan masuknya mahluk tak jelas yang entah berasal dari mana. Mahluk rekaan hasil penggabungan lintah dengan karet dengan kadal dengan ular dengan laba-laba dengan warna hitam dengan mulut lebar dengan gigi taring dengan lengket dengan keras kepala dengan kekuatan dengan lain-lain. Masuknya Venom alias racun ke dalam kostum Spider-Man yang berwarna merah ternyata tidak hanya merubah konfigurasi kekuatan Parker, tetapi juga merubah konfigurasi psikologis Parker. Cukup membingungkan. Katakanlah ada jempol kanan seseorang yang digigit singa atau ular atau kuda nil atau bebek atau kadal atau beruang kutub atau ikan hiu atau lele atau tikus sawah atau mobil mercy atau tronton atau bajaj atau sepeda motor dua tak tiba-tiba mengalami perubahan psikologis dari baik hati menjadi jahat hati, dari pendiam menjadi pembuat onar, dari optimis menjadi pesimis, dari berat tangan jadi ringan tangan, dari pendek tangan jadi tangan panjang, dari pembunuh berdarah dingin menjadi pembunuh berdarah panas, dari suka korupsi menjadi pemberantas korupsi. Aneh memang, tak masuk nalar. Tapi, itulah yang terjadi; tak jauh beda dengan peristiwa seorang anak SMP gantung diri hanya karena belum membayar uang sekolah, atau pembunuhan hanya karena rebutan lahan yang dimiliki negara, atau vonis empat bulan untuk kejahatan aniaya anak dibawah umur, atau kesaksian Rokhmin Dahuri yang menyatakan bahwa dia memberi dana DKP kepada capres-cawapres peserta Pilpres pada Pemilu 2005 yang hanya diakui oleh Amien Rais saja (dan mengapa pula Amien Rais mau mengaku?). Tetapi, sesuatu yang tak masuk nalar bukan berarti tak ada sebab. Selalu ada sebab untuk segala hal. Hanya saja, ada sebab yang sudah diketahui, ada yang belum diketahui dan ada yang tidak diketahui. Untuk kasus Spider-Man 3—sekalipun ada adegan perbincangan via telepon antara Parker dengan dosen peneliti yang menyatakan bahwa mahluk aneh bin ajaib itu mampu merubah konfigurasi psikologis induk semangnya dikarenakan genetis mahluk itu sendiri, saya masih saja susah untuk menerimanya sebagai pertanggungjawaban rasional film itu sendiri atas pertanyaan mengapa seekor atau seorang atau sesisir atau sebuah mahluk mampu mengubah perilaku seseorang—yang menjelaskan  penyebab mengapa Venom mampu mengubah konfigurasi psikologis Parker hanya diketahui, menurut saya, oleh penulis skenario yang juga merangkap sutradara, Sam Raimi. Tapi, untuk bertanya pada Pak Sam Raimi tentulah diperlukan biaya yang tak kecil. Kendala-kendala yang ada mengharuskan saya puas dengan jawaban alternatif, ‘Hanya Tuhan dan Sam Raimi saja yang mengetahuinya plus kru Spider-Man 3.’

Bila saya tetap berupaya menduga-duga apa kira-kira penjelasan dibalik kemampuan  Venom merubah konfigurasi fisik dan psikologis induk semangnya, saya sesungguhnya tak jauh beda dengan sosok Parker. Setelah mendengar kabar bahwa pembunuh Paman Ben masih berkeliaran, Parker langsung membayangkan Marko menyeret pamannya keluar dari dalam mobil, kemudian di-dor. Di penghabisan film, dugaan atau rekayasa kebenaran di nalar Parker ternyata terbukti menyesatkan. Marko yang sudah bermutasi menjadi Manusia Pasir** menjelaskan pada Parker fakta sesungguhnya. “Bukan aku yang menembak pamanmu. Temanku yang melakukannya. Aku mencuri buat biaya operasi anakku. Saat itu dia harus dioperasi dan aku tak punya uang. Apakah engkau mau memaafkan aku?” Suasana pun terasa biru. Parker menyadari tidak semua penjahat itu jahat. Ada motivasi yang patut dipertimbangkan sebelum vonis dijatuhkan. Dan, Parker sadar. Dengan senyum, dia memaafkan Marko.

Soal maaf-memaafkan ternyata tidak hanya terjadi di bulan Ramadhan hingga Syawal pada penanggalan tahun Kabisat. Maaf-memaafkan pun tak hanya klaim orang-orang Timur saja. Spider-Man yang notabene orang bule, orang barat, orang asing, ternyata punya tabiat serupa. Dan, dalam Spider-Man, maaf menjadi unsur yang sangat penting. Ada tiga konflik yang terjadi diselesaikan dengan maaf. Konflik antara Henry Obsourne alias The New Goblin dengan Peter Parker alias Spider-Man, konflik antara Mary Jane dengan Peter Parker dan konflik antara Flint Marko alias Sand Man dengan Peter Parker alias Spider-Man diselesaikan dengan maaf. Hanya satu konflik yang tidak diselesaikan dengan maaf. Erick Brock Junior, photographer baru di tempat Parker bekerja, enggan memaafkan. Dia dendam sama Parker karena Parker membongkar rekayasa foto Spider-Man yang dia lakukan untuk beroleh tempat di mata orang lain. Adegan itu mengingatkan saya  pada foto sampul majalah Times yang menghebohkan di tahun 2004. Foto yang memuat gambar prajurit Amerika Serikat plus tentara Irak yang berperang ternyata hasil rekayasa belaka. Saya lupa nama juru gambarnya. Yang pasti, dikarenakan rekayasa gambar itu sang juru foto dikabarkan mati karir. Dia dipecat dari Times.

