Wednesday, 6 December 2006
iseng: profil pengunjung versi penjaga
Hampir tiga tahun ini saya bekerja untuk kedai. Tentu saja sebagai pegawai. Saya ingat pada saat pertama kali saya ke kedai, waktu itu saya masih berstatus sebagi siswa SMA. Di sinau saya bertemu dengan banyak mahasiswa yang suka baca buku. Awal itulah yang membuat saya terjungkal pada belantara wacana pemikiran manusia tentang dunia. Pengaruh orang-orang dan para pendatang kedai inilah yang membuat saya belajar untuk mencintai buku. Dari pembeli akhirnya jadi penjual dan samapi saat ini pun begitu.
Interaksi yang terjadi pengunjung banyak memberi pengalamn yang unik pada diri saya, mulai dari peristiwa tragis sampai humoris. Mulai dari pembeli yang memborong buku banyak sampai kami disamperin maling. Bahkan sampai hal-hal yang bersifat subyektif seperti dapat sahabat baru, jaringan baru, dan mungkin pacar baru.
Para pembeli maupun yang hanya berkunjung saja ini dari berbagai kalangan. Mulai kalangan atas—yang mungkin nyasar, sampai kalangan nglesot—paling bawah, bahkan orang gila pun pernah. Mereka datang biasanya karena penasaran ini perpustakaan atau bukan dan tidak sedikit yang mengatakan sinau ini tempat yang unik walaupun begitu komentar kekurangannya lebih banyak, maklum pencitraan kedai sebagai toko buku kesannya memang kurang.
Setiap kedai buka ada saja anak SMA yang datang ke kedai—kebetulan tempatnya memang dekat SMA—setiap saya tanya kenapa mereka jam sembilan pagi sudah disini. Tentu saja memang mereka mbolos, kadang saya juga kurang nyaman dengan tindakan mereka juga. Tapi apa mau dikata mereka ke sinau juga baca buku dan kadang mereka membeli buku. Bukankah mereka disini juga belajar? Jangan kuatir saya tetap tegas ke mereka jika terlalu sering, kaitannya lebih pada nama baik Kedai Sinau.
Jika anda cangkruk pada sekitar jam tiga sore ke bawah di sinau. Anda akan dapat tontonan gratis model-model baju anak remaja khususnya cewek. Dengan tubuh bahenolnya mereka melintasi sinau dan tentu saja mengundang kejantanan kami untuk sesekali mensiuli. Jadi lokasi kedai memang berada tepat di jalur lalu lintas sebuah Mall yang berada di barat sinau. Sayangnya mereka tidak pernah masuk kedai, oh ya saya ingat salah satu dari mereka pernah masuk kedai untuk menanyakan: “Mas, jual pulsa?”
Kalo menurut data dan pengamatan saya yang datang kedai mayoritas tetap mahasiswa. Lebih spesifiknya mahasiswa yang senang baca buku serius. Bagaimana tidak la wong yang jaga sinau mukanya serius he..2.Anak-anak muda yang dengan seabreg wacananya kadang berdiskusi bareng dengan saya atau dengan teman-teman lain yang datang. Untuk acara puncaknya kami diskusi rutin setiap hari rabu malam alias malam kamis jam tujuh malam. Layaknya diskusi lain selalu berganti peserta tapi untungnya diskusi ini tetap bertahan. Ini juga berkat salah satu teman yang tetap konsisten datang membantu saya mengisi diskusi.
Masih soal diskusi tema-tema yang kami bahas biasanya soal-soal yang dekat dengan kami mulai harga krupuk sampai tatanan dunia dan sesekali nyrempet bahasan teologis—bisanya untuk humor saja. Kami ada satu teman yang selalu paling banyak ngomongnya di diskusi—ya karena dia yang jadi alasan teman-teman untuk datang. Namanya Santoso, dia keturunan Cina umur sekitar tiga puluh duaan yang punya istri jawa dan berprofesi sebagai hermes—maksudnya penterjemah. Dia kami juluki perpustakaan berjalan karena minatnya yang luas dan ingatannya yang cukup kuat. Kami sangat senang jika dia bercerita tentang suatu zaman atau uraiannya tentang teori pemikir tertentu dan yang lebih menarik jika dia mediskusikan teorinya sendiri. Banyak hal yang dia bicarakan bahkan otak saya saja tidak cukup menampungnya.