Karena itu, saya juga harus memberikan maaf kepada segenap pewujud Spider-Man 3—mulai dari sutradara, penyedia konsumsi, penata cahaya, boomer, penyiap kostum, pencatat skrip, bagian penyelia, penyeleksi aktor dan aktris, serta pekerja serabutan di seksi sibuk—bila ada kelemahan yang muncul di film yang berdurasi lebih dari 120 menit ini. Misalnya, adegan Spider-Man yang mampir ke bendera Amerika Serikat yang sedang berkibar-kibar di langit malam. Saya rasa, adegan tersebut terlalu berlebihan untuk tidak mengatakan sudah melampaui basi. Aksi heroisme yang mengambil pola seperti itu, menurut saya, sudah ketinggalan jaman. Adegan seperti itu, tak ubahnya dengan adegan Sly ketika menjadi Rambo 1, 2 dan 3 dan seterusnya bila ada produser yang berniat membiayai serta sutradara yang berniat menyutradarai pun para aktor serta kru. Berikutnya, ada juga adegan yang saya rasa terlampau hiperbola, untuk tak mengatakan tolol. Adegan itu terjadi di tahapan klimaks film Spider-Man 3. Saat itu, ditunjukkan bahwa Venom dan Sand Man menyandera Mary Jane di suatu lokasi bangunan gedung bertingkat yang masih berada dalam tahap pembangunan untuk memancing Spider-Man keluar. Polisi sudah berkumpul di tempat itu mencoba menyelamatkan Mary Jane. Tapi, gagal! Sebab Sand Man sudah berjaga di pintu masuk bangunan. Mobil-mobil polisi habis diterjang Sand Man. Apalagi polisi-polisinya yang sudah pasti tidak lebih berat dari bobot mobil. Anehnya, di tempat yang intensitas ancaman kematiannya tinggi, para warga sipil malah berkumpul. Dan, jumlahnya mencapai ratusan orang. Ini menimbulkan kegelian tersendiri bagi saya. Dalam nalar saya, sekalipun orang memiliki rasa ingin tahu yang besar, rasa ingin tahu itu akan hilang dengan sendirinya bila berhadapan dengan kondisi yang menyiratkan ancaman kematian mencapai 99 persen. Ini sama halnya dengan keinginan seorang konsumen yang memutuskan tidak naik pesawat low-cost carier dikarenakan seringnya kecelakaan terjadi pada pesawat jenis itu (meski pun di kemudian hari terbukti bahwa maskapai penerbangan nasional pun tak lolos dari yang namanya celaka. Meski begitu, Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin menarik hikmat tersendiri dari peristiwa tersebut. Kurang lebih dia berkata: “Saya tidak akan menuntut apa-apa. Bagi saya itu merupakan cobaan dari Tuhan, agar saya lebih taqwa kepada Dia.” Untuk kebajikan ini, saya sepakat dengan Pak Din, sesungguhnya ada yang merencanakan segala peristiwa bagi mahluk pengisi dunia.). Lagi-lagi, saya tak menemukan alasan mengapa warga sipil di New York mengerubungi lokasi yang tingkat ancaman kematiannya begitu tinggi. Dari kelanjutan adegan, ternyata para warga yang berkumpul berfungsi untuk bertepuk tangan saja menyambut kedatangan Spider-Man. Mereka itu, bagi saya, ibarat massa yang berkumpul di lapangan bola mendengarkan orasi mimpi Indonesia dari peserta Pemilu Presiden-Wakil Presiden 2005 yang hanya berteriak, bertepuk-tangan, lalu mendapatkan uang Rp50 ribu.

Menyitir kata-kata seorang filsuf terkenal sekaligus pedagang lontong di Arizona, Afrika Selatan, Mpok Mineh, “Yang namanya massa entuh pasti tak punya identitas.” Setelah saya pikir-pikir, ada betulnya juga Mpok Mineh, yang sesungguhnya bagi saya lebih nikmat lontongnya dari pada filsafatnya, juga perkataannya. Dalam tafsir saya yang mempergunakan kaidah ilmu abrakadabrasimsalabimhokuspokusalakazam-cuih, ‘…massa entuh pasti tak punya identitas’ berarti massa itu adalah orang-orang yang tak lagi sadar akan dirinya sendiri. Dan Peter Parker pun mengalami soal seperti ini. Ada semacam krisis identitas ketika seekor atau seorang atau sesisir atau sebuah atau suatu mahluk, katakanlah masuk ke dalam kejiwaannya. Ketika itu, Parker berubah menjadi massa. Identitasnya menghilang tak perlahan. Tiba-tiba saja dandanan Parker yang awalnya rapi berubah menjadi alternatif. Rambut yang tadinya disisir ke samping kiri sebelum kemasukan Venom bermetamorfosis menjadi dandanan ala gothic-alternatif-casual. Idiom ‘Don’t judge the book from the cover,’ yang lebih sering disalah-artikan menjadi ‘Dilarang Merokok di sembarang tempat dan kapan’ kandas. Seperti puisi yang tak bisa dilepaskan dari isi hati penyair, demikian juga dandanan pun berfungsi sebagai cermin kejiwaan subjek, entah itu subjek Habbermasism atau subjek Hobbesism (Dua orang yang menurut saya aneh. Di depan namanya sama-sama memakai huruf ‘H’, sedang diakhir memakai huruf ‘S’.)***. Karena itu, Mary Jane pun berkata, “Siapa kau? Aku tak mengenalmu lagi,” sesaat setelah Parker yang sudah teracun Venom mendorongnya hingga terjatuh. Seingat saya, film Spider-Man banyak bersentuhan dengan perkara identitas. Pada sekuel yang lalu, Spider-Man 2, pertanyaan yang muncul adalah di dalam batin Mary Jane adalah ‘Kau siapa Spider-Man?’ terjawab dengan terbukanya topeng Spider-Man di dalam kereta api. Di sekuel lanjutan, pertanyaan tersebut berubah menjadi ‘Siapa kau?’ alias ‘Who are you?’ Karena itu, Parker tersadar. Dia sudah berubah menjadi liyan alias yang lain alias the other alias siape sih lu… Dan dia, entah dengan cara yang bagaimana tiba di menara gereja pada malam hari, bukan untuk beribadat.

Di menara gereja, Parker merobek baju Spider-Man yang telah terinfeksi Venom. Dan, tentu saja dengan susah payah ibarat gajah yang hendak terbang, Peter Parker berhasil. Sayangnya, tepatnya, sialnya di lantai bawah menara ada Erick Brock Junior, kolega Parker di harian di kota New York yang ketahuan memanipulasi foto. Venom pun pindah merasuki Erick. Dan, sukses!!! Kadang-kadang, kebetulan itu suatu yang tak bisa dinalar. Tapi, kejadian Venom merasuki Erick Brock rasa-rasanya memang serupa dengan yang terjadi pada realitas. Seperti yang saya sebutkan tadi, ada hal-hal yang tidak diketahui sebabnya atau belum diketahui sebabnya atau … apa pun itu.

Tetapi, setelah melihat kelanjutan adegan, tampaknya kehadiran Venom sesungguhnya terlampau artifisial. Kehadiran Venom seperti alur penceritaan yang dipaksakan untuk menambah intensitas persoalan Spider-Man 3 yang berkutat di masalah identitas. Sebab, menurut penuturan seorang teman saya, Venom itu bukanlah mahluk yang muncul dari meteor yang jatuh. Tapi, buah beracun! Karena itu, saya pun mengaliaskan Venom dengan racun. Namun, apa pun yang dilakukan Sam Raimi sebagai screenwriter alias penabuh genderang (maaf, ini transliterasi yang salah!!!) Identitas hadir di dalam tokoh Peter Parker, Harry Osborne, Flint Marko dan Erick Brock Junior. Posisi antagonis mutlak dan protagonis mutlak sesungguhnya tidak ada. Luar biasa, mirip dengan kehidupan. Seorang yang dikenal bersih, misalnya saja Mulyana W Kusumah, ternyata divonis melakukan korupsi. Juga mantan menteri agama di jaman pemerintahan Megawati Soekarnoputri didakwa mengorupsi dana abadi haji. Namun, dikarenakan film yang dibintangi Toby Maguire ini bertajuk ‘Spider-Man 3’ maka mau tak mau tokoh protagonis harus diarahakan pada Peter Parker. Saya rasa ini hal yang wajar, apa lagi bila mengingat film laba-laba jagoan, kalau bisa saya katakan, ber-genre pahlawan. Dan bila begitu, tentu saja diperlukan lawan bagi pahlawan. Tetapi, ternyata tidak semua lawan dari pahlawan itu adalah musuh. Parker sudah membuktikannya, dan di dunia nyata sesungguhnya persoalan itu muncul dalam politik. Pembuktiannya, di panggung politik dikenal semboyan: Tidak ada musuh abadi, yang ada kepentingan abadi. Jika sudah demikian, persoalan politik pasti bermuara pada kepentingan abadi, yang menurut saya, bagi orang beragama kepentingan abadi tentunya masuk surga. Tapi, dari tingkah pola para politik di negeri kepulauan dengan pulau-pulau terluarnya yang botak ini saya tidak yakin ada politikus yang memiliki kepentingan abadi untuk masuk surga. Ya, apa pun kepentingannya, menurut saya, politikus sudah masuk dalam konstelasi film Spider-Man 3 yang menghasilkan proposisi: Anda hanya bisa mempercayai apa yang bisa Anda percayai dan Anda hanya bisa meminta bantuan kepada yang Anda percaya dapat memberi bantuan. Oh, Mary Jane betapa bijaknya perkataanmu di paragraph lima risalah ini. Dan, Harry membuktikan kebenaran ucapan Mary Jane. Harry membantu Spider-Man menyelamatkan Mary Jane yang disandera Venom dan Sand Man, meskipun untuk itu Harry harus mati. Bukankah kematian selalu mewarnai cerita kepahlawanan? Sekalipun yang mati belum tentu dianggap pahlawan, juga yang hidup. Sedang yang dinamakan lawan, tak pernah berpikir jadi pahlawan. Sulit, tapi saya salut dengan akting Toby Maguire yang mampu menampilkan dua karakter, baik dan jahat!   