Kadang saya jadi detektif juga untuk para langganan yang selalu menyembunyikan identitasnya. Maklum lah siapa tahu dia intel sinau kan banyak jualan buku-buku kiri. Wajar saja kan kalo udah langganan menanyakan asal usulnya, kan ini lebih memperkuat hubungan kami dan menurut buku penjualan yang saya baca: urusan menjual sekarang bukan hanya urusan senyuman dan kerapian saja tapi juga urusan emosional. Strategi itu berhasil untuk langganan yang lain tapi tidak untuk orang satu ini. Walaupun begitu dia tetap beli buku di sinau dan setelah saya pikir asalkan dia tetap beli buku saya tidak peduli darimana asalnya meskipun dia malaikat. Hampir satu tahun dia menjadi langganan sampai pada hari apa gitu saya lupa, dompetnya tertinggal di kedai. Malam-malam dia telpon bahwa telah menerima musibah yaitu kehilangan dompet. Kontan saja saya ngomong bahwa dompetnya ada di saya, dia telpon sekitar jam sebelas malam pas saya lagi makan ketan di pasar. Langsung saja dia nyamperi saya padahal rumahnya sekita lima belas kilo dari temapt saya. Nah malam itu dia mulai buka buku bahwa dia baru mantan anggota DPRD Malang. Sekarang saya baru ngerti bahwa hidup di dunia poltik itu kurang nyaman, lha wong curiga terus ke orang.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan tapi mungkin akan sangat membosankan karena saya bukan pencerita dan penulis yang baik. Kecuali ada sastrawan, ilmuwan, filosof, tukang klenik yang mau ngendon di kedai bisa menjadi pencerita yang baik dan saya terbuka untuk itu.
Aris | Sinau
Malang, 1 Desember 2006
PS: anak muda yang mengaku mahasiswa penggemar sastra dan gerakan sosial yang berdatangan ke sinau kebanyakan dari fakultas arsitektur, teknik sipil-mesin, dan filsafat stain, sisanya cangkrukan penggemar obrolan ngalor-ngidul dan kopi tanpa menyematkan gelar dan latar belakang pendidikan.
Friday, 10 November 2006
PAHLAWAN, TRAGEDI FIKSI DI KESEHARIAN
Kepada Homeros, aku sempat bertanya:
Apakah ada pahlawan dalam epikmu? Dia cuma tersenyum sambil berucap,
"Apa yang kau baca?" Lantas, aku jawab saja: Keindahan!
Di
suatu malam, dengan cara yang cuma bisa dimengerti Tuhan, aku bertemu
Laksmi Pamuntjak. "Kita hidup dalam perang," katanya. Lalu,
seorang Belanda yang sudah meninggal dunia bercerita kepadaku.
"Sebelum terjadi pembuahan, 300 juta sel sperma disemburkan ke
liang vagina. Dari 300 juta sel sperma itu, cuma satu saja bertugas
membuahi satu sel telur. Lainnya, adalah sel pembunuh dan sel
pelindung. Jadi, satu sel sperma itu berenang berdampingan dengan sel
pelindung; melindungi dirinya dari gempuran sel pembunuh. Sesederhana
itulah muasal perang dalam kehidupan manusia."
Oktober
2006 lalu, Komite Nobel mengumumkan pemenang Nobel Perdamaian.
Muhammad Yunus dan Bank Grameen. Lewat bantuan mahluk penghuni baru
di Bumi, internet namanya (dan tentu saja dari 'berselancar' ke
http://moyas.multiply.com), aku menemukan artikel wawancara Muhammad
Yunus dengan jurnalis Times Ishaan Tahoor. 2030, di Bumi berdiri
Museum Kemiskinan, pernyataan Muhammad Yunus. Ditelisik lebih jauh,
pemikiran itu sudah ada di dalam dirinya sejak 1990-an. Perdamaian
dan Pengentasan Kemiskinan.
Selesai membaca artikel itu, aku
mengaktifkan 'play' di tape recorderku. Mungkin, ini suatu kebetulan.