[Deif-Feil]

* Saya tidak tahu apakah memang ada sindrom narsis dalam ilmu kejiwaan. Sebutan sindrom narsis saya berikan karena fakta di dalam film. Saat Peter Parker sudah berubah jadi Spider-Man, dia berkata, “They love me,” terperangah melihat sekumpulan massa, mulai dari bocah hingga bau tanah mengelu-elukan namanya. Padahal, di saat Peter Parker menjadi Peter Parker, tak sekalipun kata-kata seperti itu terucap dari mulut Tobey Maguire.

** Untuk yang ini saya hanya iseng saja. Maaf.

 

*** Subjek Habbermasism adalah subjek-subjek yang mendasarkan diri pada pembentukan konsensus baru untuk mengatasi kerancuan yang lebih besar yang bisa ditimbulkan oleh era postmodernism. Asumsi yang mendasari subjek Habbermasism adalah posisi manusia sederajat dan sama-sama memiliki kemampuan bernalar yang sehat juga ideal. Sedang subjek Hobbesism adalah subjek-subjek yang mendasarkan diri pada besar-kecilnya kekuatan yang dimiliki. Asumsi yang mendasari subjek Hobbesism adalah hakikat manusia sebagai serigala bagi yang lainnya.

 

Tuesday, 8 May 2007

Two Tales | Kealamiahan Yang Menggangu Atau Mengganggu Kealamiahan-From Deif-feil to S.B.J, A(-)gree(d) PollyThick Immaculated


Bayangkan keadaan sebuah kota yang demikian. Permukiman padat, dengan
utilitas semrawut-kabel listrik dan telepon berdesakan berebut ruang
bersama atap dan jemuran di lantai dua rumah kayu dan tembok yang
menyisakan sedikit pandangan ke arah langit. Dibawahnya jalan
kecil bertutup aspal hotmix proyek MHT dengan genangan air sisa hujan
kemarin yang tidak bisa mengalir kemana-mana. Di sisi kiri-kanannya
selokan yang ditutup papan tempat parkir motor, pot kembang dari kaleng
dengan tanaman setengah hidup dan tempat sampah besar berwarna kuning
yang begitu sesak oleh sampah. Tembok-tembok di sepanjang jalan kecil
yang mengecil ini dipenuhi poster, mulai dari kampanye Pilkada, poster
proyek terbaru penanggulangan kemiskinan, poster suami siaga, poster
posyandu, pengumuman tabligh akbar dan poster orang kehilangan kakek.



Ditempat ini sebagian besar ’kaum miskin urban’ lebih tepatnya ’kaum
miskin migran’ berdiam. Suasananya mengasyikan, kumuh, kotor, pengap,
bising. Begitu berdegup. Begitu berkeringat. Begitu ada kesempatan
mereka yang tinggal disini secepatnya pindah ke lokasi lain. Mentas.



Sebelumnya di desa mereka kebingungan melakukan apa. Hampir tak ada
yang dapat dikerjakan dengan pendidikan dan pengetahuan yang mereka
miliki-dan tuntutan dari orang tua yang menyekolahkan mereka agar pergi
ke kota, mencari penghidupan yang lebih baik, yang tidak bersandar pada
mengolah alam dan tanah yang masih luas namun bukan milik mereka. Dan
sisa tanah yang cuma sedikit yang dimiliki mereka, harus dibagi
diantara keluarga mereka sendiri yang tidak bisa pergi ke kota. Untuk
mentas.



Di kota mereka bekerja apa saja, serabutan. Bertahan hidup. Lebih
beruntung bisa jadi buruh pabrik, pelayan supermarket, pembantu rumah
tangga. Sisanya kebingungan dan bekerja mengisi lowongan pekerjaan,
sambil bekerja apa saja, serabutan. Jadi kuli gali, kuli pasar, kuli
bangunan, pedagang kaki lima. Sebagian lagi tak beruntung, jadi
pemulung dan pengemis. Untuk mentas.



Sekarang keadaan berbalik. Desa mereka dibangun jalan aspal. Tanah yang
tadinya kosong dibangun perkebunan dan bisnis pertanian. Rumah-rumah
kaca berdampingan dengan rumah-rumah villa pemilik tanah. Sebagian
warga yang berhasil mentas di kota membangun rumah-rumah bergaya villa
dengan warna mencolok, biar terlihat perubahannya. Tanah pertanian itu
tetap luas, warga desa menjadi buruh industri pertanian baru-dengan
tanaman yang baru pertama kali mereka lihat-sebagian buruh tani juga di
datangkan dari desa-desa yang jauh, tenaga ahli pertanian datang bukan
dari desa mereka atau dari desa yang jauh. Desa mereka
berkembang anak muda tidak lagi bermimpi berangkat ke kota, yang
perempuan bekerja di rumah kaca, yang lelaki ngojek atau bekerja di
bisnis angkutan, menjadi supir angkot.



Di pusat kota, jalan sempit semakin banyak, penghuninya berganti.
Perumahan baru yang jauh dari pusat kota semakin banyak dan ramai.
Tempat tinggal kaum migran yang berhasil mentas. Dalam kurun waktu
sepuluh tahun (amatan penulis terhadap beberapa real estate yang mulai dibangun di tahun 1990-an dan nasibnya dt tahun 2007)
rumah-rumah bagus kaum migran tersebut direnovasi. Dari konsep tanpa
pagar, menjadi konsep pengembangan. Halaman menjadi ruang tamu. Garasi
menjadi kamar si sulung. Trotoar di depan menjadi tempat parkir. Ruang
terbuka hijau menjadi gardu jaga. Ruang sosial baru, untuk memastikan
wajah tetangga dan memberikan tanda kehidupan pada maling yang semakin
banyak dan semakin berani memasuki kompleks perumahan mereka. Yang di
gerbang depannya tertata tulisan besar-besar Pemulung Dilarang Masuk,
Mengemis dan Ngamen di hari Jumat.



***

Secara sosiologi urbanisme dipandang sebagai konsekuensi dari kegiatan
perkotaan yang dicirikan oleh kompetisi dan seleksi yang ketat. Yang
menyebabkan mobilitas, kecepatan, ketepatan menjadi utama. Hasilnya
lingkungan fisik perkotaan memfasiltasi ketiga hal tersebut,
kepentingan mobilitas, kepentingan kecepatan dan kepentingan ketepatan.
Semua mengacu pada sebuah konsep waktu. Di kota seolah waktu tak
banyak. Yang terjadi adalah kemacetan, kepadatan, dan kerawanan.
Paradoksnya.



Kealamiahan dari struktur kota menyebabkan karakter manusia dari
pembuat mimpi menjadi objek dari perkembangan kota. Dari manusia
sebagai agen perubah menjadi terpisah dari proses perencanaan
perubahan. Kompetisi dan seleksi selalu dimenangkan oleh yang kuat.
Atau yang banyak, itu sebuah kealamiahan. Yang kuat menentukan
bagaimana kota harus berkembang, yang banyak mencoba bertahan dalam
dunia yang membutuhkan mobilitas, kecepatan, dan ketepatan.



Hasilnya ruang kota memproduksi semangat kekuasaan, produksi,
eksploitasi terhadap ruangnya sendiri. Mengesampingkan yang
dipersepsikan diam seperti sumberdaya alam, flora-fauna,
sumberdaya air, sumberdaya tanah, sumberdaya iklim, dan udara bersih.
Kota kemudian mereproduksinya menjadi permasalahan kota: kemiskinan
manusia. Pemisahan kebutuhan manusia dari kebutuhan daya dukungnya,
ternyata hanya menjadikan manusia semakin miskin.



Urbanisme sekarang mulai berurusan dengan isu-isu yang tidak lagi
memisahkan antara alam dan kultur, kota dan desa, namun lebih fokus
pada ide-ide tentang bagaimana struktur, proses, dan permasalahan
diperhitungkan untuk keseimbangan alam dan masyarakat penghuninya. Dan
bagaimana keseimbangan tersebut memberikan jaminan bagi dinamika dan
masa depan kehidupan.



***



Secara konseptual perdesaan dan perkotaan di Indonesia dibedakan dan
dicirikan sebagai berikut; Kawasan perdesaan adalah wilayah yang
mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya
alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan,
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.



Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.



Agropolitan mengambil konsep desa dengan memasukkan unsur urbanitas
yang dianggap penting terutama kenyamanan barang dan jasa publik
(public goods and services) dalam hal infrastruktur seperti
jalan, pelayanan administrasi, pasar dan moda transportasi, dll, setara
kota. Sedangkan menurut Friedman (1975) agropolitan memasukkan unsur
budaya urban yang bertujuan untuk memakmurkan desa, budaya urban yang
dimaksud adalah ukuran-ukuran rasionalitas. Diharapkan dengan
disuntikkannya budaya urban yang dianggap perlu kawasan perdesaaan akan
memodernkan dirinya, sesuai dengan hukum transformasi alamiah.



Sehingga kawasan agropolitan didefinisikan sebagai kawasan yang terdiri
atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai
sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu
yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki
keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis.



Dalam mewujudkan impiannya sebagai kota pertanian yang lebih ramah dan
rasional, agropolitan memiliki prasyarat utama yang harus dipenuhi
yaitu menciptakan suatu kondisi yang dapat menjamin keuntungan
dari individu atau keluarga yang bisa melampaui kebutuhan untuk
melakukan konsumsi pada saat sekarang. Sebuah rasionalitas yang
sesungguhnya milik semua manusia yang tinggal di desa dan kota.



Menurut Galjart (1975), petani sebenarnya tidak lebih altruistik dari
yang lain. Mereka bersedia berkorban apabila keuntungannya dapat
mereka peroleh, termasuk juga dalam pengembangan lahan-lahan milik
komunitas yang akan menghasilkan keuntungan bersama.



Untuk memastikan keuntungan tersebut dalam jangka panjang maka
dipandang perlu membuat sebuah skenario dimana masyarakat diajak
berpartisipasi dalam membangun sistem agropolitan mulai dari
perencanaan. Hal ini bisa dilakukan jika desentralisasi dilakukan
(secara politik dan administratif). Dan otonomi desa menjadi landasan
pijak bagi perubahan paradigma pembangunan yang berimbang antara desa
kota.



[namun ada aturan baru “bagaimana mengurus hal desa” yang isinya
berpotensi campur tangan pemerintah (terdekat Pemda Kabupaten) tetap
berkelanjutan ke bidang-bidang yang termasuk wewenang desa-Sayogyo,
2003).