'Imagine there no country...' Jhon Lennon. Mendengarnya, imajinasiku
bertualang ke masa yang tak pernah kuada, masa perang Vietnam. Berapa
nyawa yang harus melayang, hingga 'Godlob' pun memberanikan diri
menghadirkan tokoh ayah yang tega membunuh anak kandungnya sendiri.
'Kepada setan pun tak kuminta hukuman seperti ini,' begitulah kata
akhir sang istri setelah menembak sang suami pembunuh putranya.
Di
cerita, fiksi pun dapat menjadi fakta. September-nya Noorca M.
Massardi. Terheboh, polemik Gunter Grass dan Nobel Kesusateraan yang
diterimanya.
Mengingat itu semua, aku kembali terkenang
percakapan dengan Homeros, yang sepengetahuan aku ada spekulasi yang
menyebutkan nama itu fiksi. Maksudnya, penulis sebenarnya dari Illiad
itu tidak diketahui; ada yang menyebut bahwa karya itu ditulis
beberapa penulis, ada juga yang menyebut karya itu ditulis oleh
seorang penulis; tapi, semua sepakat memakai Homeros sebagai
pengarang Illiad.
Malam hari, aku melihat rubrik desain di
salah satu harian berskala nasional, bagi orang Indonesia; dan bagi
orang luar negeri bisa berarti berskala internasional. Desain,
khususnya arsitektur selalu berkembang. Mulai dari bangunan kastil
yang kokoh, hingga museum futuristik di, kalau aku tak salah, di
Spanyol (ah..., namanya aku lupa.) Bagunan-bangunan itu, semacam
hiperbola yang muncul dalam keseharian. Untuk Indonesia, contohnya
'ruang publik' pedestrian tepat di seberang halte busway Bank
Indonesia.
Aku berpikir: sebagai manusia, tampaknya kita tak
lepas dari hiperbola. Menghadirkan fiksi dalam kenyataan. Demikian
juga pahlawan. Sebab sisa perang yang kutemui cuma kuburan.
"Apakah
keindahan itu harus tragis?" pertanyaan aku pada Homeros, yang
dia jawab dengan menghilang.
[Deif-Feil]
Thursday, 26 October 2006
benang magenta
| Start: | Nov 5, '06 11:00a |
| End: | Nov 5, '06 2:00p |
| Location: | sekolah tinggi ilmu statistik|jalan otista no. 64, jatinegara, jakarta timur |
kau
bayangkan
sebelumnya
Wednesday, 18 October 2006
PARENTAL ADVISORY: KEBODOHAN YANG TAK BOLEH BELAJAR
Lembaga Sensor Film (LSF). Alasannya, berdasarkan Koran Tempo edisi
Selasa 17 Oktober 2006, ada 9; diantaranya tidak bersesuaian dengan
norma kesopanan, menonjolkan adegan kekerasan dan kekejaman lebih dari
50 persen, hingga terkesan kebaikan dikalahkan kejahatan. Ketua LSF
Titie Said menambahkan pula dampak dari film itu. Menurut dia, film itu
dapat membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei
1998.
Persoalan tidak lulus sensor mengartikan satu hal pokok, yakni
ketidak-layakan tayang. Mengingat kata 'ketidak-layakan', saya
terkenang pernyatan Franz Magnis Suseno di tahun 2003, tentang etika.
Persoalan rumit itu disederhanakan menjadi satu kalimat sederhana:
tidak semua hal yang dapat dilakukan (baca: kebebasan) boleh dilakukan
(baca: tanggung jawab). Pencitraan praktis dari inti etika tersebut,
kira-kira: meski semua manusia berpotensi (baca: dapat) membunuh, tapi
kerja membunuh itu sendiri tidaklah layak dilakukan. Bila ditarik lebih
panjang, persoalan ini bermuara pada kebebasan bertanggung-jawab.
Seseorang dapat dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatan yang
dilakukan hanya bisa terlaksana apabila yang bersangkutan memiliki
kebebasan memilih tindakan.