***

Agropolonia, demikian sebuah kota kecil dengan sebutan kota Seribu
Obat. Penduduknya bersih, dengan lingkungan yang sehat, berbagai
tanaman tidak cuma berwarna hijau seperti merambat di setiap pandangan
mata. Berbagai kesibukan yang terlihat seperti sendirian saja, tidak
bising, cuma gerakan-gerakan lincah dengan wajah ceria penduduknya. Di
batas pandangan ada biru bangunan pabrik, dimana hasil bumi siap
diproses dan diantar ke kota-kota tetangga. Di sebelah pabrik cuma biru
jernih air danau dengan bangku-bangku taman, ayunan, rumah warna-warni,
dan dermaga kecil tempat pemancingan, dihuni oleh sayup senyap
kelincahan anak-anak yang bermain melepas waktu belajarnya.



Di Agropolonia semua penduduk memiliki mimpi yang sama. Masa depan
kehidupan mereka. Disini setiap orang suka permainan, sehingga
bentuk-bentuk rumah, tempat kerja, pakaian, pabrik, koridor jalan yang
ada lebih banyak didedikasikan untuk kemudahan dibandingkan kerumitan.
Mereka percaya permainan itu memperpanjang umur, dan kemudahan adalah
tujuan-tujuan hidup sesungguhnya.



Sebagai pelancong kau akan diajak bercengkrama dan berjalan-jalan di
alam impian para penduduk, tentang bagaimana Kota ini dibangun, lebih
tepatnya diimajinasikan. Segolongan tua penduduk Kota ini adalah para
mantan profesor di Kota Besar, sebagian lagi veteran perang di negeri
yang tidak pernah memiliki musuh-mereka berperang hanya karena membela
kepercayaan bahwa di bagian bumi lain masih ada yang mesti dibela,
lantaran perang menyebabkan anak-anak tidak memiliki permainan dan para
orang tua bahkan tak sempat minum teh bersama tetangga. Populasi
terbanyak justru para petani, profesi yang dilakoni nenek moyang para
profesor dan veteran tentara, cucu mereka cuma anak biasa. Bukan anak
tentara atau anak sekolahan. Mereka bermain bersama.



Jika beruntung maka diceritakanlah tentang bagaimana sebuah kota
imajinasi ini terbangun, yang menurut cerita cuma disebabkan oleh
kesadaran penduduknya, yang mengatur para penguasa untuk taklid pada
kehendak bumi. Penguasa tersebut ada di desa-desa yang membentuk kota
ini. Desa-desa itu dihubungkan oleh jalan-jalan batu yang bersih dengan
selokan yang dalam dan berair jernih. Cerita tentang kejadian
Agropolonia ini dipahami benar oleh sebagian penduduk. Cerita itu
seperti keseharian, mungkin seperti basa-basi yang asyik, tapi cerita
itu sungguh hidup dan sederhana, tidak terlalu ruwet. Sebagian besar
penduduk malah percaya cerita itu tidak pernah ada sebelumnya. Jika
saja tidak pernah ada yang bertanya tentang asal usul Agropolinia, maka
tidak ada cerita. Singkatnya, mereka percaya cerita itu lahir ketika
mereka bekerja, cerita itu terangkai ketika mereka istirahat kerja,
cerita itu tak usai lantaran mereka masih bekerja. Dan tujuan mereka
bekerja sama persis dengan permainan, untuk kemudahan.



Agropolinia berhasil menyegarkan pemikiran tentang fungsi kehidupan,
membangun untuk kemudahan, kenyamanan dan masa depan anak-anak mereka.
Kesegaran ini ciptaan mereka, apa yang bisa diimpikan bersama maka itu
ada. Bersama mereka wujudkan. Di desa-desa yang membentuk
kota-Agropolonia kontras dengan tetangganya Kota Besar dimana identitas
ditandai dengan mulut yang berbusa-busa, yang sulit berdamai dengan
tujuan-tujuan sebuah perjumpaan: kepercayaan.



Agropolonia sebuah desa-desa yang menyatu menjadi kota. Bukan karena
besaran spasial, populasi, atau fasilitasnya. Namun karena peradaban
tinggi mereka yang larut bersenyawa dengan ideologi, sarana dan
prasarana yang mereka bangun. Disini jaminan kepastian akan hidup yang
terus berkembang tidak dibenturkan dengan nostalgia klangenan, yang
membuat hidup seperti sebuah mummy atau lukisan antik berusia
ratusan tahun, namun tak bernyawa. Di Agropolonia semuanya hidup,
bergerak dan menyegarkan dirinya sendiri. Ada mekanisme internal yang
menyuburkan penduduknya untuk percaya bahwa perubahan itu bersyarat;
ramah pada bumi maka setiap perubahan yang dilakukan pastilah
menguntungkan untuk semua. Termasuk para pelancong yang ingin berdiam
dan tinggal lebih lama.



***



Dulu, di Yunani Kota-Polis adalah sumber peradaban, cirinya adanya
ruang publik untuk mengartikulasikan berbagai kepentingan dan
mengkontetasikannya dalam keriuhan argumentasi. Kota adalah simbol
kemenangan-VINI, VIDI, VICI. Kota juga merupakan sumber pemutlakan
spiritual, memasuki Athena konon harus membungkuk kearah matahari
terbit-dan menghormati patung Dewa-Dewi, kota memiliki keyakinan teguh
untuk bertahan dalam berbagai benturan budaya, dengan demikian kota
membutuhkan Identitas-sebuah kepastian pembeda. Di Yunani taman-taman,
bangunan beratap terbuka dimana kesenian dipertunjukkan menjadi
ciri kota-kota yang kemudian jadi alat ukur perkembangan peradaban
manusia.



Masih jaman dulu, di Cina kota-kota merupakan pusat kekuasaan. Maka
dibangunlah benteng-benteng, dan barak tentara, di sekelilingnya. Kota
juga menjadi pusat spritual dengan dibangunnya kuil-kuil yang besar
sebagai pelayanan, sekaligus Identitas keyakinan sang
kaisar. Kuil yang demikian besar akan menggetarkan
siapapun yang memasukinya. Dan siapapun menunduk dan bersujud
ketika Sang Kaisar masuk. Kota juga menyediakan lapangan besar untuk
perayaan agung, terutama perayaan kematian-dimana pemberontak akan
dihukum di depan publik sebagai bentuk teror mental. Kota-kota di Cina
dicirikan dengan banyaknya pasar rakyat (bazaar), dimana sebuah kota
dianggap berkembang pesat dilihat dari banyaknya pelancong yang datang
dan bertransaksi.



Di Arab, sejarah kota baru ditulis sekitar tahun 1200-an, Ibnu Khaldun
mulai menuliskan sejarah kota-kota di Arab dan Andalusia. Kota
dicirikan sebagai pusat kekuasaan dan perdagangan. Peradaban kota
ditentukan oleh perpustakaan, madrasah, dan pelayanan penginapan,
semakin baik pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan, madrasah, dan
penginapan maka semakin banyak kota tersebut akan dikunjungi. Kota juga
tempat pemusatan spiritual dimana masjid sebagai pusat publik dibangun
sebesar dan seindah mungkin, di masjid tempat pemimpin ditanya
setiap hari Jumat. Kota-kota di Spanyol, di jaman 9-11 Masehi
dipenuhi oleh taman-taman tempat bercengkarama, dan sebagai ruang
sosial taman-taman ini telah menghasilkan berbagai karya tulis dari
penyair-penyair besar Arab. Di Spanyol fasilitas taman (ruang terbuka
hijau) pada jaman itu salah satu dari tolok ukur kenyamanan kota.



Pasca pencerahan dan Revolusi Industri kota-kota merupakan mesin
produksi. Sampai sekarang. Sebagai mesin produksi kota-kota
membutuhkan koloni-koloni untuk bahan bakunya. Di koloni baru tersebut
(yang akhirnya disebut dunia ketiga) desa-desa dipaksa menjadi
kota-kota koloni, dan kehilangan Identitasnya. Kota-kota besar menjadi
pusat pemerintahan kolonial. Dan bangunan paling besar dan banyak
dikerjakan adalah gudang, pelabuhan, penjara dan barak tentara. Pasar
dalam pengertian sejatinya tidak pernah ada.



***



Desa, konon dari berbagai hikayat cuma menyisakan keheningan yang memesonakan

desa, konon lagi, tempat tinggal pahlawan tak bernama dan para empu yang membangun keajaiban artifak di kota-kota.



weedee SeeNow







Wednesday, 2 May 2007

Mendadak T.A.K.U.T: MayDay, MayNot, MayBe


TERIMAKASIH
KEPADA TITI KAMAL yang tiba-tiba hadir dalam keheningan malam dan
menjelaskan masadepan Republik Dangdut ini kira-kira 100 tahun
kemudian. Titi Kamal di sudut kamar mulai berjoget-avant propos







Kata orang diatas bumi, kita semua sama.

Kata orang di mata Tuhan, tidak ada miskin dan kaya.

Katanya …. Katanya …

Kalau memang benar begitu.

Kenapa nasibku jadi babu.

Kerja apapun ku tak malu.

Tapi hidup kok nggak maju-maju.

Celana .. cuma punya satu.



Reff :

Meski banyak padi di sawah.

Hatiku selalu resah.

Meski tlah ganti pemerintah.

Hidupku selalu susah.



Oh nasib .. pembantu.

Selalu disuruh-suruh. [Mars Pembantu: OST Mendadak Dangdut]


Celana satu-satunya mulai dibuka, katanya lagi

Dangdutkah Kita

Jangan ingat lagi masa yang dahulu.

Saat kata cinta masih mengundang rasa malu.

Kita sudah berubah. Kini telah dewasa. [Dangdutkah Kita: OST Mendadak Dangdut]


Dan mulailah berakrobat sesuai  dengan  perintah.

'Kita telah dewasa'


Abang jarang pulang, aku jarang dibelai.

Anak kita skarang udah besar.

Mulai bingung kok bapaknya nyasar.

Kenapa bapak nggak pulang pulang emak?

Kata tetangge .. emangnya enak?
[Jablay: OST Mendadak Dangdut]



Tak apa, hari gini apapun bisa dibeli

Dan goyangan bertambah klasik-dangdut era 60-70an, dimana Ratu dan Raja
masih berkuasa dan sesungguhnya Ratu dan Raja ini dulu mirip bebek
buruk rupa, sampai ada Raja dan Raja yang sungguh-sungguh mencintai
Dangdut! Dangdut is my life. Dangdut as a tragedy as good as Her. And I
don't care.



Cinta lahir untuk mati.

Agar kau mengerti, bunuh reality.

Ikut saja mata hati.