Kembali ke soal film 'Pocong' yang berbiaya Rp3 miliar ini. Untuk
pertama kalinya, film ini haruslah dilihat sebagai salah satu mode
ekspresi kesenian, diantara sekian banyak mode ekspresi kesenian
lainnya, seperti sastra, suara, lukisan, teater dan lainnya. Dan, dunia
ekspresi kesenian ini pada dasarnya berlandaskan kebebasan atau semesta
probabilitas. Karena itu pulalah maka seniman memiliki keleluasaan
'boleh melakukan apa saja'. Namun, adanya keleluasaan ini tidak
mengandaikan bahwa seniman menihilkan soal etika dalam berkarya.
Seniman tetap memiliki standar etika, yang saya sebut dengan 'institusi
etika prifat'. Di dalam 'institusi etika prifat' inilah tersimpan mana
yang boleh dan tidak. "Institusi etika prifat' ini pulalah yang
memungkinkan Rudi Soedjarwo menghasilkan film 'Pocong'.
Keberadaan 'institusi etika prifat' didalam diri Rudi terbukti melalui
pembelaannya sendiri. Menurut Rudi--masih dalam artikel Koran Tempo
edisi Selasa 17 Oktober 2006--film Holywood dan tayangan televisi lebih
sadis dari film 'Pocong' yang ia buat. Tidak hanya itu. Film 'Pocong'
pun disebut Rudi memiliki pesan moral, yakni 'kita harus lebih takut
kepada manusia daripada kepada setan'. Pembelaan ini merupakan bentuk
pertanggungjawaban Rudi atas pilihan dan kebebasan ekspresi yang dia
miliki.
Memang, selama film 'Pocong' dibuat untuk konsumsi sendiri, keperluan
pribadi, maka tidak akan pernah ada masalah muncul. Tapi, ketika film
ini hendak masuk ke ruang publik, masalah timbul. 'Institusi etika
publik' menyaring hasil 'institusi etika prifat'. Kategori layak atau
tidak pun bermain.
Dari perspektif ini, terlihat jelas bahwa LSF berposisi sebagai
'institusi etika publik'. Lembaga ini menyaring hasil kerja Rudi
bersama rumah produksi Sinemart. Proses seleksi yang membutuhkan waktu
dua minggu dilakukan tiga tahap, dari kelompok pertama ke pelaksana
harian lalu ke pelaksana harian plus yang berisi agamawan, budayawan,
Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Untuk kehati-hatian ini, saya pribadi mengucapkan salut. Namun, hasil
akhir yang menyatakan bahwa film 'Pocong' tidak layak tayang,
jelas-jelas menyakitkan.
Tentu saja, 'institusi etika prifat' milik Rudi beserta Sinemart
terlebih dahulu tersakiti. Dan, bisa jadi beberapa personal di LSF,
misalnya Titie Said pun bersedih; sebab menurut dia kualitas
sinematografi, pencahayaan, akting dan dialog fim tersebut tergolong
'oke'. Selain mereka, saya pun merasa tersakiti. Dan, dengan menyadari
dasar keberadaan LSF adalah hak sosial individu yang dilimpahkan ke
negara, maka rasa tersakiti itu pun semakin menusuk. Dengan kata lain,
saya sebagai individu yang telah melimpahkan hak sosial ke negara
dengan kesadaran sendiri mengambil pisau dan menyayatkannya ke tubuh
saya sendiri. Ya, putusan LSF adalah putusan saya sendiri untuk
menghujamkan belati ke pembuluh nadi saya.
Disinilah keberatan dan ketidaksetujuan saya atas putusan LSF itu.
Menurut saya, putusan 'institusi etika publik' LSF melabelkan satu hal
ke 'institusi etika prifat' yang dimiliki tiap individu, yakni
kebodohan. LSF dengan kekuasaannya mengklaim bahwa publik yang bakal
menikmati film ini adalah sekumpulan orang bodoh-tolol yang tidak
memiliki standar etika. Dan karena itu, satu film Rudi
Soedjarwo--perkiraan saya berdurasi maksimal dua jam--mampu meracuni
khalayak penonton untuk berbuat kekerasan dan kekejaman seperti yang
ditampilkan film tersebut. 'Institusi etika prifat', khususnya saya,
dicap bodoh-tolol oleh LSF 'institusi etika publik'. Betapa, hak sosial
yang saya berikan kepada LSF ternyata telah disalah-gunakan dengan
merenggut kebebasan milik saya untuk menilai apa dan bagaimana film
'Pocong' itu.
Selain itu, hal lain yang menyinggung adalah dugaan bahwa film 'Pocong'
dapat 'membangkitkan luka lama dan dendam akibat peristiwa berdarah Mei
1998'. Kalimat yang disuarakan Titie Said, bagi saya naif. Dugaaan atau
kekhawawtiran atau ketakutan dalam pernyataan itu menyiratkan dua hal.
Pertama, 'kita' harus melupakan tragedi; Kedua, 'kita' harus hidup
damai tanpa 'luka lama dan dendam...' Saya secara pribadi menyakini
bahwa siratan pertama bukanlah pilihan posisi bagi seorang yang bernama
Titie Said, yang menurut saya, mampu merasakan derita yang dialami
korban tragedi itu. Ketua LSF ini pastilah bermaksud pada siratan
kedua, yakni 'luka lama dan dendam...' itu harus diselesaikan hingga
'kita' dapat hidup damai bersama.
Disitulah letak kenaifan LSF. Sebab, dampak tragedi Mei 1998 bukanlah
terletak di dalam film, melainkan di kenyataan itu sendiri. Apakah
Indonesia memang sudah menuntaskan sejarah kelam bangsa yang selalu
mengagungkan nilai ramah tamah dan sopan santun ini?
Di sisi lain, dugaan atau kekhawatiran atau ketakutan LSF itu ternyata
membongkar pola pikir 'institusi etika publik' ini. Melalui dugaan itu,
saya pun dapat melihat apa dan bagaimana film di mata 'institusi etika
publik' ini. Film bagi 'institusi etika publik' ini berada di atas
kenyataan. Dan pola pikir inilah yang berusaha 'mereka' suntikkan ke
kepala 'institusi etika prifat' yang kadung dicap bodoh-tolol. Film
melebihi kenyataan! Menurut saya, ini pola pikir yang salah. Seharusnya
'institusi etika publik' ini mempromosikan ide bahwa film merupakan
sub-ordinat kenyataan. Jadi, sebagus apa pun film yang dibuat,
tetap saja kenyataan yang menempati posisi teratas.
Apakah putusan LSF ini bisa dibatalkan atau tidak--seperti perubahan
keputusan dari meluluskan menjadi menarik dari peredaran film 'Buruan
Cium Gue!' yang dikarenakan desakan 'institusi etika
prifat'-yang-memublik*--wallahuallam, saya tidak bisa memastikan. Yang
pasti, setidaknya hingga saat ini, 'institusi etika publik' menegaskan
bahwa 'institusi etika prifat' cuma berisi kebodohan, ketololan, tolol bakero belaka!
Bila sudah begini, kodrat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dengan
derajat tertinggi (baca: memiliki akal budi) diantara semua mahluk
ciptaan-Nya pun menjadi semakin didangkalkan. Dan, jika memang benar
'institusi etika prifat' berintikan kebodohan, apakah saya, yang bodoh
ini, memang tidak berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jika memang
benar demikian, saya terpaksa mengacuhkan keberadaan 'institusi etika
publik' yang menyebalkan seperti, maaf LSF cuma salah satunya saja di
Indonesia yang susah dicinta ini.
*: Saya sendiri tidak sependapat dengan desakan dan putusan menarik
film 'Buruan Cium Gue!' dari peredaran; sebab ide ini lagi-lagi cuma
menegaskan pelabelan 'institusi etika prifat' yang bodoh-tolol. Dan
'insitusi etika prifat'-yang-memublik cumalah kesemuan belaka, sebab
itu menjadi tirani 'institusi etika publik' semata.
--David Tobing--
Tuesday, 26 September 2006
Hikayat Pithecanthropus di Era Informasi
Suatu ketika, sepasang manusia, lelaki dan perempuan, berjalan
telanjang di sebuah taman. Demikianlah ujar hikayat, yang hingga
sekarang tak bosan dipertanyakan, siapa mereka, taman macam apa, dan
mengapa mereka bisa bertelanjang segala? Tapi, hingga ber-mileu
berlalu, jawaban pasti tak ketemu. Sedang hikayat, hidup selalu.