Meski kau sendiri, bunuh reality.
[Bunuh Reality, OST Mendadak Dangdut]



Angsa. Dan Titi Kamal menari laksana angsa! Dia membunuh dirinya
sendiri. Berubah menjadi angsa yang sangat cantik. Tercantik dengan
identitas dangdutnya. Pakaiannya yang cuma satu itu, tetap penjelas
bagi setiap alasan mata yang menatapnya.



Jangan buka mata.

Tetaplah bermimpi. Menjadi sang putri.

Bila buka mata.

Berakhir semua indah dongeng klasikmu [Dongeng Klasik, OST Mendadak Dangdut]



Maka menerawanglah dengan berani. Tengadah sampai ke batas pandangan.
Membayangkan apa lagi yang perlu dikorbankan untuk disebut dewasa,
dengan identitas lengkap. Dangdut Abiss.




Selalu ada hari untuk tersenyum.

Selalu ada hari untuk bahagia.

Selalu ada hari untuk menyesal.

Dan selalu ada hari untuk menangis. [Selalu Ada, OST Mendadak Dangdut]



Bahkan para
praja IPDN [yang tua-nya sebagian besar menjadi pamong praja (baca:
pemberi perintah atas nama mandat rakyat Republik ini, cuma bisa
bahagia tatkala berjoget dangdut di arena wisuda. Juga militer kita
yang perkasa, cuma bisa disatukan dalam ritual joged di barak. (terkesan tai ga papa, ga mama juga boleh).
Dan Titi Kamal sangat pantas menjadi Rektor atau Panglima tertinggi dua
lembaga tersebut-mengingat Raja dan Ratu terlalu tua. T.U.A.



Ku tak pernah menyangka akan terjebak oleh cintanya.

Meski ku telah berlari, tapi akhirnya ku cape’ sendiri.

Dag dig dug jantungku, menunggu waktunya. [Buronan Cinta, OST: Mendadak Dangdut]



Titi Kamal berhenti memainkan gesturenya, {ingatkah
kalian tentang bibirnya yang penuh itu, yang selalu dibasahkan, digigit
sendiri ketika sejenak terdiam-dia sedang melakukan itu sekarang-
}.
Lama terdiam sambil menggigit bibirnya, ia masih angsa yang tercantik
di komunitasnya. Ia mulai menulis di udara. Dangdut dan Budaya
Kekerasan. Dangdut dan Penyalahgunaan Alkohol. Dangdut dan Pendidikan.
Dangdut dan Kearifan Lokal. Dangdut dan Budaya Massa. Dangdut dan 
Ancaman Disintegrasi. Revitalisasi Nilai-nilai Dangdut. Dangdut Sebagai
Filosofi Otentik Yang Diadopsi di Negeri Jiran. Dangdut Terkini.
Dangdut Fundamentalis vs Dangdut Liberalis. Sinkretisme Dangdut dengan
RebeliousHiphopGlamEmoRock.Quo Vadis Dangdut.Dangdut dalam Sinema.
Dangdut dan Kebangkitan Nasional. Pengarusutamaan Dangdut dalam
Pendidikan. Proporsi Dangdut dalam APBN.  Identitas Kekinian
Dangdut. Dangdut dan Urbanitas. Nilai-nilai Kesejarahan Dangdut. Seni
dan Tradisi Dangdut dalam Bingkai Pluralitas. Dangdut dan Buruh.Analisa
Sentimentil Atas Dangdut Pada Beberapa Pemberontakkan Atas Nama 
Selain Dangdut.Dangdut dan Teologi Pembebasan Sesaat Kaum Miskin Kota:
Studi Kasus bawah Jembatan JORR Ujung Aspal Podok Gede.Dangdut dan
Budaya Patriarki. Tokoh Dangdut dan Kiprahnya  Dalam Mengisi
Kemerdekaan. Dangdut: Next Millenium. Nabi Para Dangdut. Dangdut dan
Kosmologi  : Renungan Para Republiken. Jalan Dangdut, Jalan
Paradoks Yang Memerihkan Namun Syurga Pula Tujuannya. Dangdut Dan Seni
Bercinta. Dangdut Untuk Segala Usia. Dangdut dan Kesemestaan. Teori
Dangdut : Dari Sentralistik menuju Pinggiran . Kota Dangdut: Akankah
Menjadi Kenangan. Pengaruh Dangdut dalam Sejarah Peradaban Manusia.
Sejarah Psikoanalisa Para Pedangdut. Kebangkrutan Teori Musikalitas
Barat Dihadapan Dangdut. Dangdut dan Masa Depan Manusia. Agama Baru:
Dangdut, Kolase Identitas Dalam Kematian Makna.



Wajah Titi Kamal berubah marah. Bisakah wacana besar ini menyelamatkan
Republik Dangdut ini dari Disilusi Babu-babuan, ia berhenti menulis.
Tangannya seperti memainkan sesuatu yang tak berwujud, mungkin sendok,
renda, atau pita. Yang pasti gerakan mengaduk lebih tepatnya memuntir
bukan mengocok.




Selamat siang para penonton.

Semoga kabarnya baik-baik saja.

Aku disini ingin bercerita.

Tentang kisah cinta yang sedikit gila [Buronan Cinta, OST Mendadak Dangdut)



Yuk. Selamat hari buruh. Selamat berjoget. Selamat sakit hati. (Lagi dan Re-Mixed)

MayDay. MayNot. MayBe. (SomeDay, SomeWhere)



WeeDee|SeeNow (selapis manis identitas dangdut kebarat-baratan)