Satu buku teori menyebutkan, tiga syarat negara. Ada wilayah, ada
penduduk, dan ada pemerintahan. Lalu, bagaimana pula jadinya ketika
negara itu penduduknya mati semua. Atau, kalau mau lebih jelas 200 juta
lebih warga negara indonesia mati semua, apakah negara itu ada? Atau,
bagaimana pula bila muncul gempa bumi pun tsunami dahsyat yang
menghapuskan daratan kepulauan indonesia, apakah negara ada? lalu, dari
mana indonesia dan segala bentuk pemerintahan itu berasal? Kira-kira
begitulah pertanyaan yang muncul usai membaca buku teori yang rasanya
sudah lapuk dan tak berarti itu.
Miles Davis berkata, kira-kira, "Tak perduli aku apa tanggapan orang.
Yang penting, aku nikmati tiap nada yang kumainkan." Lalu, seorang
penyair datang kepada pakar fisika kuantum. "Apakah fisika mengenal
metafora?" tanya penyair pada pakar fisika kuantum. Dia menjawab
sederhana, "Aku cuma tahu, cara menjabarkan reaksi pemecahan uranium di
papan." Lalu, penyair itu bertanya, "Dimana metaforanya?" Pakar fisika
kuantum itu cuma bisa menjawab, "Aku tidak tahu kau mau jawaban apa?"
Tak lama kemudian, perdebatan itu pun muncul sebagai berita utama di
halaman koran kota-kota terkemuka.
Suatu hari, aku dengan temanku berdebat. Atas dasar apa kita
mempercayai sejarah? Aku menjawab: Keterikatan emosional. Temanku
menjawab: Karena hal itu memang benar telah terjadi. "Sekalipun itu
sudah terjadi, tanpa keterikatan emosional, sejarah itu tidak akan
tercatat dan diketahui," jelas aku. "Demikian juga, karena kedekatan
emosional, maka yang salah pun jadi benar. Sejarah jadi hilang. Begitu
'kan maksudmu?" balas temanku tak kalah garang. Setelah puas berucap,
kami pun pulang, tanpa bertanya: Buat apa ada sejarah?
Dan, malam pun tiba. Hikayat kembali dilanjutkan kepada kanak-kanak,
tentang sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, asal mula negara,
kata-kata Miles Davis, juga percakapan penyair dengan pakar fisika
kuantum, hingga akhirnya, semua orang berkata : "Sudah malam. Saatnya
tidur. Besok masih banyak yang harus kalian lakukan."
[Deif-Feil]
Monday, 18 September 2006
Ketika Paus Mulai Vokal, Lumba-lumba Menyelamatkan Konsonan (Gunther Grass Yang Fakta dan Karyanya Yang Fiksi)
Paus:
Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...IIIIIII
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
IIIIIIIII
IIII
II
I
I
I
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
Paus:
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...AAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAA
AAAAAAA
AAAA
AA
A
A
A
Lumba-lumba:
(ada konsonan yang terlupa, apakah Paus lupa atau sedang luka, kasihan dia)
Masa Depan Indonesia: Integritas atau Ambiguitas (spaduk di organisasi pemuda di Salemba), ada yang bisa bantu menjelaskannya?
Paus (...$A¥A diulang-ulang 1000kali):
IIIIIIIIIIIIiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiIIIIII
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Lumba-lumba:
(Maaf, belum kutemukan tafsirnya di Wikipedia, sejak ada aksara sampai
sekarang, Hmmm sedang apa Paus disana, ada apa juga di Indonesia-dimana
pula konsonan?
Hmmm kejutan yang aneh)
Dami N Toda dalam Kompas Minggu (17/09/06) menulis tentang Gunther
Grass yang FAKTA dan karyanya yang FIKSI. Dalam balutan waktu mana
Gunther Grass kini hadir, sebagai seorang mantan prajurit Waffen-SS
atau seorang perenung moral yang Nobel?
Sejauh mana sejarah menjadi fakta dan tulisan sejarah yang jadi karya
fiksi di Indonesia yang katanya negara totaliter [itu dulu, sekarang
negara partikelir-cari di Wikipedia Humor) karya fiksi merupakan
ujaran-ajaran yang mengandung kebenaran sejarah, dan masa lalu membunuh
masa depan, bukan karena aktualitasnya namun karena ujaran-ajaran,
tokoh-dan penokohan, selalu ragu-ragu di mata para pemeluk teguh-fiksi
apa yang dia baca sehingga jadi fakta begitu rupa. Kata kawan di kedai
nalar ternyata terbatas! Menalar fiksi apalagi. Lantas apa kaitan
transedensi pernyataan ‘Kehormatanku berati Setia (pada Hitler)motto
waffen-SS, Hidup Mulia atau Mati Sahid (Hamas-Palestina), Pada Tuhan
Aku Percaya (uang dollar Amerika-Indonesia gagal melakukan copycatnya
di lembaran uang), Avoda Ivrit (bekerja sendiri jangan upah orang untuk
melakukannya-Slogan Israel ketika menjejak kaki pertama kali ke tanah
Palestina).
Masa lalu membunuh masa depan. Waktu bekerja untuk siapa saat ini. Juga
Tuhan yang katanya cuma satu berbeda nama. Masa depan kemudian
kerasukan masa lalu-yang disebut keabadian, ada dimana-perenungan: pada
kemuliaan, kerja keras, kesetiaan, kepercayaan, atau biarkan bergeming
bingung layaknya Bhinneka Tunggal Ika. Mungkin kita butuh baca fiksi
lebih banyak lagi, temukan nada vokal yang sumbang pendapat (bukan
pendapat sumbang) tanpa harus kehilangan konsonan.
widhy | sinau
Friday, 1 September 2006
Demokrasi, Pisau Galileo dan Kepergian Pluto
Negara itu tidak ada gunanya meskipun engkau berkata: Sesekali, kita pun perlu bertanya kepada Yang Maha Kuasa, dimanakah selayaknya Pluto kita letakkan. Jadi, buat apa ada demokrasi, dan mengapa pula tidak ada politisi yang pernah mati bunuh diri? Karena itu : The Beatles=Liverpool=Inggris, Soneta=Rhoma Irama=Indonesia, The Doors=Jim Morrison=Amerika, Bob Marley=Reggae=Jamaica. Negara masih berguna! Tapi, perlu juga dibentuk fens klub. Tidak usah ada partai kalau begitu. Ada atau tidak ada itu tidak masalah.
Sekali waktu, pernah aku bercakap dengan seseorang diantara seorang yang berjalan dari masa ke masa di depan emperan toko di kaki lima sangatlah ramai sekali orang-orang berseliweran: Mau kemana? Dia cuma melihat dan berkata: Biarkan saja.
Di saat engkau berjalan di planet-planet, lalu berjalan diantara galaksi-galaksi, maka dimanakah aku engkau temui? Bukankah engkau akan bertemu aku di depan emperan toko tempat orang berlalu-lalang, tapi tak pernah mengetahui kemana demokrasi itu pergi. Jadi, kalau engkau hendak berbelanja, harus pergi pagi-pagi sekali, agar bebas memilih. Kalau pemilu dilakukan pukul 09.00, maka di waktu subuh, hasil perhitungan berapa biaya yang dikeluarkan sudah diketahui. Tak perlu bawa uang yang banyak, cuma seperlunya saja. Jangan terlalu banyak pula berdoa ketika berjalan-jalan di galaksi, sebab asteroid yang melayang itu seperti bajaj. Kadang berbelok atas perintah abang pengemudi. Setelahnya, engkau pun terjatuh, melihat aku membeli dua ekor ikan yang menjadi korban ranjau darat.
Seperti Galileo yang mencari aku, dia menemukan wujud pasti dalam ketakpastian. Karena dunia ini adalah probabilitas, eksperimen selalu terjadi. Kalau memang tepat guna, tak ada salah. Kalau tidak tepat, maka ada yang bunuh diri, ada juga yang melarikan diri. Masalahnya, semua itu perlu dibuktikan. Kalau pun tidak berbukti, jangan salah tanggap. Probabilitas itu nantinya menjadi suatu kepastian bahwa pergerakan acak asteroid itu tergantung kemacetan yang terjadi. Makanya, diperlukan beribu-ribu jalur busway untuk mengatasi keterlambatan jam kerja. Jadi, buat apa membeli mobil?
Sesekali, buatlah satu puisi. Meski cuma satu-dua baris dengan satu-dua kata, itu tidak jadi soal.
Note: Ini tulisan sesat!
[Deif-Feil]